Brian Putra Bastara sedang memaparkan materi tentang Digitalisasi Marketing dalam acara HIPMI Talks di Gedung Convention Hall Unand, Rabu (24/11/2021). (Genta Andalas/ Geliz Luh Titisari)

Perkembangan digital yang begitu pesat menuntut manusia dapat berubah menyesuaikan diri mengikuti arus. Tak heran, meningkatkan diri agar tidak tenggelam dalam perkembangan arus menjadi suatu keharusan. Hadirnya Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) menunjukkan peran manusia saat ini sudah mulai diambil alih oleh teknologi. Hal ini diungkapkan oleh Brian Putra Bastara, Ketua Umum BPD HIPMI Sumbar dalam acara HIPMI Talks yang diselenggarakan di Gedung Convention Hall Universitas Andalas (Unand), Rabu (24/11/2021).

“Perubahan itu tidak bisa dihindari, jika kita tidak siap maka akan menjadi ancaman. Akan tetapi ketika kita siap, hal ini akan menjadi landasan pacu untuk terus berkembang,” jelas Brian.

Brian memperkenalkan istilah VUCA untuk situasi yang ada saat ini. Pertama, Volatillity yakni perubahan yang pesat sehingga menuntut kecepatan manusia dalam berpikir untuk meresponnya. Kedua, Uncertainty yang merupakan situasi yang tidak seimbang antara informasi yang banyak namun sinyal yang sedikit sehingga sangat sulit memilah hal yang benar. Ketiga,  Complexity atau kerumitan suatu masalah dan akibat yang terjadi secara beruntun dan saling mempengaruhi. Terakhir, Ambiguity atau ambiguitas yang merupakan situasi yang memiliki presepsi dan penafsiran yang banyak.

Lebih lanjut, menurut Brian masalah yang dihadapi di zaman serba digital adalah masih ditemukannya masyarakat yang gagap teknologi (gaptek). Hal ini membuat masyarakat tersebut akan tertinggal jauh dengan perubahan zaman.

“Ketika waktu sekarang masih tersedia untuk mempersiapkan perubahan di era digital saat ini, maka manfaatkanlah sebaik mungkin dengan terus bertindak dan mengevaluasi diri. Berdiam diri hanya membuat kita akhirnya tergerus oleh arus perubahan yang makin menggila,” jelas Brian.

Selanjutnya Kepala Balai Latihan Koperasi, Erman menyebutkan pola pikir masyarakat Indonesia dalam berwirausaha harus diubah.

“Kalahnya Indonesia dalam produksi barang adalah  hanya memasok dan menyediakan barang mentah. Ditambah lagi perilakunya yang sangat konsumtif terhadap produk jadi buatan luar,” jelas Erman saat menyampaikan materi.

Erman berharap Indonesia dapat memanfaatkan potesi alam Indonesia yang sangat menjanjikan di masa depan. Menurutnya, Indonesia dapat lebih maksimal dalam mengolah bahan mentah tersebut menjadi bahan olahan sehingga memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan mampu bersaing dengan pasar luar negeri.

 

Reporter: Geliz Luh Titisari dan Riski wahyudi

Editor: Natasya Salsabilla Festy

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here