• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Minggu, 31 Agustus 2025
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
Home Gentainment Karya Calon Anggota

Tradisi Marosok, Ketika Menawar Dijaga Kerahasiaannya

oleh Redaksi
Kamis, 28 April 2022 | 21:44 WIB
di Karya Calon Anggota, Khasanah Budaya, Sastra dan Budaya
0
ShareShareShareShare
(Foto: ilustrasi Genta Andalas)

Oleh: M. Naufal Al Farisi*

Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dan tradisi yang beragam. Sumatra Barat menjadi salah satu diantara banyaknya daerah di Indonesia yang masih memiliki budaya yang kental. Salah satu warisan budaya tak benda yang dimiliki Sumatra Barat adalah tradisi Marosok. Tradisi Marosok merupakan tradisi unik yang bisa ditemukan di Kabupaten Tanah Datar, Kota Payakumbuh, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Solok, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Lima Puluh Kota.

Tradisi Marosok kerap dilakukan masyarakat ketika membeli hewan ternak, dan biasanya ramai dilakukan menjelang perayaan Idul Adha. Adapun kata “Marosok” sendiri jika diartikan dalam bahasa Indonesia ialah meraba, menyentuh, memegang tanpa memberikan sepatah kata, hanya berbalas dengan otak dan perasaan. Sesuai dengan namanya, tradisi ini dilakukan jika si pembeli keberatan dengan jumlah harga yang dipatok si penjual.

Transaksi tersebut dijaga kerahasiaannya karena pembeli dan penjual menggunakan bahasa isyarat di tangan mereka yang ditutup oleh kain sembari bersalaman. Pembeli hanya memberikan kode di tangannya dan penjual akan menggeleng dan mengangguk sebagai kode bahwa ia setuju atau tidak.

Salah satu penjaga peternakan sapi, Edo, mengatakan tradisi Marosok merupakan saat dimana harga ternak menjadi seimbang. “Marosok ini menentukan harga sapi. Jadi berapa anggarannya disitulah akan dijawab dalam tradisi Marosok,” jelas Edo saat diwawancarai Genta Andalas.

Edo juga menjelaskan alasan mengapa tradisi Marosok harus dilakukan. Menurutnya harga hewan ternak tidaklah sama. Agar bisa dijaga kerahasiaan penetapan harga antara penjual dan pembeli, maka tradisi Marosok bisa menjadi solusi. “Marosok ini dilakukan agar kawan sebelah kita tidak mengetahui harga ternak. Jadi tangan yang ada di dalam sarung akan mengode harga dan tangan yang satu lagi akan membalas harga tersebut,” jelas Edo.

Sampai saat ini tradisi Marosok masih dapat dijumpai. Selain dapat merahasiakan proses tawar menawar, tradisi ini juga dapat mengurangi persaingan pasar dan menciptakan perdagangan yang sehat.

*Penulis merupakan Mahasiswa
Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Andalas

BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Kuliah, Kerja, dan Harapan: Kisah Mahasiswa UNAND Bertahan untuk Mandiri

Kuliah, Kerja, dan Harapan: Kisah Mahasiswa UNAND Bertahan untuk Mandiri

Sabtu, 30 Agustus 2025 | 10:16 WIB
Kebebasan Akademik Terancam di Kampus

Kebebasan Akademik Terancam di Kampus

Kamis, 28 Agustus 2025 | 15:10 WIB
UNAND Resmi Buka Prodi Arkeologi, Satu-satunya di Sumbar

UNAND Resmi Buka Prodi Arkeologi, Satu-satunya di Sumbar

Kamis, 28 Agustus 2025 | 14:16 WIB
Tabut Bengkulu dan Tabuik Pariaman: Satu Sejarah Karbala, Dua Ekspresi Budaya Nusantara

Tabut Bengkulu dan Tabuik Pariaman: Satu Sejarah Karbala, Dua Ekspresi Budaya Nusantara

Senin, 25 Agustus 2025 | 14:22 WIB
Komunitas Kucing UNAND dan Mister Puss Gelar Aksi Street Feeding

Komunitas Kucing UNAND dan Mister Puss Gelar Aksi Street Feeding

Senin, 25 Agustus 2025 | 13:15 WIB
Mendaki Gunung: Antara Eksistensi dan Keselamatan

Mendaki Gunung: Antara Eksistensi dan Keselamatan

Senin, 18 Agustus 2025 | 11:56 WIB

TERPOPULER

  • Komah Hadir di Kampus, Customer Meningkat Pesat

    Komah Hadir di Kampus, Customer Meningkat Pesat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Komunitas Kucing UNAND dan Mister Puss Gelar Aksi Street Feeding

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • UNAND Resmi Buka Prodi Arkeologi, Satu-satunya di Sumbar

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kebebasan Akademik Terancam di Kampus

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabut Bengkulu dan Tabuik Pariaman: Satu Sejarah Karbala, Dua Ekspresi Budaya Nusantara

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

Genta Andalas © 2025

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak