• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Minggu, 31 Agustus 2025
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
Home Berita Feature

Mengenal Sosok Buya Hamka dari Museum Kelahiran Buya Hamka

oleh Redaksi
Rabu, 14 April 2021 | 20:07 WIB
di Feature
0
Seorang pengunjung sedang mencuci tangan sebelum memasuki Museum Kelahiran Buya Hamka, Selasa (14/4/2021). (Genta Andalas/Suhada Tri Marneli)

Seorang pengunjung sedang mencuci tangan sebelum memasuki Museum Kelahiran Buya Hamka, Selasa (14/4/2021). (Genta Andalas/Suhada Tri Marneli)

ShareShareShareShare

Oleh : Suhada Tri Marneli*)

Seorang pengunjung sedang mencuci tangan sebelum memasuki Museum Kelahiran Buya Hamka, Selasa (13/4/2021). (Genta Andalas/Suhada Tri Marneli)

Berkunjung ke Danau Maninjau kurang lengkap rasanya jika tidak singgah ke Museum Kelahiran Buya Hamka yang terletak di sekitaran tepi Danau Maninjau, tepatnya Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Perjalanan menuju Museum Kelahiran Buya Hamka jika dari Bukittinggi akan melewati kelok 44 atau dari Pariaman akan melewati Lubuk Basung.

Ketika sampai di Rumah Kelahiran Buya Hamka, kita akan disuguhkan dengan bangunan Museum yang khas Minangkabau dan dari halamannya kita dapat menikmati keelokkan Danau Maninjau. Di masa pandemi Covid-19 saat ini, pengunjung diwajibkan memakai masker. Sebelum memasuki rumah kelahiran Buya Hamka pengunjung harus mencuci tangan serta menjaga protokol kesehatan selama berkunjung di Museum.

Salah seorang warga Maninjau, Diki menjelaskan bahwa Museum Kelahiran Buya Hamka umumnya dikunjungi oleh pelajar, mahasiswa, atau pun masyarakat umum. Tidak hanya itu Diki menambahkan bahwa tidak hanya dari Indonesia, pengunjung museum juga ada yang berasal dari Negeri Jiran Malaysia hingga Singapura.

“Pengunjung museum banyak juga yang berasal dari luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura,” jelasnya pada Selasa (13/4/2021).

Museum ini merupakan rumah masa kecil Buya Hamka sebelum pindah ke Padang Panjang dan Pulau Jawa. Dari tepian Danau Maninjau inilah lahir sosok Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang biasa kita kenal dengan nama Buya Hamka, ulama besar yang namanya dikenal hingga mancanegara. Buya Hamka dilahirkan pada 17 Februari 1908 dan wafat pada 24 Juli 1981 di Jakarta.

Potongan sejarah kehidupan Buya Hamka dari lahir hingga wafat dapat dilihat dari Museum ini. Di dalam Museum terdapat tempat tidur orang tua Buya Hamka, dimana disinilah dilahirkan sosok Buya Hamka yang namanya terkenal hingga saat ini. Selain tempat tidur, juga terdapat beragam foto yang menggambarkan kehidupan Buya Hamka. Mulai dari foto masa kecil, foto ketika menimba ilmu di Pulau Jawa, foto bersama istri dan anak-anaknya, hingga foto pengantaran jenazah Buya Hamka ketika menutup usia.

Pada sudut lain bangunan museum terdapat jubah-jubah yang digunakan Buya Hamka semasa hidupnya. Jubah tersebut tersimpan rapi di dalam lemari kaca museum. Di depan lemari kaca tempat jubah ini, terdapat meja dan kursi yang biasa digunakan oleh Buya Hamka semasa hidupnya. Bergeser sedikit ke kanan, kita akan menjumpai mesin ketik tua yang digunakan Buya Hamka untuk menulis.

Sosok Buya Hamka tidak hanya terkenal sebagai ulama, tetapi juga sebagai penulis, sastrawan, dan editor di beberapa surat kabar pada masanya. Bahkan nama singkatan Buya Hamka mulai dikenal ketika beliau menerbitkan Majalah Panji Masyarakat dengan nama Buya Hamka.

Buya Hamka telah menerbitkan ratusan buku, mulai dari buku agama, sastra, novel roman, hingga politik. Beberapa karya paling fenomel beliau yaitu Tafsir al-Azhar (5 jilid), Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, dan Di Dalam Lembah Kehidupan. Buku-buku ini dapat dilihat di Rumah Kelahiran, atau pun di Rumah Baca yang terletak di samping Museum.

*Penulis merupakan Mahasiswi Jurusan Agroteknologi 2018 Fakultas Pertanian Universitas Andalas

Label: buya hamka
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Kuliah, Kerja, dan Harapan: Kisah Mahasiswa UNAND Bertahan untuk Mandiri

Kuliah, Kerja, dan Harapan: Kisah Mahasiswa UNAND Bertahan untuk Mandiri

Sabtu, 30 Agustus 2025 | 10:16 WIB
Menapaki Jejak Kejayaan di Candi Muaro Jambi

Menapaki Jejak Kejayaan di Candi Muaro Jambi

Jumat, 1 Agustus 2025 | 11:23 WIB
Melintasi Jejak Alam Menuju Pesona Tiga Tingkat Lubuk Hitam

Melintasi Jejak Alam Menuju Pesona Tiga Tingkat Lubuk Hitam

Sabtu, 26 Juli 2025 | 22:01 WIB
Tradisi Kadaghek: Kerukunan Dalam Budaya Mengantar Jenazah Suku Minang di Tanjung Barulak

Tradisi Kadaghek: Kerukunan Dalam Budaya Mengantar Jenazah Suku Minang di Tanjung Barulak

Minggu, 30 Juni 2024 | 20:21 WIB
Menyusuri Keindahan Goa Kelelawar Padayo, Lubuk Kilangan

Menyusuri Keindahan Goa Kelelawar Padayo, Lubuk Kilangan

Sabtu, 29 Juni 2024 | 12:48 WIB
Keindahan Dinding Cadas Bukit Baka dan kolam Luak Gadang yang mempesona

Pesona Tersembunyi Bukit Baka Luak Gadang: Permata Alam di Kabupaten Agam

Sabtu, 22 Juni 2024 | 00:25 WIB

TERPOPULER

  • Komah Hadir di Kampus, Customer Meningkat Pesat

    Komah Hadir di Kampus, Customer Meningkat Pesat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Komunitas Kucing UNAND dan Mister Puss Gelar Aksi Street Feeding

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • UNAND Resmi Buka Prodi Arkeologi, Satu-satunya di Sumbar

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kebebasan Akademik Terancam di Kampus

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabut Bengkulu dan Tabuik Pariaman: Satu Sejarah Karbala, Dua Ekspresi Budaya Nusantara

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

Genta Andalas © 2025

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak