Beranda Berita

Unand dalam Pandangan Tiga Paslon Pemira

Tiga pasang calon presiden mahasiswa dan wakil presiden mahasiswa (capres dan cawapres) Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Andalas (BEM KM Unand).

gentaandalas.com- Pemilihan Raya (Pemira) yang diikuti oleh tiga paslon sebagai calon presiden mahasiswa (capresma) dan calon wakil presiden mahasiswa (cawapresma) Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Andalas (BEM KM Unand) memberikan pandangannya terhadap permasalahan-permasalahan yang ada di Unand saat ini.

Capresma paslon urut satu Ismail Zainuddin mengatakan bahwasanya permasalahan di Unand saat ini ditinjau dari aspek birokrasi kampus seperti rektorat sebagai pimpinan kampus serta masalah dari mahasiswa itu sendiri.

Permasalahan dengan pimpinan, menurut Ismail lebih kepada permasalahan komunikasi yang kurang jelas. Ditambah lagi, saat ini masih banyak mahasiswa yang kurang menyadari kewajibannya.

“Mahasiswa harus menjalin komunikasi yang baik sehingga kami mudah mengetahui informasi. Dulu dana di fakultas kurang lebih tujuh puluh persen, dana universitas tiga puluh persen, namun sekarang kebalikannya, dan BEM diberi tahu oleh salah satu dekan. Ini memang kadang ada beberapa yang ditutupi. Pimpinan sudah membuat satu keputusan, kadang mahasiswa baru tahu,” ujarnya.

BACA JUGA:  Minggu Tenang dalam Kacamata Mahasiswa

Ismail menginginkan adanya musyawarah antara pimpinan kampus dengan perwakilan mahasiswa agar suara-suara mahasiswa didengarkan. Selain itu, ia juga menginginkan adanya pergantian rektor serta adanya survei untuk mengumpulkan suara mahasiswa.

“Mahasiswa ingin rektor seperti apa dan ingin Unand ke depannya seperti apa?,” katanya.

Capresma nomor urut dua, Dede Hasgar lebih menekankan permasalahan yang ada di Unand saat ini dari segi birokrasi yang masih banyak berbelit-belit dan tidak ada sistematis yang jelas, Selasa (6/11/2018).

“Misalnya gedung kuliah atau UKT. Ketika mahasiswa ingin melakukan banding UKT, tidak mengetahui jalurnya seperti apa. Jika sistem birokrasi sudah bagus, mahasiswa yang mau banding UKT udah dijelaskan dari tahap A sampai Z, sehingga mahasiswa tidak bingung lagi kemana mau mengadu, dan apa saja persyaratannya. Saat ini kejelasan tersebut yang belum ada,” ujarnya.

BACA JUGA:  Festival Sumarak Tradisi Minangkabau

Permasalahan ini, menurut Dede dapat diselesaikan melalui reformasi birokrasi kampus serta adanya kolaborasi seluruh KM Unand. Menurutnya, untuk “mendobrak” meja pimpinan tidak bisa hanya dilakukan oleh segelintir mahasiswa. Hal ini karena permasalahan dan keresahan tersebut adalah milik bersama.

Muhammad Ismail Syahputra, capresma nomor urut tiga juga mengatakan birokrasi di Unand saat ini menjadi permasalahan. “Birokrasi saat ini lebih mempersulit mahasiswa, misalnya saja proposal yang sangat sulit untuk ditembus. Kemudian alur-alur peminjaman tempat lebih sulit lagi,” ujarnya saat diwawancarai kru Genta Andalas, Jumat (9/11/2018).

Permasalahan birokrasi ini, menurutnya harus segera diselesaikan dengan cara kawal pergantian rektor. “Kami bisa berdiskusi antar pimpinan, kami akan pimpin mahasiswa dengan pimpinan birokrasi itu sendiri. Kami juga berusaha untuk masuk ke sistemnya dan ikut andil dalam pemilihan rektor itu,” katanya.

Reporter: Anjasman Situmorang dan Nisa Ulfikriah

Editor: Pitnia Ayu Saputri

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here