Selasa, 19 September 2017

Home » Sastra dan Budaya » Khasanah Budaya » Tradisi Pulang Kampung Bersama

Tradisi Pulang Kampung Bersama

Oleh: Anisa Hamidi

30 Desember 2016 - 11:48 WIB Kategori: Khasanah Budaya 0 Komentar A+ / A- Dilihat: 212 Kali

khasanah-budaya-fix“Karatau madang dahulu, babuah babungo balun,

Marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun”

“Lebih baik merantau bujang (anak muda) dulu, karena di kampung belum berguna,” itulah arti pepatah atau pantun masyarakat Minangkabau tersebut. Makna pepatah ini memacu sebagian masyarakat Minangkabau untuk pergi merantau sedari muda, pergi ke negeri lain untuk mencari pekerjaan, ilmu dan pengalaman. Ia ingin mendapatkan kehidupan layak di negeri orang, tanpa memedulikan kehidupan yang akan dialami di perantauan. Apakah senang, bahagia atau malah sengsara. Ia berkeyakinan, perubahan pasti terjadi bila meninggalkan kampung halamannya.

Merantau juga merupakan proses interaksi masyarakat dengan dunia luar. Kegiatan ini menjadikan sebuah petualangan pengalaman dan geografis, dengan meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di negeri orang. Berbeda dengan proses transmigrasi yang diprogramkan serta dibiayai oleh pemerintah. Mereka merantau dengan kemauan dan kemampuan sendiri.

Jika mereka telah dikategorikan sukses dalam jangka waktu tertentu, maka barulah ia berani pulang ke kampung halamannya, yang telah lama ditinggalkan. Tidak jarang pula mereka tidak pulang selama-lamanya dengan fenomena Merantau Cina. Kebanyakan para perantau adalah kaum lelaki. Karena mereka lebih berani pergi ke negeri orang dengan sendiri daripada perempuan. Mereka juga mengandalkan istilah di mano bumi dipijak di situ langik dijunjuang (di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung) ketika berada di negeri orang.

Para perantau yang pulang ke kampung halamannya, biasanya akan menceritakan pengalaman kepada anak-anak muda di kampung, ketika ia berkunjung ke surau-surau, atau bercerita di warung-warung, sehingga menimbulkan daya tarik bagi anak-anak muda di kampung untuk pergi merantau. Mereka bercita-cita, ingin seperti perantau yang dianggapnya sukses itu. Bahkan ketika mereka kembali ke rantau tak tanggung-tanggung membawa saudara ikut serta dengan mereka sehingga menambah padatnya kota perantauan. Namun ada juga di antara mereka pulang kampung kemudian tidak kembali lagi ke rantau dengan berbagai alasan.

Tradisi bagi para perantau melakukan pulang kampung secara bersama-sama. Pulang kampung adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh para perantau. Dimana mereka meninggalkan pekerjaan dan hiruk-pikuk kota dengan mendapatkan suasana yang damai juga mengenang masa-masa indah ketika di kampung. Bahkan diantara mereka yang pulang kampung sudah ada yang berkeluarga. Sejauh mana pun para perantau meninggalkan kampungnya, bila teringat akan pulang juga. Seperti dalam pantun,

Setinggi-tinggi terbangnya bangau

Pulangnya ke kubangan juga

Sejauh-jauh kita merantau

Akan pulang ke kampung juga

Para perantau biasanya telah pergi merantau sejak usia belasan tahun, baik sebagai pedagang maupun sebagai pencari ilmu. Sebagian besar masyarakat beranggapan merantau merupakan sebuah cara ideal untuk mencapai kematangan dan kesuksesan. Dengan merantau tidak hanya harta kekayaan dan ilmu pengetahuan yang didapat, juga kehormatan individu di tengah-tengah lingkungan masyarakat

Para perantau yang tinggal di satu kota, mereka cenderung membuat organisasi. Dengan berorganisasi mereka lebih mengetahui orang-orang yang sekampung dengan dia di perantauan. Jika kita mengetahui saudara kita di perantauan, kita bisa bersalang tenggang dengannya. Dalam berorganisasi mereka juga mengadakan acara antar sesama. Seperti membuat kelompok arisan, bakti sosial, mengadakan acara pulang bersama ketika lebaran dan masih banyak lainnya. Dengan berorganisasi mereka juga lebih erat menjalin silaturrahmi antar sesama.

Organisasi yang mereka buat, contohnya yang ada di kabupaten Solok, seperti SAS (Sulit Air Sepakat), KMSP (Kelompok Masyarakat Sumani Perantau), IKC (Ikatan Keluarga Cupak) dan lain-lain. Organisasi ini kebanyakan merantau di ibu kota Indonesia yaitu kota Jakarta. Organisasi SAS selalu mengadakan acara pulang bersama setiap tahunnya. Di antara mereka ada yang pulang memakai kendaraan roda empat, seperti mobil pribadi, bus besar dan kendaraan roda dua. Bersepakat dari Jakarta untuk pulang secara serempak. Mulai dari Jakarta sampai di kampung, tidak ada yang terpisah. Jika ada yang tertinggal jauh, pasti ada yang menunggunya. Begitulah jika orang telah kita anggap sebagai saudara. Seperti anggota tubuh, yang satu merasakan sakit, semua terlibat tidak bisa bergerak.

Setibanya di kampung, sama-sama merasakan suka cita yang mendalam, baik perantau maupun warga kampung yang ditinggalkan. Melihat mereka yang baru pulang dari Jakarta dan melihat keluarga yang mereka tinggalkan. SAS, ketika pulang kampung, tidak hanya beberapa kendaraan. Melainkan selalu banyak kendaraan yang yang melaju di jalan raya. Biasanya 12 bus besar, diiringi dengan ratusan mobil pribadi dan kendaraan roda dua. Bahkan dikawali dengan mobil polisi saking ramainya. Bagi mereka yang sudah berkeluarga dianjurkan untuk menggunakan mobil. Karena lebih mengedepankan keselamatan anak, apalagi yang memiliki anak kecil bahkan balita.

Alasan mereka pulang kampung bukan hanya sekadar kangen dan hura-hura. Melainkan juga membangun negeri ke arah yang lebih baik lagi. Seperti menyumbang untuk keperluan swadaya masyarakat. Biasanya mereka membuat sebuah acara untuk membuat hati riang dan di saat seperti itulah bisa dikumpulkan guna untuk membahas kekurangan yang ada di kampung. Ada yang berupa materi dan ada juga yang non materi.

Acara yang didirikan tidak terlepas dari tanggung jawab para petinggi kampung. Bahkan acara yang didirikan tidak hanya untuk memuaskan hati semata dan menambah pengalaman. Seperti bagaimana menegakkan acara di kampung sendiri dengan melibatkan orang-orang yang tidak semuanya sederajat dengan kita. Pelajaran bagi kaum muda untuk mengetahui dari para tetua dalam hal apapun. Bagaimana berbicara dengan orang yang lebih besar dari kita dan sama-sama menghargai. Dalam perayaan tersebut juga tidak dilupakan kesenian akan kebudayaan negeri. Menampilkan kesenian anak negeri dan memberikan apresiasi kepada mereka agar tetap mempertahankan dan mengajarkan kepada keturunan selanjutnya agar tidak hilang ditelan zaman.

Lebaran merupakan salah satu waktu penghasil ekonomi terbaik bagi para pedagang. Karena para perantau membawa uang banyak untuk memuaskan hatinya selama berlibur di kampung halamannya. Tidak hanya kepuasan diri yang diutamakan, keluarga juga tidak dilupakan. Mencari ide-ide kreatif ketika lebaran, bisa menambah kekayaan. Karena pada zaman sekarang ini, yang dibutuhkan adalah kekreatifan seseorang untuk membuat hasil karya cipta yang baru. Orang-orang rantau ketika telah pulang kampung kebanyakan ingin pergi berlibur saja. Ke manapun asal bisa ditempuh. Dengan membawa keluarga menambah semaraknya suasana.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Sastra Daerah Minangkabau

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Andalas

Tradisi Pulang Kampung Bersama Reviewed by on . “Karatau madang dahulu, babuah babungo balun, Marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun” “Lebih baik merantau bujang (anak muda) dulu, karena di kampung bel “Karatau madang dahulu, babuah babungo balun, Marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun” “Lebih baik merantau bujang (anak muda) dulu, karena di kampung bel Rating: 0

Permalink : https://wp.me/p52sAd-3tE

Tinggalkan Komentar

scroll to top