(Genta Andalas/ Geliz Luh Titisari)

Oleh: Icha Putri dan Dian Fitri Yova*

Sejumlah mahasiswa jalur mandiri Unand angkatan 2021 yang tidak lolos Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), terancam berhenti kuliah karena permasalahan biaya. Hal ini disebabkan tingginya biaya kuliah yang harus dibayarkan pada semester genap 2022.

Tagihan dinilai memberatkan ketika pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) semester 1 dan 2 serta uang Pembangunan Institusi (PI) harus dibayarkan bersamaan dengan jumlah yang besar pada periode pembayaran UKT Februari ini.

Muhammad Fajri, mahasiswa jalur mandiri Jurusan Ilmu Ekonomi yang tidak lolos KIP-K mengaku tidak sanggup jika harus membayar UKT sebanyak 6 juta rupiah per semester dan PI 15 juta rupiah.

“Total tagihan saya semester ini sebanyak 27 juta rupiah, sedangkan ayah saya hanya seorang petani sawit dengan penghasilan tidak menentu, kurang lebih 1 juta rupiah sebulan,” ungkap Fajri saat diwawancarai Genta Andalas via telepon pada Senin (7/2/2022).

Berhasil lulus sebagai mahasiswa di kampus unggul seperti Unand, menjadi suatu kebanggaan bagi Fajri dan keluarga. Namun, kesenangan itu pudar ketika biaya kuliah mengancam keberlanjutan perkuliahannya bahkan berimbas pada IP semesternya.

“Soalnya tiap malam selalu kepikiran. Saya mohon keringanan dari Unand, sebab orang tua dan saudara saya sudah senang saya kuliah di Unand. Ketika dapat informasi seperti ini, membuat saya berfikir untuk berhenti kuliah,” ungkapnya.

Meski hasil kelulusan sudah dikeluarkan sejak November 2021, namun nominal tagihan UKT yang ditetapkan Unand diberikan mendekati batas pembayaran UKT mahasiswa. Sehingga membuat mahasiswa mau tidak mau memilih untuk segera membayar atau berhenti kuliah. Fajri berharap Unand dapat memberikan keringanan dan mengerti keadaan perekonomiannya saat ini. Serta akan berusaha untuk mencari beasiswa lain di luar kampus.

“Harapan saya semoga Unand memberikan UKT dengan level rendah dan IP ditiadakan. Kalau Unand kasih keringanan, saya akan usahakan cari beasiswa lain nantinya,” pungkasnya.

Hal yang sama juga dirasakan mahasiswi jurusan D3 Administrasi Perkantoran, Mariatun Kabatiah mengungkapkan bahwa ia akan berhenti jika tidak diberikan keringanan biaya dari pihak Unand.

“Saya akan mundur kalau tidak diberi keringanan. Saya daftar mandiri ini bukan karena saya kaya, tapi karena adanya KIP-K dan saya merasa pantas menerimanya,” ungkap Mariatun saat diwawancarai via telepon pada Senin (7/2/2022).

Demi memperoleh keringanan, Maria bersama mahasiswa jalur mandiri lainnya, berusaha untuk menyuarakan kepada berbagai pihak. Namun, usaha yang ditempuh Maria bersama teman-temannya belum membuahkan hasil.

“Kami berusaha minta keringanan dan solusi, namun tidak kunjung mendapat kepastian dan solusi yang membuat kami lega,” katanya.

Disisi lain, seorang mahasiswa jalur mandiri dari Jurusan Proteksi Tanaman juga mengaku tidak sanggup membayar tagihan senilai 24 juta rupiah dari ibu yang hanya seorang penjual kerupuk nasi di pasar.

“Ibu saya pedagang kerupuk nasi di pasar. Penghasilan paling banyak 1 juta rupiah per bulan. Kemana uang sebanyak itu harus dicari, sedangkan ibu saya adalah seorang single parent. Kalau uang itu dibayarkan semua ke kuliah, tidak cukup karena itu juga akan digunakan untuk biaya hidup serta biaya kos di Padang,” ungkapnya saat diwawancarai via telpon pada Senin, (7/2/2022).

Mahasiswi yang namanya tidak ingin disebutkan ini berharap adanya keringanan bagi yang tidak lolos.

“Harapannya semoga hati pak rektor terbuka untuk memberikan keringanan untuk kami yang tidak lolos dan saya berharap untuk jalur mandiri ini PI ditiadakan serta UKT diberikan pada level rendah sesuai dengan penghasilan orang tua,” tutupnya.

Penulis merupakan Mahasiswi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here