Beranda Berita

Taufiq : Pentingnya Pemahaman Mitigasi Bencana

Dosen Teknik Lingkungan Universitas Andalas, Taufiq Ihsan.

gentaandalas.com- Sepanjang tahun 2018 Indonesia mengalami dua kejadian bencana alam yaitu, gempa bumi di kota Lombok dan gempa bumi di kota Palu dan Donggala. Gempa ini memicu terjadinya tsunami yang telah menelan ribuan korban jiwa serta kerugian materil.

Berdasarkan hal itu, dosen Teknik Lingkungan Universitas Andalas (Unand), Taufiq Ihsan mengatakan tingkat kesiagaan masyarakat terhadap bencana di Indonesia masih dapat dikatakan rendah. Bencana bukan hanya gempa bumi dan tsunami, namun juga bencana banjir dan longsor. Ini didukung oleh beberapa faktor seperti urbanisasi, perubahan iklim hingga faktor non teknis seperti lemahnya penegakan hukum.

“Kota Padang yang merupakan daerah rawan bencana juga tidak dapat luput dari bencana, seperti bencana banjir dan longsor akibat perubahan iklim dan tingginya curah hujan. Ini juga didukung dengan kondisi geografis dalam menghubungkan ke beberapa kota kabupaten lainnya,” ujarnya saat diwawancarai kru Genta Andalas, Selasa (16/10/2018).

Taufiq mengatakan, terlepas dari bencana alam, masyarakat sudah memiliki cukup pemahaman akan kebencanaan. Misalkan masyarakat mengetahui bahwa membuang sampah sembarangan, maka akan menimbulkan banjir. “Sayangnya ini tidak dibarengi dengan perubahan perilaku,” kata Taufiq.

Menurutnya, pemerintah dapat memasukkan program edukasi tangguh bencana ke dalam kurikulum muatan lokal di sekolah, mulai dari tingkat pendidikan usia dini hingga sekolah menengah atas. Sehingga pemahaman tentang mitigasi bencana dapat dipahami sedari kecil. Apalagi dengan gencar dan maraknya program sekolah berbasis lingkungan seperti Sekolah Adiwiyata. “Sebenarnya penerapan program edukasi ini sangat bisa diterapkan dan disisipkan. Bagaimana pun, salah satu korban terbesar bencana alam adalah anak-anak usia sekolah, sehingga edukasi bencana menjadi penting bagi mereka,” ujarnya.

Lanjutnya, untuk mempertimbangkan urgensi edukasi perubahan perilaku terkait tangguh bencana yang demikian besar, sebaiknya pemerintah melaksanakan program edukasi secara masif dan simultan. Menurutnya, hal itu akan menjadi suatu pembiasaan. Salah satu cara efektif dapat dilakukan melalui wadah-wadah masyarakat seperti forum warga, PKK, Karang Taruna, Majelis Taklim dan sebagainya.

Taufiq menambahkan, edukasi yang diberikan kepada anak-anak sekolah dapat juga berimplikasi pada orangtua mereka. Metode permainan dan simulasi ringan dapat merangsang anak-anak usia sekolah, serta mampu melibatkan orangtua, guna memahami lebih jauh tentang pentingnya mitigasi ini. Pemberdayaan anak usia sejak dini untuk memahami mitigasi bencana merupakan langkah awal membangun masyarakat tangguh bencana. Sehingga ketika terjadi bencana, siswa, guru dan masyarakat tidak lagi kebingungan dan panic, karena telah memahami bagaimana cara mengurangi risiko bencana. Dengan harapan pengetahuan yang didapat ditularkan pada lingkungan sekitar dalam rangka mengurangi risiko bencana.

“Misalnya ketika terjadi gempa di Kota Padang, sampai saat ini masyarakat terlihat masih dan selalu saja panik berhamburan, tidak tentu arah bahkan terkadang sampai terluka. Ini menandakan pembiasaan tersebut belum meresap dan menunjukkan masih rendahnya untuk menjadi masyarakat tangguh bencana,” ujarnya.

Salah seorang anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Unand Idkham, mengatakan untuk kesiapsiagaan bencana masyarakat harus responsif dan peka. Sebab ketidak pekaan dapat memberikan dampak yang buruk bagi masyarakat.

“Masyarakat harus peka dan peduli dengan bencana, misalnya dalam menghadapi tebing yang terkikis lalu menimbulkan longsor, atau penyumbatan saluran air yang mengakibatkan banjir.

 

Reporter : Juni Fitra Yenti dan Melati Tri Ilhami

Editor: Endrik Ahmad Iqbal

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here