Beranda Aspirasi

Tahun Baru Tidak Harus Dirayakan

Oleh: Yudellia Wira Permata*

Dok. Pribadi

Tak terasa tahun 2018 akan pergi dan disambut dengan tahun baru 2019. Pergantian tahun ini biasanya dirayakan oleh berbagai daerah di dunia sesuai tradisi  daerahnya masing-masing. Dikutip dari halaman detikNews yang terbit pada tanggal 1 Januari 2018, perayaan pergantian tahun baru dimulai sejak manusia mulai mengenal penanggalan. Perayaan itu dilakukan oleh berbagai negara sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya. Bagi  Kerajaan Babilonia, mereka melakukan perayaan dengan penanggalan pada bulan pertama vernal equinox (perpotongan lingkaran ekuator dan ekliptikal), sedangkan Kerajaan Romawi menentukan penanggalan dan pergantian tahun dengan siklus matahari. Bangsa Mesir menandai pergantian tahun dengan melihat banjir sungai Nil. Cina menentukan tahun baru pada bulan baru kedua saat titik balik matahari setelah musim gugur. Sedangkan Islam menentukan penanggalan dari masa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah sehingga kalender Hijriyah berbeda dengan kalender Masehi. Penetapan 1 Januari sebagai tahun baru Masehi pertama kali, merupakan pengembangan penanggalan Romawi yang dilakukan pada tahun 1582 oleh Paus Gregory XIII.  Filosofinya, perayaan tahun baru dilakukan sesuai dengan tradisi dan kepercayaan masing-masing individu.

Perayaan pergantian tahun di Indonesia seperti sudah mendarah daging dilaksanakan di setiap daerah. Berbagai pernak pernik berupa terompet, mercon, kembang api, hingga panggung-panggung untuk konser musik penuh menghiasi malam detik pergantian tahun. Padahal, sejatinya memang tidak ada yang spesial pada detik pergantian tahun tersebut. Bisa kita lihat, tidak ada uang atau makanan yang jatuh dari langit sehingga malam itu menjadi sangat spesial.  Sudah seperti budaya, banyak orang yang rela ikut menanti dan merasakan sensasi menghitung mundur bersama. Namun, ketika jelas Allah cantumkan kemuliaan malam Lailatul Qadr di firmanNya, hanya segelintir orang saja yang rela berjuang untuk mendapatkan malam itu. Jadi, kenapa pergantian tahun baru mesti harus dirayakan?

Baiklah, saya akan mengulas sedikit dampak negatif dari perayaan tahun baru. Dilansir dari halaman halosehat.com, ada 24 bahaya merayakan tahun baru secara berlebihan. Selain menyebabkan insomnia, juga meningkatkan resiko stroke dan kematian mendadak oleh berbagai makanan yang hadir menemani perayaan tahun baru. Tak hanya dari segi kesehatan, ada juga dampak negatif dari sisi ekonomi dan sosial. Perayaan tahun baru yang identik dengan foya-foya pastinya akan mengeluarkan uang dengan jumlah yang tak sedikit, sehingga uang terasa terbuang dengan cuma-cuma. Selain itu, dari sisi sosial perayaan tahun baru seringkali menjadi sarana seks bebas, tawuran, pencemaran lingkungan, pesta narkoba, hingga hal terkecil seperti meribut dan mengganggu istirahat tetangga yang tidak ikut merayakan tahun baru.

Kasus kebakaran rumah juga tak asing lagi kita dengar pada perayaan tahun baru. Hal tersebut disebabkan oleh penggunaan  kembang api yang tidak tepat. Ketika kembang api meledak dan tergambar indah di langit malam seakan membawa kebahagiaan tersendiri bagi yang melihatnya. Namun pernahkah kita terfikir berapa banyak racun yang menyebar seiring dengan ledakan kembang api di langit malam itu?

Dikutip dari kumparan.com yang terbit pada tanggal 31 Desember 2017 bahwasannya kembang api merupakan hiburan indah yang mematikan. Hal tersebut disebabkan kembang api mempunyai ampas dan asap yang banyak mengandung zat kimia berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Zat tersebut antara lain barium yang dapat menyebabkan iritasi saluran pernafasan, aluminium mengakibatkan peradangan kulit, arsenik dapat menyebabkan kanker paru-paru, merkuri yang dapat merusak sel tubuh, perchlorate yang merusak kelenjar tiroid manusia, sehingga menganggu produksi metabolisme tubuh, sulfur, potasium nitrat, tembaga, litium, strontium dan hexachlorobenzene (HCB) yang dapat menyebabkan mutasi genetik sehingga berbahaya bagi organ reproduksi.

Sebagai penonton, kita seringkali ingin menyaksikan ledakan kembang api dengan jarak yang dekat. Secara tidak langsung, zat berbahaya yang terkandung di dalam kembang api akan terhirup dan masuk ke dalam tubuh kita. Selain mengganggu kesehatan, zat berbahaya di dalam kembang api tersebut pastinya juga akan merusak lingkungan. Studi lain oleh B. Thakur yang dipublikasikan di majalah Atmosfera pada 2010 pun menggarisbawahi, polusi udara yang disebabkan oleh kembang api dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah sebesar 125 persen.

Selanjutnya, pernahkah kita membayangkan menjadi salah satu anak yang berada di Palestina, Rohingya, dan Uighur yang berlari menjauh dari ledakan bom penghias langit-langit mereka? Akan tetapi, nyatanya kita tidak peduli terhadap hal tersebut dan malah mengejar suatu ledakan tanpa sempat berfikir bagaimana jika menjadi mereka. Atau ketika Gunung Anak Krakatau sudah bersiap siaga menampilkan kekuatan ledakannya, pastinya kita akan menjauh dari ledakan Gunung Anak Krakatau tersebut karena tahu akan bahaya yang  menimpa.

Saya akan sedikit mengaitkan perayaan tahun baru dengan materi kuliah saya pada semester lalu, yaitu “Komunikologi Hado”. Konsep Hado berasal dari ilmuan Jepang, dr. Masaru Emoto. Hado diartikan sebagai “fluktuasi gelombang energi”. Dasar teorinya adalah Mekanika Kuantum  tentang bentuk vibrasi (getaran gelombang) tingkat atom pada semua benda yang ada di seluruh dunia.

Komunikologi Hado membuka pikiran masyarakat agar mampu berkomunikasi bukan hanya dengan manusia, tetapi juga mampu berinteraksi dengan seluruh isi alam semesta baik dengan Sang Maha Pencipta. Dalam tulisan ini lebih saya kaitkan dengan bagaimana manusia berkomunikasi terhadap lingkungan. Melalui uji coba yang dilakukan Emoto kepada air, bahwasannya molekul air akan berubah menjadi kristal yang indah ketika menerima kata-kata positif dan begitu juga sebaliknya. Jika di malam tahun baru yang biasa menyebabkan polusi udara tinggi, sampah dimana-mana, kelakuan buruk yang menghiasi malam-malam itu, maka secara tidak langsung manusia sudah berkomunikasi dengan cara yang buruk terhadap lingkungannya. Maka hal yang wajar ketika alam pun memberikan feedback yang serupa terhadap tingkah manusia, seperti banyaknya bencana alam yang akhir-akhir ini menghampiri kita.

Maka, tulisan ini akan saya akhiri dengan sebuah pesan kepada pembaca portal Genta Andalas. Tahun baru bukanlah hari yang spesial dan wajib dirayakan. Jika anda hanya akan membuang uang berfoya-foya, merusak lingkungan, dan melakukan hal yang sia-sia, lebih baik salurkan uang tersebut untuk saudara-saudara kita yang sedang membutuhkannya, atau hiasi tahun baru dengan hal bermanfaat seperti berzikir, karena alam juga mampu berkomunikasi dengan manusia. Ketika kita memberikan hal positif, maka kita akan mendapatkan feedback yang baik, namun jika kita memberikan hal negatif maka sesuatu negatif juga yang akan kembali kepada kita. Akan tetapi, jika anda adalah orang yang mempunyai tipe seperti saya yang tidak merasa adanya keistimewaan di malam tahun baru, silahkan tidur saja seperti hari-hari biasa. Semoga bermanfaat.

*Penulis merupakan Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi 2017 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas

Pilihan Editor

1 KOMENTAR

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here