Beranda Berita

Si Putih Yang Tersembunyi di Nagari Silokek

Seorang wisatawan sedang duduk sambil memainkan gawai di sebuah batu di tepi sungai pasir putih Nagari Silokek, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat.

Oleh: Tiwi Veronika*

Awan mulai terlihat menutupi kilau mentari di siang hari. Hembusan angin membuat saya terbuai dalam alunan tidur yang panjang, hingga membuat saya terlambat bangun saat azan Zuhur telah berkumandang dari mushalla yang jaraknya tidak jauh dari rumah saya. Suasana hari ini sangat berbeda, dingin dan gelap. Jika dilihat ke arah langit, awan sudah mulai mendung, itu pertanda sebentar lagi akan hujan. Ingin rasanya untuk kembali tidur di atas kasur yang empuk dengan badan yang ditutupi selimut tebal. Setelah selesai beribadah, masuk sebuah notifikasi pesan WhatsApp dari teman saya.

“Yuk, pergi main,” tulisnya.

Sayangnya, saya tidak bisa melanjutkan tidur. Saya memutuskan untuk mengiyakan ajakan teman saya dan mengikuti  kebutuhan batin yang menginginkan refreshing, melepaskan penat, stres, dan takut ketika melihat hasil selama satu semester belakangan di portal.

Tujuan wisata saya dan teman saya tidak jauh, masih di sekitaran Sijunjung, tempat saya tinggal. Nagari Silokek adalah sasaran kami. Mungkin masih banyak orang yang belum mengetahui objek wisata pasir putih yang terdapat di Nagari Silokek, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat ini. Objek wisata yang sayang untuk dilewatkan. Biasanya, pasir putih identik dengan tepi pantai,  namun berbeda dengan pasir putih yang ada di Nagari Silokek yang berada di tepi sungai.

Saya dengan empat orang teman saya pergi ke sana dengan mengendarai dua unit sepeda motor. Kami pun berkumpul di satu titik, yaitu di persimpangan sebelum memasuki Nagari Silokek. Tepat pukul 14:15 WIB, kami sudah berada di titik kumpul dan berselang waktu 5 menit, kami langsung berangkat ke lokasi. Waktu yang diperlukan sampai ke Nagari Silokek sekitar 30 menit dari tempat titik kumpul tadi.

Butuh perjuangan untuk menuju tempat tujuan kami. Tantangan berupa jalan yang rusak, sempit, berlubang, sepi, bahkan suara dari binatang buas harus kami lewati. Sayangnya, untuk sampai ke pasir putih ini, hanya ada satu jalan dan tidak ada jalur alternatif lain.

Walaupun begitu, di sepanjang perjalanan, kami benar-benar disuguhi oleh pemandangan yang yang menakjubkan. Bukit-bukit karang yang berdiri kokoh di sepanjang pinggiran sungai terlihat sangat mempesona. Tebing-tebing ini membentuk ngarai yang indah dengan aliran Batang Kuantan di bawahnya. Asri dan suasana terasa sejuk, karena dipenuhi tumbuhan hijau. Perbukitan yang tinggi dan sungai yang mengalir deras membuat kami tidak mau kehilangan momen untuk diabadikan dalam kamera handphone. Tebing-tebing yang ada di Nagari Silokek ini biasanya digunakan oleh para atlet panjat tebing untuk latihan.

Dalam perjalanan juga terlihat beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab menambang emas di sekitaran aliran sungai tersebut, sehingga penambang membuat air menjadi keruh dan ikan-ikan yang hidup di sana banyak yang mati.

Sebelum memasuki kawasan pasir putih, seorang anak remaja menyuguhkan lembaran kertas berwarna pink yang ternyata merupakan karcis parkir kendaraan bermotor, dengan estimasi harga sekitar Rp2.000 per motor. Setelah membayar biaya parkir, barulah kami bisa memulai perjalanan ke lokasi  wisata. Sekitar lima menit dari tempat parkir, akhirnya kami sampai di lokasi wisata pasir putih Nagari Silokek.

Pasir putih Nagari Silokek merupakan tempat wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan pada hari libur. Pasir putih ini terletak di antara dua bukit yang dialiri oleh sungai besar. Pasir putih mempunyai luas sekitar 300 meter persegi. Di sana, kita juga bisa melakukan olahraga seperti arum jeram, bahkan ada yang menyalurkan hobinya dengan memancing.

Sungguh sebuah pemandangan yang memukau dan kontras antara tebing-tebing yang terjal dengan hamparan pasir putih halus di pinggiran sungai. Hamparan pasir putih ini tidak kalah bagus dengan hamparan pasir di pinggir laut. Sambil menikmati keindahan dan bersantai, kita bisa merasakan keagungan dan kekuasaan Tuhan yang menciptakan keindahan alam yang ada di dunia ini. Tiada kata selain rasa syukur yang terucap, suasana yang sejuk disertai bunyi bunyian alam yang merdu memanjakan telinga kami.

Tidak jauh dari pasir putih, lebih kurang 6 kilometer, terdapat air terjun yang tidak kalah menakjubkan. Akhirnya kami pun sampai di sana dengan waktu tempuh selama  20 menit  dengan berjalan kaki, mengingat jalan menuju air terjun tidak bisa ditempuh menggunakan kendaraan. Sebuah petualangan baru kami rasakan, memasuki pemukiman warga, melewati anak sungai yang airnya dingin dan sejuk, serta kami juga melihat monyet yang ada di sekitar anak sungai. Letih dan jerih payah seketika terbayar saat melihat air terjun. Kami kembali  menikmati suasana yang sejuk, tentram, dan nyaman ketika berada di sana. Kami pun langsung menceburkan diri ketika melihat air terjun yang berasal dari perbukitan dekat pasir putih. Airnya tidak terlalu dalam dengan dasaran disertai pasir-pasir halus.

Sayangnya, beberapa sampah terlihat berserakan di sekitaran pasir putih dan juga air terjun, sehingga merusak pemandangan dan mencemari lokasi objek wisata alam yang sepatutnya dijaga dengan baik oleh wisatawan yang hendak berkunjung.

Waktu tak terasa berjalan begitu cepat ketika kami lihat  matahari sudah mulai tenggelam ke arah timur. Ternyata, jam sudah menunjukkan pukul 17:45 WIB. Kami pun bergegas untuk pulang, meskipun dalam keadaan basah kuyup. Walaupun begitu, stres yang kami rasakan  hilang dalam sekejap. Bagi Anda yang merupakan pecinta alam, pasir putih Nagari Silokek merupakan tempat yang asyik dan cocok untuk camping bersama teman-teman. Dengan  keindahan alamnya, pasir putih ini sangat menarik untuk dikunjungi. Saya pun ingin kembali ke tempat ini, lalu bagaimana dengan kamu?

*Penulis merupakan Mahasiswi Fakultas Peternakan 2017 Universitas Andalas

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here