Beranda Aspirasi

Sehatkah Mental Pengguna Instagram?

Dok. Pribadi

Oleh : Nadya Satya Dilova*

Instagram merupakan aplikasi media sosial yang saat ini digemari penggunaannya oleh berbagai kalangan selain Facebook, Twitter, dan lain sebagainya. Salah satu survei yang diberi nama #StatusOfMind di Inggris melibatkan responden berjumlah 1.479 dengan rentang usia 14 hingga 25 tahun. Hasil yang didapat dari survei ini adalah  Instagram dapat merusak kesehatan mental si pengguna. Hal ini dikarenakan si pengguna mengakses hampir setiap jam dalam satu hari platform ini, sehingga menimbulkan perasaan euforia dalam membagikan momennya dan kecemasan karena membandingkan diri pribadi dengan unggahan milik pengguna Instagram lain. Perasaan euforia dengan eksistensi diri di platform dunia maya ini menyebabkan sisi negatif yang berdampak pada kesehatan mental.

Ada beberapa hal dalam penggunaan Instagram yang dapat merusak kesehatan mental orang-orang yang menggunakannya. Pertama, menjelajahi ikon home dan explore yang berisi unggahan dari pengguna yang diikuti dan unggahan yang berhubungan dengan unggahan yang disukai. Fitur tersebut dapat menimbulkan perasaan iri terhadap unggahan pengguna lain yang berpergian dan bersenang-senang seperti sedang menikmati hidupnya, sehingga pengguna sering membanding-bandingkan dirinya dengan pengguna lain. Selain itu, foto dan video yang mengacu pada body goals juga menimbulkan perasaan iri dan membuat pengguna yang melihat hal tersebut risih dengan dirinya sendiri.

Kedua, fitur like bisa memicu stres pada pengguna bahkan depresi. Mengapa demikian? Perasaan euforia yang timbul setelah membagikan momen bagi pengguna merupakan hal yang perlu diapresiasi salah satunya dengan jumlah like yang banyak dari pengikut atau bukan. Jika pengguna mendapati like yang sedikit dari postingannya, ia akan merasa risih dengan hal tersebut karena “merasa” postingannya tak dihargai.

Ketiga, penggunaan instastory yang dapat mengabadikan momen dalam bentuk foto dan video selama 24 jam. Sama halnya dengan platform Snapchat, Instagram juga memiliki fitur ini agar membuat pengguna nyaman membagikan momen dengan pengikutnya. Hal ini dapat membuat kita berkeinginan terus membuat insta story tentang momen yang kita hadapi karena dilihat oleh banyak orang, dan membuat pengguna yang melihat insta story tersebut mengomentari postingan kita melalui Direct Message (DM). Sama dengan fitur like, pengguna akan risih dan tidak nyaman jika mendapati respon dari insta story sedikit dari pengikutnya.

Keempat, adanya fitur komentar yang memungkinkan pengguna mengomentari unggahan pengguna lain. Komentar-komentar yang diberikan biasanya beragam dari komentar yang baik, biasa, atau bahkan buruk. Setiap unggahan yang dikirim memiliki potensi untuk dikomentari baik atau buruk. Namun, beberapa pengguna sering melontarkan komentar buruk di Instagram pengguna lain seperti memaki, menghujat, dan menjelek-jelekkan. Dapat dikatakan bahwa komentar buruk di Instagram sama halnya dengan tindakan perundungan di dunia maya. Hal ini dapat menyebabkan pengguna yang bersangkutan mengalami tingkat stres yang tinggi bahkan depresi. Depresi yang terjadi pada seseorang dapat berakibat fatal, salah satunya yaitu bunuh diri.

Dari semua hal tersebut, kita perlu crosscheck diri sendiri sehingga bisa menjaga kesehatan mental dari pengaruh Instagram. Hal-hal yang perlu dilakukan seperti melatih kesadaran batin, melihat realita tidak sama dengan ekspektasi, perbaiki perspektif atau sudut pandang saat melihat unggahan orang lain, fokus pada diri sendiri, dan jadikan kecemburuan sosial sebagai motivasi untuk mendorong diri. Selain itu, kita sebagai pengguna platform tersebut sebaiknya memberikan komentar yang baik agar tidak terjadi hal buruk pada penerima komentar yang bersangkutan. Instagram memang tempat untuk eksistensi diri, tetapi perlu diingat bahwa membanding-bandingkan diri dan iri hati dengan unggahan orang lain hanya akan memperburuk suasana mental kita. Oleh karena itu, kita harus menyadari untuk mencintai diri kita sendiri.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas

 

Berita Lainnya

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here