Beranda Berita Feature

Sehari Menjelajahi Kota Pempek

Foto bersama teman2 Pers Mahasiswa yang PJTL ke Lampung dengan Pers Mahasiswa Palembang di Gelora Sriwijaya di salah satu lokasi Asean Games 2018.

 

Palembang, kota yang dikenal dengan penghasil pempek memiliki beragam pesona wisata dan kulinernya. Sebut saja salah satunya jembatan ampera yang menjadi trade marknya kota Palembang. Ditambah lagi tahun 2018 ini Palembang akan menjadi kota penyelenggara Asian Games 2018.

Kala itu Rabu, 25 Oktober 2017 kami melaksanakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) Teknokra Universitas Lampung, yang diadakan selama empat hari di Pramuka Guest House kota Bandar Lampung. Awalnya kami memilih jalur Palembang hanya karena ingin menghemat biaya transportasi saja, karena biaya kereta api dari Palembang ke Lampung berkisar Rp. 34.000 rupiah per orang dengan lama perjalanan berkisar 12 jam. “Sungguh harga yang cukup murah, apalagi di kantong mahasiswa,” ujar seorang teman.

Setelah googling di internet terkait kota Palembang, rasa tak sabar kemudian menyelumuti benak kami mengenai deskriptif kota Palembang yang katanya paling baik menikmati pempek di kotanya.

Tepat jam 08.30 WIB, saya ditambah dengan dua orang kru Genta Andalas dan dua orang kru SKK Ganto Universitas Negeri Padang mengawali perjalanan menuju Palembang menggunakan bus Epa Star. Jarak perjalan yang ditempuh kurang lebih selama 22 jam, sungguh sangat melelahkan, kami harus bersiap menantang kenyataan duduk berlama-lama di dalam bus.

Kami berangkat dari Padang sekitar pukul 9, perjalanan yang melelahkan itu harus kami hadapi dengan sukarela. Sepanjang perjalanan Padang ke Palembang, saya sudah di haruskan melewati beberapa kota dan kabupaten menuju Palembang, sebut saja di antaranya Kota Solok, Sijunjung, Dharmasraya maupun Kota Jambi yang memiliki keunikan masing-masing, maklum orang yang perdana menempuh perjalanan jauh ini masih merasa begitu antusias jika melihat pemandangan baru, hehe begitu omelan kosong terlintas di fikiran saya saat itu. Hasilnya kami sampai di Palembang dengan wajah kusam muram ditambah belum mandi selama dua hari satu malam. Sebelum menunggu jemputan dari teman-teman Pers Palembang, rasa penasaran sudah memenuhi otak saya, tentang kemana saja kami akan dibawa menjelajahi kota itu. Tak sadar teman-teman Lembaga Pers (LPM) Palembang sudah sampai dengan mobil pribadi milik salah seorang dari mereka.

Jam baru menunjukkan pukul 08.00 WIB, namun suasana Palembang sudah sangat macet. Sungguh pemandangan yang tidak biasa saya lihat jika berada di Kabupaten Lima Puluh Kota sana yang jauh dari kata macet. Biasanya pagi itu saking sepinya kita bisa bebas bermain di tengah jalan. Pikiran konyol itu mulai menyelimuti saya sambil tertawa-tawa kecil. Dengan menggunakan mobil pribadi, rute kami pagi itu adalah mengunjungi LPM Gelora Sriwijaya Universitas Sriwijaya, menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari KM 11 (terminal bus Epa Star).

Sebelum masuk kampus, kami berjumlah delapan orang terlebih dahulu sarapan pagi nasi uduk yang terletak tepat didepan gerbang kampus. Suasana mendung ditambah sedikit berasap menemani kami pagi itu, nikmatnya nasi uduk dilengkapi satu buah telur rebus cukup mengganjal perut kami yang memang sudah sangat lapar dari tadi. Hal yang paling mengembirakan buat kami anak Padang adalah harga satu porsi nasi uduk hanya 5000 rupiah, sebuah harga yang jarang kami dapatkan di Padang setingkat nasi uduk.

Masuk area kampus, Letak Pusat Kegiatan Mahasiswa yang cukup jauh dari gerbang membuat kami mengelilingi sebagian kampus Unsri. Tak berbeda jauh dengan Unand yang diselimuti oleh pohon disepanjang jalan, di Unsri kebanyakan ditumbuhi oleh pohon sawit. Tidak lama kemudian kami sampai di gedung PKM Unsri, gedung yang terdiri dari 3 lantai berdiri megah layaknya bangunan-bangunan eropa membuat kami berdecak kagum tiada henti. Lantai satu dihuni oleh berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa, lantai dua penginapan bagi tamu yang datang dan lantai tiga berbentuk aula yang digunakan untuk kegiatan seperti seminar, sungguh konsep bangunan yang begitu tertata untuk berbagai kegiatan mahasiswa.

Selanjutnya kami berkunjung ke Lembaga Pers Mahasiswa Fitrah Universitas Muhamadiyah Palembang dengan menempuh perjalanan selama satu jam. Banyak pelajaran yang bisa kami dapat, khususnya saya yang selalu memperhatikan seluk beluk kota Palembang, selama perjalanan, tampak samping kiri dan kanan tengah dilaksanakan perbaikan, mulai dari pembangunan rel kereta api, perenovasian jalan, perbaikan gedung-gedung dan proyek lainnya, dan yang bikin saya kagum adalah untuk pertama kalinya moncoba perjalanan di jalan tol, dan menyaksikan gedung-gedung menjulang ke langit.

Sampai di Kampus UMP, kami disambut oleh LPM Fitrah yang tengah melaksanakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) untuk anggota baru. Pukul 16.00 WIB, kami beserta rombongan LPM bertolak ke Jakabaring, tempat ini direncanakan sebagai pelaksanakan Asian Games 2018 ini. Tempat yang masih dalam tahap pembangunan ini ramai dikunjungi orang-orang, namun demikian untuk masuk ke tempat ini dijaga ketat oleh aparat keamanan dan harus membayar sekitar 10.000 perkendaraan untuk bisa masuk ke sana.

Saat itu kami diajak oleh teman-teman LPM Palembang untuk menuju tepi danau yang ada disana, kebetulan disana kami disuguhkan gedung yang megah yaitu Jakabaring Shooting Range. Di depan gedung tersebut sebuah danau yang menyuguhkan lingkungan sejuk ditambah hiasan taman- taman yang cukup menarik, namun sayang danaunya belum di permak begitu rapi. Disana cukup banyak spot-spot untuk menikmati tepi danau tersebut. Pun beberapa tempat yang sangat cocok untuk mengambil beberapa foto, saya begitu takjub dengan tempat tersebut, karena di sekeliling danau dilengkapi dengan beragam bangunan yang menghiasi lokasi Asean Games ini, sayangnya memang belum selesai tahap pengerjaannya, saya membayangkan jikalau nanti sudah selesai mungkin akan cantik bak istana, fikir saya saat itu.

Sebelum meninggalkan tempat tersebut, tak lupa kami mengunjungi kerlap-kerlip tempat yang bertuliskan Gelora Sriwijaya, sebuah tempat yang menjadi salah satu ikon Jakabaring.

Puas menjalajahi Jakabaring, malam harinya, kami mengunjungi kuliner khas Palembang, pempek di perahu yang berada di sepanjang sungai Musi. Menikmati kuliner pempek langsung di tempatnya merupakan impian saya sejak dulu, suatu kebanggan tersendiri impian terbesar dapat terwujud malam itu. Sepanjang menikmati kuliner tersebut kami sangat menikmati suasana dingin malam yang begitu sejuk, yang sesekali membuat bulu kuduk berdiri ditemani percakapan kecil seputar makanan. Tak lupa juga kami berkodak ria di jembatan ampera sambil menikmati indahnya lampu yang terbentang di sepanjang sungai Musi, sungguh hal yang luar biasa, namun sayang, satu yang membuat saya kecewa adalah, meskipun sudah larut namun jalan raya sepanjang Jembatan Ampera tetap macet.

Selesai menyantap kuliner, kami menuju ke tugu Monpera, disini kami saling bercerita dan berbagi satu sama lain. Kebanggaan yang sungguh luar bisa bagi saya bisa menginjaki kaki di kota yang keindahan tidak bisa diungkapkan denga kata-kata. Satu pertanyaan besar yang menghinggapi pikiran saya pada malam itu sambil termenung adalah, kapan lagi saya bisa kembali ke kota yang sangat luar biasa ini.

Penulis : Metria Indeswara

*Mahasiswa Fakultas Peternakan angkatan 2015, Universitas Andalas

 

Baca Juga yang Menarik Lainnya!

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here