Beranda Aspirasi

Sadar Literasi Sebagai Pilihan dan Resolusi 2019

Karikatur oleh: Nisa Ulfikriah

 

*oleh : Muhammad Nasir

Di-era milenial yang bergulir saat ini secara kasat mata menunjukkan bahwa betapa banyak tantangan dalam pelbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, dampak yang ditimbulkan dari tantangan tersebut bak pisau bermata dua, dapat bersifat konstruktif dapat pula sebaliknya, diiringi perkembangan teknologi yang semakin masif telah membawa pergeseran pada kebudayaan serta perilaku umum masyarakat yang semakin kompleks, tak dapat dipungkiri bahwa dengan kondisi dunia yang tak kenal batas saat ini memicu persaingan di berbagai bidang kehidupan, persaingan bukan hanya dalam konteks internal sesama bangsa sendiri namun juga dengan bangsa lain.

Maka sudah menjadi keniscayaan bagi bangsa Indonesia agar senantiasa berupaya meningkatkan kualitas dan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) secara terstruktur, sistematis dan berkelanjutan. Basis pengukuran kinerja kebangsaan utamanya pendidikan adalah sebagai episentrumnya, sebab patut disadari peradaban modern yang akan terus bergulir kedepan dipastikan hanya akan menjadi milik SDM yang dapat beradaptasi melalui kemampuan intelektualitas yang mumpuni, sudah menjadi pekerjaan rumah bahwa pendidikan adalah yang utama karena dewasa ini sudah saatnya ditekankan pada pendidikan bermutu untuk semua (equality education for all).

Salah satu kunci ilmu pengetahuan dan teknologi ialah kemampuan literasi, utamanya membaca karena membaca adalah jendela dunia, jika mengambil pengertian istilah literasi dari National Institutute For Literacy adalah kemampuan orang untuk membaca ,menulis dan keterampilan komunikasi, maka literasi adalah seperangkat keterampilan yang nyata khususnya kemampuan kognitif. Patut disadari bahwa saat ini Indonesia mempunyai pekerjaan besar untuk mengevaluasi dan membenahi kondisi budaya literasi yang ada di masyarakat secara menyeluruh dalam setiap lapisan usia masyarakat, fenomena rendahnya budaya literasi dikalangan masyarakat Indonesia sejatinya perlu dilakukan kebulatan ikhtiar segenap komponen untuk memperbaiki kerangka budaya literasi agar tak mengalami efek degradasi literasi yang berkelanjutan, karena dengan kemampuan literasi yang meningkat akan berbanding lurus dengan peningkatan kualitas masyarakat, implikasinya Multiple effect yang yang ditimbulkan akan membantu negara dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di segala aspek kehidupan.

Demi mencapai transformasi pendidikan dalam setiap bidang keilimuan sebagaimana yang dicita-citakan oleh pendiri bangsa maka perlu deretan kerja sama semua elemen masyarakat yang paling utama adalah peranan para perintis muda untuk secara komprehensif berperan mengampanyekan pentingnya budaya literasi dalam menciptakan insan manusia yang berkualitas, sebagai investasi jangka panjang guna mencapai sasaran yang dicita-citakan dalam amanat konstitusi.

Awal 2019 ini hendaknya menjadi momentum koreksi untuk mengembangkan dan menanamkan budaya literasi bagi setiap lapisan generasi karena literasi adalah sebagai kunci peradaban.

Permasalahan yang Tersisa

Budaya minat baca masyarakat Indonesia dapat ditelaah dari studi yang dilakukan Central Connecticut State University pada tahun 2016 mengenai “Most Literate Nations in The World”, indeks minat baca masyarakat Indonesia baru mencapai angka 0,01 Artinya dari setiap 10.000 orang Indonesia hanya ada 1 orang saja yang benar-benar punya minat baca, tak heran kondisi ini menempatkan Indonesia bertengger di peringkat 60 dari 61 negara dalam konteks minat baca di dunia. Sedangkan untuk budaya menulis jauh lebih rendah, karena mengingat membaca dan menulis adalah kegiatan yang saling mempengaruhi karena hampir mustahil seseorang menulis jika tidak suka membaca karena membaca adalah referensi untuk melakukan kegiatan menulis.

Menyiapkan Generasi Cendikia

Sebagai generasi bangsa yang akan melanjutkan estafet perjuangan dan perjalanan bangsa dan seluruh rakyat Indonesia agar dapat meraih keunggulan bangsa di era persaingan global yang semakin nyata, upaya perjuangan harus didasari sebagai niat memelihara identitas dan kepribadian bangsa Indonesia agar dapat terus berdiri kokoh dengan kedaulatannya dan diperhitungkan dalam kancah pergaulan antarbangsa, maka kemunculan tokoh-tokoh pemuda pelopor dalam upaya merekonstruksi pemecahan berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa khususnya dalam hal peningkatan budaya literasi di kalangan masyarakat secara luas, dengan langkah-langkah memunculkan barikade pemuda literasi untuk terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat mensosialisasikan pentingnya budaya membaca dan dengan semangat mendorong setiap lapisan sadar akan manfaat literasi, yakinlah secercah usaha bersama dengan misi mengkampanyekan pengembangan budaya literasi lambat laun akan menstimulus masyarakat umumnya dan khususnya kepada generasi muda untuk menanamkan kesadaran, bahwa kegiatan membaca seharusnya bukan lagi hanya sebagai pengisi jika ada waktu luang namun hendaknya menjadi bagian dari meluangkan waktu sebagai kebutuhan utama yang menyenangkan dalam kehidupan sehari-hari, baik berorientasi pada penyegaran pikiran, hiburan maupun untuk perluasan wawasan pengetahuan, sehingga lambat laun masyarakat secara mandiri dapat menumbuhkembangkan kegiatan membaca di lingkungan sebagai kebutuhan dan sarana dalam peningkatan mutu kehidupan.

Jika budaya membaca telah tertanam dengan kokoh maka perlu mendorong setiap lapisan usia di masyarakat untuk memproduksi teks sebagai bentuk upaya nyata mengembangkan konsep ilmu yang diperoleh dari kebiasaan membaca agar senantiasa dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan untuk kemajuan dan pengembangan ilmu, karena dengan budaya membaca yang kemudian diekspresikan dengan menulis ide, pendapat, gagasan dan perasaan maka lambat laun akan menghadirkan sikap manusia yang lebih berkualitas dan bermartabat.

Setelah lebih 73 tahun Indonesia merdeka cita-cita negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa masih terkendala oleh rendahnya budaya literasi di masyarakat, hal ini akan berimplikasi terhambatnya upaya dalam pembangunan berkelanjutan karena rendahnya budaya literasi mempengaruhi kualitas SDM yang tersedia, maka perlu usaha pembenahan secara bersama dalam peningkatan budaya sadar literasi dengan aspek luas kepada setiap lapisan masyarakat, dengan melibatkan segala komponen terutama melibatkan perintis muda peduli literasi untuk menanamkan kebiasaan membaca,menulis dan komunikatif di dalam kehidupan pergaulan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara sekaligus menjadi salah satu faktor yang akan menentukan arah bangsa dimasa depan.

Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Hukum 15 Universitas Andalas

 

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here