Beranda Berita

Ruang Kelas Untuk 14 Matakuliah Sastra Inggris Masih Belum Ada

 

Ketua Jurusan Sastra Inggris, Hanafi, saat diwawancarai di ruangannya, Kamis (31/1/2019). (Foto: Gifra Sentia).

gentaandalas.com- Permasalahan ruang kuliah untuk 14 matakuliah di jurusan Sastra Inggris sampai saat ini masih belum tuntas, dikarenakan tidak bisa lagi untuk mengubah sistem yang ada sekarang. Hal ini dinyatakan oleh Ketua Jurusan Sastra Inggris, Hanafi, saat diwawancarai oleh kru Genta Andalas di ruangannya, Kamis (31/1/2019).

Dari semua matakuliah tersebut terdapat 33 kelas yang diperlukan. Pihak Unand sendiri menyarankan agar kelas-kelas kecil tersebut digabung, sehingga dapat meminimalisir ruang kelas yang diperlukan. Akan tetapi, saat dikembalikan kepada pihak jurusan, hal demikian tidak mungkin dilakukan pada jurusan Sastra Inggris yang memiliki mata kuliah berupa skill, yang dapat dilakukan maksimal 25 orang mahasiswa dalam kelas tersebut.

Karena fakultas tidak memiliki gedung perkuliahan, ada beberapa kegiatan perkuliahan yang dipindahkan ke UPT Pusat Bahasa, walaupun tidak setiap hari dapat digunakan. Bahkan, pada minggu pertama perkuliahan ada dosen yang berinisiatif untuk melaksanakan perkuliahan di kafe fakultas.

Sistem Unand yang menetapkan satu kelas hanya boleh berisi 40 orang mahasiswa, tidak cocok pada beberapa mata kuliah Sastra Inggris yang berbasis skill.

“Sebenarnya surat edaran tersebut sudah keluar pada penghujung tahun 2018 kemarin, tapi karena fakultas tidak mengetahui hal itu dan jujur sekali terhadap penetapan kelas, jadi dibuka satu kelas berisi 25 orang mahasiswa, sehingga beberapa mata kuliah Sastra Inggris sendiri tidak dimasukkan oleh sistem tersebut,” ungkap Hanafi.

Ia berharap, dengan kejadian ini ada penambahan gedung perkuliahan, karena setiap tahun terjadi penambahan kuota mahasiswa baru, serta ada evaluasi dari pihak Unand terhadap gedung perkuliahan.

“Karena sistem gedung perkuliahan adalah sistem booking oleh fakultas, terkadang ada gedung perkuliahan yang tidak terpakai pada jam tertentu. Akan tetapi, kelas tersebut sudah di booking. Hal ini menyebabkan kesenjangan terhadap pembagian kelas, seperti yang terjadi sekarang ini,” tambahnya.

Salah seorang mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2016, Mita Handayani, mengatakan sangat tidak nyaman dengan kondisi tersebut, karena tempat perkuliahan yang sering berpindah-pindah  dan sulit untuk mencari ruang perkuliahan.

“Terkadang kami kuliah di UPT Bahasa, terkadang di Ruang Kegiatan Mahasiswa Magister, namun tidak selalu bisa dipakai karena bentrok dengan kelas lain dan mahasiswa S2 yang beraktivitas di sana,” katanya.

Hal yang sama juga dirasakan mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2014, Azwandi Hanafi. Ia merasa sangat kecewa sebagai mahasiswa yang pernah mengikuti kuliah di kafe fakultas, karena tidak efektif dan sulit untuk fokus belajar. Tak hanya itu, bahkan ada beberapa mata kuliah yang diikutinya masih belum ada kejelasan tempat belajarnya hingga sekarang. Ia berharap, agar pihak Unand meningkatkan pembangunan gedung kuliah, karena setiap tahun penerimaan  mahasiswa baru di Unand semakin meningkat.

Reporter : Fildzatil Arifa dan Gifra Sentia

Editor : Nurul Pratiwi

 

Baca Juga yang Menarik Lainnya!

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here