Beranda Berita

Revolusi Industri 4.0 Tuntut Inovasi dan Kreativitas

 

 

Wakil Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Bustanul Arifin saat memberikan kuliah umum, di aula pascasarjana, Unand, Jumat (28/9/2018). (Foto: Anjasman Situmorang)

gentaandalas.com- Kepala Badan Pendidikan, Penelitian, dan Penyuluhan Sosial (Badiklitpensos) Kementrian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI), Harry Z Soeratin dan Wakil Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Bustanul Arifin memberikan kuliah umum bertajuk “SDG’s, Industri 4.0 dan Keberdayaan Masyarakat, serta Relevansinya dengan Ilmu Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan (PKP)” yang diselenggarakan oleh Program studi Magister Ilmu Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan di aula gedung pascasarjana Universitas Andalas, Jumat (28/9/2018).

Bustanul menjelaskan bahwa Sustainable Development Goals (SDG’s) merupakan lanjutan dari Millennium Development Goals (MDG’s) yang berakhir di tahun 2015. Kekurangan dari MDG’s tersebut yang akan dijadikan patokan untuk mengembangkan dan memperluasnya menjadi SDG’s. Untuk mencapainya, di ranah global ada 17 tujuan dan 119 target yang harus dicapai.

Kata Bustanul, inti dari revolusi industri 4.0 adalah inovasi dan kreativitas. Jika dilihat dari segi industri maka implikasinya adalah big data, yakni penggunaan aplikasi Whatsapp, Facebook, Twitter, dan Instagram.
“Revolusi industri 4.0 intinya adalah inovasi dan kreativitas. Esensinya bahwa natural capital, social capital, financial capital itu didukung atau berbasis internet,” kata Bustanul.

Bustanul juga menambahkan bahwa inovasi merupakan inti dari daya saing. Saat ini tingkat kebersaingan Indonesia di dunia berada pada tingkat 36 dari yang sebelumnya berada pada tingkat 41. Menurutnya, tidak mungkin jika suatu negara bisa maju tanpa adanya inovasi, karena di dunia 4.0 ini tidak ada magic, yang ada hanyalah inovasi dan bekerja keras.

Harry memandang bahwa revolusi 4.0 ini nantinya akan sangat luar biasa, tidak hanya dari segi positif, namun juga dari segi negatif. Banyak orang saat ini menganggap internet sudah menjadi kebutuhan masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu, seperti ekonomi. Salah satu resikonya, menurut Harry, Go-Jek yang dalam waktu tiga tahun dapat meraup keuntungan yang luar biasa, namun bukan milik Indonesia melainkan pihak asing.

Harry mengatakan bahwa target revolusi 4.0 di tahun 2025 adalah eranya generasi millenial. “Enam tahun lagi mereka sudah harus berpikir apa yang harus dilakukan di tahun 2025, karena itu merupakan eranya mereka, yang menjadi tumpuan untuk melangkah ke depan dan penerus bangsa ini,” kata Harry.

Salah satu peserta bernama Andre, mengaku bahwa kuliah umum ini memberikan pengetahuan tentang upaya mendukung SDG’s di Indonesia untuk pembangunan selanjutnya.

“Kita dari mahasiswa kan kurang tau apa itu MDG’s dan SDG’s, dan ternyata mahasiswa juga bisa membantu SDG’s untuk revolusi 4.0 ini,” ujarnya.

Reporter: Anjasman Situmorang dan Surya Iflah El Ardhi

Editor : Juni Fitra Yenti

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here