Beranda Berita Liputan

Rekomendasi Pengunduran Diri dari Jabatan, Presma dan Wapresma Unand Angkat Bicara

Ilustrasi : Nisa Ulfikriah

Gentaandalas.com- Turunnya rekomendasi Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) mengenai  penurunan Presma dari pemerintahannya pada 2 Oktober lalu, ditanggapi Randi selaku Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) Universitas Andalas (Unand) sebagai hal yang wajar mengingat tugas dewan ialah mengawasi kinerja dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

“Saya rasa itu hal wajar, mengingat  pengawasan terhadap kinerja BEM merupakan tugas DPM, adanya rekomendasi tersebut membuktikan bahwa dewan peduli terhadap BEM dan telah melakukan  survey terhadap warga KM Unand,” kata Randi saat diwawancarai kru Genta Andalas pada Selasa (22/10/2019).

Adapun beberapa poin rekomendasi yang diajukan DPM agar Ismail Zainuddin turun dari pemerintahannya ialah; berkurangnya kepercayaan dari warga KM Unand terhadap BEM KM Unand, kondisi internal BEM KM Unand yang dinilai kacau dan menghindari risiko yang berdampak terhadap BEM KM Unand. Poin ke tiga, Randi mempertanyakan tolak ukur dari dewan dalam mempertimbangkan alasan tersebut sebagai poin rekomendasi penurunan presma.

Randi juga tidak menutup kemungkinan bahwa anggota dewan telah melakukan survey kepada warga KM Unand, sehingga dapat menyimpulkan turunnya kinerja BEM KM Unand. Dikarenakan keputusan Presma telah berkeluarga, kemungkinan dari hasil survey DPM terdapat ketidak percayaan dari warga KM Unand. Ini juga menjadi kali pertama dalam sejarah kepemimpinan BEM, terdapat Presma yang berkeluarga dalam kepengurusannya, dan ini merupakan hal baru di lingkungan Unand.

BACA JUGA:  Sun Project 2019, Ajang Kreatifitas UKS FP Unand

Randi juga menambahkan bahwa kepengurusan BEM saat ini berasal dari kepribadian yang berbeda-beda bahwa kepengurusan BEM diisi oleh anggota yang homogen artinya berasal dari satu kubu itu salah. Menyambung perihal surat rekomendasi DPM, setelah BEM menerima surat tersebut, BEM melakukan berbagai evaluasi untuk membuktikan bahwa kinerja BEM akan tetap baik.

Randi juga menyampaikan bahwa Presma melimpahkan kepresidenannya untuk sementara kepada Wapresma.

“Sebenarnya perwakilan kekuasaan yang dilimpahkan Presma kepada saya, diberikan ketika masyarakat KM Unand sedang melaksanakan libur sehingga tugas-tugas sebelumnya pun sudah terselesaikan dengan baik,” kata Randi menutup pembicaraan.

Hal serupa juga diungkapkan oleh  Ismail. Menurutnya, tuntutan DPM tersebut adalah hal yang wajar. Meski sejatinya, Ismail terang-terangan menolak surat rekomendasi tersebut. Fungsi dan amanah kepresidenan sudah dilimpahkan kepada Wapresnya saat Presma mengambil cuti selama tiga minggu.

“Tuntutan tersebut dilandaskan pada pertimbangan yang tidak wajar, cuti selama tiga minggu karena masalah pribadi kemudian amanah, fungsi dan tugas Presma telah dialihkan kepada Wapresma. Tuduhan bahwa presiden menghilang tidak benar, saya cuti dengan alasan yang jelas,” ujar Ismail selaku Presma KM Unand.

BACA JUGA:  Tingkatkan Pengetahuan Sadar Bencana, Kosbema Adakan DME

Di samping itu, Ismail justru mempertanyakan penilaian DPM bahwa KM Unand sudah berkurang kepercayaannya kepada BEM KM Unand.

“Survey yang dilakukan oleh dewan juga saya pertanyakan, darimana dan siapa warga KM Unand yang telah disurvey? Hanya sebagian warga yang didengarkan oleh dewan, tidak semuanya, undang-undang dan ayat mana yang saya langgar?” kata Ismail.

Ismail juga menjelaskan terkait SP 1 yang diterimanya dari DPM karena tidak mengindahkan panggilan dari DPM. Ketika DPM sedang sidak dan melihat kepresidenan tidak ada di tempat, itu wajar karena memang kita menjalankan tugas, ke jalanan seperti aksi dan tugas lain, bahkan hampir setiap minggunya menjalankan tugas ke luar kota untuk konsolidasi BEM dan sebagainya.

Beda lagi ketika tidak hadir dalam rapat, wapres sedang berkegiatan diluar dan Presma sedang tertimpa musibah kecelakaan. Dalam  wawancaranya, Ismail juga menyampaikan bahwa seharusnya sebelum merekomendasikan surat, ada baiknya untuk melihat seluruh aspek kondisi di lapangan, seperti kegiatan lapangan  yang sering dilakukan. Jadi, ungkap  Ismail, adanya dinamika konflik seperti ini bukanlah hal yang wajar, “Harusnya kita didalam satu kubu harus saling support,”  tegas Ismail mengakhiri wawancara.

Reporter : Efi Fadhillah dan Anggi Putri Rizkya

Editor : Ramadanil Fajri

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here