Beranda Aspirasi

Refleksi Menjelang Tahun Baru 2020

Oleh : Tiwi Veronika*

Ilustrasi : Gifra Sentia

Perayaan tahun baru hanya tinggal hitungan jam, sebentar lagi tahun 2020 akan datang. Di tahun baru setiap orang berharap kehidupannya akan lebih baik dari sebelumnya, dengan semangat baru di tahun baru sehingga diharapkan dapat menghasilkan sebuah pencapaian.

Tidak sedikit orang di berbagai belahan dunia merayakaan tahun baru dengan berpesta, hura-hura bahkan ada yang karaokean hingga pagi hari. Dilansir dari liputan6.com, pada malam pergantian tahun baru semua orang tentu akan merayakannya bersama orang tercinta. Masyarakat akan tumpah ruah di jalanan menikmati malam yang penuh dengan keramaian. Hal tersebut tentunya akan menyebabkan kemacetan dan tempat-tempat wisata pun akan sesak oleh orang-orang yang ikut merayakan malam itu.

Kembang api, petasan, dan terompet adalah hal yang identik dan selalu ada ketika perayaan tahun baru. Pada saat kita menyalakan berbagai jenis petasan ke udara, langit akan dihujani dengan kabut asap petasan tersebut. Memang terlihat menarik dengan adanya cahaya dan bunyi-bunyian. Namun, pada kenyataannya petasan ataupun kembang api memberikan dampak buruk terhadap manusia, seperti suara yang memekakkan telinga, polusi udara karena kandungan kimia yang terdapat di dalamnya, pencemararan, ledakan yang dapat melukai, serta akan mengganggu kesehatan manusia bahkan kematian. Seperti kasus yang terjadi di Manado, Sulawesi Utara, seorang bocah berusia 5 tahun meregang nyawa setelah terkena petasan kembang api.

BACA JUGA:  Izin Kegiatan Malam Masih dalam Fase Perhatian

Masyarakat akan terlihat begitu antusias dalalm menyambut momen pergantian tahun baru ini, mulai dari kalangan anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Momen tahun baru ini seakan hari besar yang ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat di dunia. Hal itu memang terlihat wajar, karena momen ini datangnya hanya setahun sekali. Tidak heran jika banyak orang yang menghabiskan uangnya hanya demi sebuah perayaan pergantian tahun.

Sebenarnya perlu digarisbawahi bahwa momen pergantian tahun bukan sebuah malam perayaan yang besar. Sebuah pemikiran yang keliru, jika tidak tahun baru tanpa pesta. Banyak orang yang beranggapan kalau ada tahun baru berarti akan ada perayaan besar.

BACA JUGA:  Aplikasikan Ilmu untuk Indonesia Bebas Karies tahun 2030

Sebagai anak muda yang berpendidikan di generasi milenial, seharusnya kita memberikan contoh yang baik untuk semua kalangan mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Menyambut tahun baru tidak mesti dengan perayaan pesta pora, kita bisa melakukan banyak hal positif lainnya seperti membaca Al-Quran bersama keluarga, mengikuti pengajian, bersedekah, atau dengan membuat acara syukuran untuk menciptakan momen tahun baru. Selain dapat mengurangi kemacetan, meminimalisir tindakan kriminal, dan kemaksiatan, kegiatan ini tentu lebih bermanfaat dari pada membelanjakan uang hanya untuk membeli petasan dan kembang api.

Sebagai umat beragama, alangkah lebih baik jika perayaan tahun baru menjadi ajang pendekatan diri kepada Sang Pencipta, selain untuk introspeksi diri. Dalam alquran surah An-Nisa ayat 79 telah disebutkan “Kebaikan apa saja yang kamu peroleh melainkan datangnya dari Allah dan keburukan apa saja yang menimpamu melainkan itu dari ulahmu sendiri”.

 

*Penulis merupakan Mahasiswi Jurusan Peternakan
Fakultas Peternakan Universitas Andalas 2017

Berita Lainnya

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here