Home Aspirasi

Refleksi Bencana Tahun Lalu Untuk Menyongsong Masa Depan Bangsa Yang Lebih Bijaksana

Oleh: Rian Rahman*

Sebagian orang mungkin heran membaca judul di atas. Terdapat ambiguitas dalam judul tersebut yang mungkin karena biasanya orang menyandangkan kalimat “Yang Lebih Baik” setelah kata “Masa Depan”, bukan malah yang tertera pada judul di atas. Perlu disadari isi tulisan ini nantinya membahas upaya refleksi tahun 2018 kemarin, merenungkan serta memetik ibrah dari sekelumit kejadian musibah yang menimpa bangsa dan tanah air. Oleh karenanya, sikap “Bijaksana” terutama pemerintah, agar serangkaian rentetan musibah tahun lalu dapat disikapi dengan cermat, melakukan sikap preventif supaya tak akan terulang lagi demi kemaslahatan masyarakat bangsa dan tanah air.

Menjelang akhir tahun 2018, kita semuanya dikejutkan dengan peristiwa gempa yang terjadi di Lombok, NTB. Gempa yang berkekuatan 7 SR terjadi pada awal bulan Agustus, membuat korban berjatuhan 390 orang. Kemudian di daerah Utara Indonesia, tepatnya Kota Palu dan Donggala juga mengalami hal sama pada tanggal 28 September. Kekuatan gempa 7,4 SR yang memicu gelombang tsunami saat pukul 18.00 waktu setempat meluluhlantakkan dua daerah tersebut, sehingga ribuan korban berjatuhan. Dua kejadian gempa tersebut mengguncang publik seluruh tanah air, menyisakan duka mendalam, dan membuat para relawan segera sigap ke lokasi untuk evakuasi.

Akhir Desember 2018, tepatnya pada 23 Desember, kita lagi-lagi dihadapi dengan musibah tsunami yang terjadi di bagian barat Indonesia. Provinsi Banten dan Lampung diterjang bencana tsunami yang menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ditengarai oleh longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang pasang akibat bulan purnama. Sekitar 429 korban meninggal. Memang saat-saat genting itu seluruh publik sangat terpukul. Lebih lebih bencana tersebut membuat  tiga orang personil band Seventeen meninggal.

Sekarang, serangkaian bencana yang menimpa beberapa daerah di Indonesia menyisakan kenangan pahit bagi anggota keluarga korban yang ditinggalkan. Membuat hati dirundung pilu bila mengingatnya. Namun, jika kita sedikit berpikiran visioner demi masa depan bangsa pada tahun 2019 ini, alangkah baiknya kita menumbuhkan sikap bijaksana dalam menyikapi peristiwa tersebut. Kita tidak boleh terlalu dalam meratapinya. Mengapa itu bisa terjadi? Bagaimana itu bisa terjadi? Tidakkah ada peringatan dari pihak terkait agar tidak memakan korban sebegitu banyaknya? Bagaimanakah pemerintah kita ini? Dan seabrek pertanyaan lain yang sebetulnya tidak memberikan dampak berarti bagi perbaikan ke depan jika kita hanya bertanya kosong tanpa “action“.

Belajar dari Bencana Masa Lalu

Belajarlah dari Sejarah. Memang pantas dan sangat cocok sekali jika kalimat “Belajarlah dari Sejarah” salah satunya kita terapkan untuk menjadi bagian dari Ideologist–Resolution kita. Memang tak pernah kita duga sebelumnya ataupun kita terka bahwa bencana itu dapat terjadi begini, dalam skala ini, di tempat ini. Sebetulnya itu hanyalah dugaan manusiawi yang terkadang banyak melesetnya. Sebagai manusia yang dikarunia akal oleh Sang Pencipta, setidaknya jika musibah telah terjadi, sikap yang harus ditanamkan adalah “Bagaimana musibah itu dapat dicegah semaksimal mungkin agar tidak banyak lagi korban berjatuhan”. Sikap preventif ini seharusnya dikedepankan agar dapat mengurangi dampak serius dari terjangan bencana itu.

“Belajarlah dari Sejarah”. Masa-masa di tahun 2018 memang menorehkan sejarah buruk bangsa, karena menurut data yang dihimpun oleh Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebanyak 23 gempa yang merusak terjadi sepanjang tahun 2018. Sejarah gempa di tahun 2018 lalu bertambah naik dibandingkan tahun 2017 yang hanya 19 kali. Di sini, jika kita sedikit jeli dalam mengkritisi bencana tersebut, maka yang timbul adalah usaha merumuskan bagaimana mengurangi dampak-dampak yang sebegitu besar oleh bencana itu kedepannya.

Solusi yang ditawarkan jika kita merenungi kalimat “Belajarlah dari Sejarah” adalah dapat dipahami sebagai usaha diri kita sendiri dulu dalam menyikapi berbagai ketidakmungkinan yang bisa terulang serupa di tahun 2019 ini atau bisa juga lebih dahsyat lagi, sehingga menambah beban bangsa kita tahun demi tahun. Belajarlah dari peristiwa sejarah masa lampau, memetik pelajarannya dan tidak lupa kita terapkan dalam hidup dan kehidupan sehari-hari. Barangkali jika diperinci, solusi tersebut misalnya seperti ini. Jika kita telah mengetahui bahwa di daerah pesisir atau 2-3 kilometer darinya merupakan red zone dalam bencana gempa, kenapa kita masih berpikir santai serta masa bodoh dan tidak ada rasa waspada sama sekali terhadap gempa kecil dan parahnya mengatakan “Jika takdir Tuhan, maka kita akan lenyap, percaya aja sama takdir” tanpa melakukan upaya evakuasi dini. Paling parahnya juga, sudah bertubi-tubi bencana, belum juga mengetahui cara evakuasi yang baik dan benar. Inilah yang dimaksud dengan “Belajarlah dari Sejarah”.

Bagi pemerintah, bisa dikatakan sangat cocok jika menerapkan frasa “Belajar dari Sejarah”. Upaya pemerintah sebagai aktor utama dalam menyikapi bencana dengan mengedukasi ke masyarakat, terlebih bagi masyarakat daerah yang rawan gempa, misalnya memberikan pemahaman evakuasi awal atau evakuasi lanjutan bagi masyarakat, memberikan pemahaman tentang seluk beluk gempa, atau mendirikan shelter tahan gempa di daerah dekat pantai, atau bisa menciptakan alat deteksi otomatis gempa di lautan, menyebarkan peta-peta yang berisikan mana daerah red zone atau safe zone di daerah yang rawan bencana, dsb. Jika dituliskan lebih lanjut, maka banyak sekali tindakan-tindakan besar atau kecilnya yang sangat signifikan bagi pengurangan dampak buruk dari gempa.

Membangkitkan Rasa Kesadaran

Sebetulnya, sikap siaga bencana ini yang kurang dari masyarakat bangsa kita.  Pemerintah dalam hal ini juga terlalu minim sosialisasi kepada masyarakat, sehingga perubahan ke arah lebih baik yang didengungkan seakan hanya sebatas wacana dan tidak ada realisasi lebih konkret dan jelas.

Jangan harap kita ingin terhindar dari dampak buruk bencana, sedangkan kita tidak mempelajari peristiwa bencana masa lampau itu sebagai upaya perbaikan ke depan. Makin sadisnya, memelihara sikap acuh tak acuh terhadap bencana itu. Untuk itu, frasa “Belajarlah dari Sejarah” mengingatkan dan memberikan sebuah pemaknaan yang dalam akan berbagai gonjang-ganjing peristiwa bencana di tanah air.

Belajarlah dari sejarah dan sejarah mengajarkan kita. Sebetulnya, jika kita membuka mata dan merenungkan lebih dalam lagi frasa itu, yakinlah di tahun 2019 yang belum pasti bagaimana “sejarah” yang ditorehkannya, seminimal mungkin kita lakukan upaya refleksi dari tahun lalu guna menyongsong masa depan bangsa yang lebih bijak dalam menyikapi berbagai isu-isu destruktif dan terjangan bencana khususnya.


*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

 

NO COMMENTS

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here