Beranda Aspirasi Realita “Pemuda Zaman Now”

Realita “Pemuda Zaman Now”

Illustrator : Ade Rahmat Syarif

Hari ini, tepat 89 tahun Indonesia memperingati salah satu momentum luar biasa bangsa besar ini, yaitu Hari Sumpah Pemuda. Bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu yaitu Bahasa Indonesia. Pemuda masa lalu, pemuda masa kini, dan pemuda di masa yang akan datang. Kira-kira begitulah makna di balik perayaan momentum ini.

Di zamannya dulu, pemuda Indonesia terkenal dengan jiwa yang membara penuh semangat juang. Mempunyai keinginan yang besar untuk membangun bangsanya dan membangun pemudanya. Bahkan Bung Karno pun teramat sangat yakin dengan kemampuan pemuda di zamannya. “Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Sebegitu dahsyatnya kekuatan pemuda di zaman itu, bahkan mereka mampu mengusir penjajah hingga meraih bendera kemerdekaan.

Memasuki era milenial, entah mengapa perlahan semangat itu berubah konotasinya. Mengisi kemerdekaan bangsa dengan cara yang berbeda. Sebagian orang mengganggapinya hal yang positif dan bermanfaat. Akan tetapi sebagian lainnya menganggap justru kebalikannya. Di era serba digital ini, banyak kemudahan yang ditawarkan bagi para pemuda bangsa ini untuk berkembang dan berkarya. Bukan tak sedikit pemuda yang jaya namanya di kancah nasional dan internasional karena karya dan prestasi mereka. Bukan tak sedikit pula yang bersekolah hingga keluar negeri karena kemampuannya yang mumpuni. Walaupun pada akhirnya memilih berkarir di negara lain.

Ketika realita “pemuda zaman now” hadir, justru banyak decak kecewa menghampiri. Seolah segala prestasi dan karya yang selama ini yang mengangkat nama pemuda, perlahan tertutupi akibat ulah “generasi micin”. Bagaimana tidak, banyak fenomena hari ini yang bertebaran di dunia maya dan membuat para netizen menjadi nyinyir. Mulai dari anak kecil yang gaya pacarannya melebihi orang dewasa, tindakan bullying yang masih marak di sekolah, pesta vape anak SD, pesta narkoba dari kalangan anak sekolah hingga kuliah, pergaulan bebas, hingga seks bebas yang merajalela. Dalam berkomunikasi pun mulai muncul bahasa gaul (slang) yang mengubah kaidah berbahasa Indonesia seperti kuy (yuk,) sabi (bisa), salfok (salah fokus), dan lain-lain. Anak-anak yang merupakan cikal bakal pemuda pemudi Indonesia kini sudah sangat memprihatinkan kondisinya. Mulai dari pendidikan hingga pergaulan yang ada di lingkungan mereka tidak lagi ramah. “Generasi micin” ini semakin merangas dan butuh “rehabilitasi kepribadian” agar tidak menjadi rusak di masa depannya.

Tapi tak bisa pula dipungkiri bahwa pemuda yang akan dijadikan contoh justru sedang memberikan contoh yang tidak baik pula. “Pemuda zaman now” yang tidak pernah terlepas dari gaya hidup serba instan mulai menunjukkan sikap yang tidak bernorma. Berkomentar dengan bahasa kasar jika ada postingan viral di internet, bangga mengunggah perbuatan tercelanya, dan menyalahgunakan kemudahan sosial media. Contoh nyatanya pemuda pemudi panutan “pemuda zaman now” seperti Awkarin, Young Lex, Anya Geraldine, dan lainnya lagi. Bagi mereka “bad is good and I’m good in bad”. Seolah selogan ini menjadi tren dan membuat pemuda yang belum “kokoh” jiwanya mudah terbawa dan menuhankan hal-hal seperti ini.

Kondisi “pemuda zaman now” tidak bisa dikatakan masih berada dalam zona aman. Ibarat gunung yang akan meletus bahkan sudah bisa ditetapkan status awas. Hal ini akan sangat merusak calon generasi pemuda selanjutnya. Jika dari kecil saja panutannya sudah salah, bagaimana mereka nantinya di masa depan. Bangsa ini rindu akan hadirnya pemuda sekuat Jenderal Soedirman, pemudi setangguh Martha Kristina, pemuda berprestasi seperti Lilyana Natsir yang sanggup menghipnotis seluruh pemuda pemudi bangsa agar segera berkarya dan membangun bangsa lewat cara kreatifitasnya masing-masing.

Kehadiran “Pemuda zaman now” yang merangas dan mayoritas memang mampu menutupi pemuda pemudi yang berkarya dan berpretasi karena mereka masih minoritas. Lalu, salah siapakah kalau sudah begini “pemuda zaman now”?

Perlu kesadaran dari kita bersama tentang fenomena “pemuda zaman now” yang sudah merangas ini. Meskipun tidak semua pemuda Indonesia yang berkelakuan seperti ini, tapi sebagian golongan yang melakukan ini akan menutup citra baik pemuda Indonesia selama ini.

Penulis : Lailatul Zuhri Indriani (Mahasiswa Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Andalas)

 

 

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here