Home Berita

Rayuan Sejarah dan Arsitektur Masjid Raya Gantiang

Masjid tertua di Kota Padang yang menjadi saksi sejarah.

Berbicara tentang tempat ibadah, banyak yang beranggapan tempat ibadah hanya sebagai tempat berserah diri pada Tuhan saja. Tapi masjid yang pernah saya kunjungi ini menyimpan cerita tentang masa lalu, tentang bagaimana sebuah masjid yang juga ikut berjuang dimasa sebelum Indonesia merdeka. Masjid ini merupakan masjid tertua yang dibangun sekitar abad ke-17. Berlokasikan di Kelurahan Parak Gadang, Kecamatan Padang Timur, Padang, Sumatera Barat. Letaknya yang strategis memudahkan para pengguna jalan yang berlalu-lalang singgah memarkirkan kendaraannya di lahan parkir yang cukup luas, beribadah atau sekedar menikmati bangunannya saja. Itulah Masjid Raya Gantiang yang dibangun dengan dua menara yang menjulang tinggi dan selalu menggemakan seruan azan, menghimbau umat muslim sekitaran Gantiang untuk segera melaksanakan kewajibannya berserah diri kepada Sang Khaliq.

Setelah saya memasuki halaman berpagar besi kuno, tampak jejeran pintu kuno pada beranda bagian muka yang diapit oleh dua menara dan kubah utama yang mirip dengan Wihara Cina. Tak lupa juga tampak julangan bulan bintang yang menunjukkan pengaruh islam. Warna putih menjadi ciri khas masjid ini. Namun, baru-baru ini dicat ulang dengan mempertahankan warna khasnya dan mangganti paduannya dengan warna hijau yang menyejukkan mata.

Saat berkunjung kesana, saya langsung dijamu oleh akulturasi budaya yang terukir pada arsitekturnya. Perpaduan budaya pada model bangunan yang menjadi keunikannya ini, tetap dipertahankan oleh masyarakat sekitar setelah penolakan banyak tawaran renovasi ulang dari berbagai pihak. Bangunan ini memadukan beragam etnik seperti Persia, Timur Tengah, Cina dan tentunya Minangkabau yang menggambarkan jiwa gotong-royong dan keterbukaan nenek moyang terdahulu. Bangunan Masjid Raya Gantiang ini berdiri kokoh serta mampu membuat setiap pandangan kembali ke masa lalu dengan keunikan yang disajikannya.

Memasuki ruang utama masjid, terdapat jejeran tiang dengan ukiran kaligrafi yang bertuliskan nama-nama Nabi dan Rasul di tiap-tiap tiang yang sengaja dibuat sebanyak 25 buah. Lantai keramik berbentuk persegi enam berhiaskan bunga yang merupakan  salah satu bantuan Belanda atas kompensasi pembangunan jalan pada sepertiga tanah waqaf masjid. Pembangunan ini merupakan jalan utama untuk pengangkutan semen dari Indarung ke pelabuhan Emma Haven (Teluk Bayur). Setiap saya memandangi setiap sudut masjid ini hanya decak kagum yang bisa saya berikan untuk masjid ini.

Salah satu pengurus Masjid Raya Gantiang Meta Rahyuni menjelaskan bahwa lokasi Masjid Raya Gantiang dahulunya bukan di atas tanah ini. “Sebelumnya masjid ini berlokasi di kaki Gunung Padang, namun dihancurkan pemerintah Hindia-Belanda karena alasan pembangunan jalan utama,” ungkapnya. Pembangunan kembali dilakukan pada tahun 1810, berjarak 4 km dari lokasi sebelumnya dengan ukuran 30 x 30 m. Kemuadian diikuti dengan renovasi-renovasi dari banyak pihak.

Kini masjid ini juga dilengkapi dengan 2 kamar garin, 1 kamar khatib atau tamu, gudang, serta perpustakaan yang berisikan buku-buku seputar agama yang dapat dipinjamkan atau dibaca, namun tidak diperbolehkan untuk dibawa pulang. Selain itu masjid ini juga mempunyai kegiatan rutin diantaranya kultum rutin setelah salat Subuh dan Dzuhur, wirid remaja, dan wirid malam setiap Rabu dan Minggu.

Masjid ini pernah didatangi oleh tokoh-tokoh besar seperti Susilo Bambang Yudoyono, Jokowi, dan Karni Ilyas. Selain itu tempat ini juga merupakan salah satu tempat pengungsian Bung Karno dan Bung Hatta dari masa pembuangannya di Bengkulu. Tak heran masjid ini ditetapkan menjadi salah satu cagar budaya wilayah Sumatera Barat pada tahun 2010, yang diserahkan oleh pemerintah daerah Kota Padang untuk diurus sepenuhnya oleh masyarakat Gantiang. Masjid bersejarah ini juga meninggalkan benda-benda bersejarah diantaranya beduk yang panjangnya sekitar 4 meter namun kini hanya sebagai pajangan dan tak dapat digunakan karena kulit sapinya yang telah rusak. Dan selain itu terdapat sebuah keramik dengan ukiran bahasa arab yang terpampang di beranda depan masjid, yang menurut keterangan narasumber, benda itu diperkirakan monumen peresmian masjid pada saat itu.

Harapannya semoga masjid ini menjadi sebuah yayasan agar kegiatan keagamaan berjalan lancar dengan dikelola oleh pembina, pengurus, dan pengawas dibawah perlindungan hukum. Wacana dilontarkan karena terdapatnya pungutan liar seperti pembayaran  parkir dan penitpan sandal oleh pemuda sekitar tanpa koordinasi dengan pengurus masjid hingga membuat beberapa jamaah mengeluh.

Saya sendiri yang mengunjungi tempat ini benar-benar terkagum dengan bentuk arsitekturnya. Rasanya seperti kembali ke zaman klasik. Apalagi sholat di masjid raya gantiang ini Menimbulkan ketenangan batin sendiri bagi saya. Hanya saja pungutan liar yang dilakukan beberapa pemuda di sana membuat saya merasa kecewa sebagai penduduk Kota Padang. Namun, di balik kekecewaan itu pengunjung tetap dapat menyaksikan sebuah bukti sejarah yang menawan.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Andalas

NO COMMENTS

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here