Beranda Berita

Pilkada Serentak dan Sikap Masyarakat Terhadap Pemilu 

Diskusi online di aplikasi WhatsApp.

gentaandalas.com- Sebentar lagi aroma persaingan politik akan dirasakan serentak di 17 provinsi dan 154 kabupaten dan kota di Indonesia pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2018. Hasilnya akan ditentukan saat pemungutan dan perhitungan suara tanggal 27 Juni 2018 mendatang. Sebagai warga negara yang memiliki hak dan kewajiban tentu menginginkan pemimpin yang membela negara, cerdas, dapat dipercaya, dan menyampaikan kebenaran.

Demikian disampaikan oleh Ketua Umum GPII Provinsi Sumatera Barat, Jimmi Syah Putra Ginting pada diskusi online Kawal Pilkada Serentak yang berlangsung di aplikasi WhatsApp pukul 21.00 – 23.23 WIB, Sabtu (27/1/2018) diikuti mahasiswa se-Indonesia.

“Kami bangga, karena sebentar lagi akan dihadapkan pada momentum Pilkada serentak. Bangsa Indonesia akan memilih pemimpin daerah mereka masing – masing dengan menggunakan hak politik dan kedaulatannya,” kata Jimmi.

Manfaat dari pilkada seretak ini, kata Jimmi, adalah perencanaan pembangunan antara pusat dan daerah akan lebih sinergis, karena tidak perlu berulang kali ke bilik suara untuk menentukan pilihan dan lebih efisien waktu.

“Tujuan Pilkada adalah lahirnya pemimpin yang berkualitas dan sesuai harapan masyarakat,” ujar mantan ketua KAMMI periode 2012 – 2015 ini.

Pemilu merupakan sarana mewujudkan kedaulatan rakyat, masyarakat harus sadar dengan kedaulatannya sendiri. Hal yang paling penting dalam Pemilu adalah kematangan dari masing – masing partai politik (Parpol), seperti tidak melakukan politik uang, tidak menggunakan jaringannya di birokrasi.

“Politik kotor yang dinilai masyarakat yaitu parpol yang tidak memiliki kematangan dalam berpolitik, karena dasar politik itu tugas mulia yang menyangkut kemaslahatan masyarakat,” ujarnya.

Sebagai generasi muda dan aktivis kampus perlu untuk mengawal lancarnya proses yang sehat, jujur dan konstruktif. Caranya menggunakan hak pilih serta mengajak masyarakat sekitar menggunakan hak pilihnya.

Salah seorang mahasiwa Institut Teknologi Padang Hendra Syahputra memberikan tanggapannya bahwa sebagai agent of change, mahasiswa zaman sekarang terbentur oleh tiga kondisi, diantaranya mahasiswa yang prakmatis yaitu terikat dengan Parpol, kemudian mahasiswa apatis merupakan mahasiswa yang hilangnya kepedulian dengan lingkungan sekitar, serta mahasiswa idealisme yang tidak mampu menempatkan posisinya secara idealis, karena kurangnya filsafah dan keilmuannya.

“Mahasiswa sekarang tidak berani keluar untuk menganalisis dan mempertajam idealisme dan terjun kemasyarakat untuk mencegah maraknya money politik,” kata Hendra.

Senada dengan Hendra, peserta lain Yodivalno Ikhlas berpendapat seharusnya mahasiswa lebih mampu dalam mengoptimalkan modal sosialnya, namun permasalahannya adalah mahasiswa saat ini terlalu takut untuk maju menyuarakan hak logistiknya.

“Dengan keadaan bangsa saat ini, perlu untuk menekankan peningkatan efektivitas rakyat, terutama mahasiswa sebagai penerus generasi bangsa,” tuturnya.

 

Reporter : Metria Indeswara

Editor      : Endrik Ahmad Iqbal

1 KOMENTAR

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here