Oleh : Efi Fadhillah*

(Genta Andalas/Riski Wahyudi)

Berprofesi sebagai petani mungkin bagi sebagian orang dianggap sebagai pekerjaan remeh. Namun, pernahkah terpikir jika di dunia ini tidak ada petani? Tidak ada yang menanam padi bagi masyarakat yang makanan pokoknya beras, tidak ada yang menanam gandum bagi penggemar mi instan, dan tidak ada yang menanam sayur sehingga dapat mengakibatkan gagalnya program diet. Karenanya, tak dapat disangkal jika kepanjangan dari “Petani” adalah Penyangga Tatanan Negara karena kegiatan pemerintahan dan lainnya dalam suatu negara akan terputus jika pelakunya tidak sehat akibat kurang konsumsi hasil pertanian.

Generasi milenial tercatat sebagai pengguna teknologi lebih banyak dari generasi-generasi sebelumnya, seharusnya dapat mengembangkan ide pertanian modern dan menghilangkan kesan-kesan negatif bagi petani. Apalagi alat-alat yang ada saat ini sudah semakin canggih. Kemampuan memanfaatkan teknologi oleh milenial, terkhususnya dalam bidang pertanian dapat membuka lapangan pekerjaan ‘tak baru’ namun modern yaitu petani milenial.

Dikutip dari Kompas.com, seorang petani milenial organik dengan latar belakang pendidikan sastra inggris telah memiliki 80 pelanggan rumah tangga, supermarket, dan restoran yang memasok produk sayuran darinya. Kemudian, petani jamur tiram milenial asal Pangalelangan mampu meraih omzet Rp 165 juta.

Dalam kegiatannya, bertani memang tidak terlalu mudah meskipun terlihat sederhana. Dua sosok petani milenial sebelumnya, pernah mengalami jungkir balik yang tidak mudah sebelum menjadi sukses. Namun, ketika ‘trik’ dalam budidaya pertanian ini telah dikuasai maka keuntungan akan senantiasa mengalir selama pertanggungjawaban kualitas produk yang dihasilkan dapat dipertahankan.

Berbagai cara bercocok tanam yang perlu diketahui milenial ‘anti lumpur-lumpur club’. Adalah budidaya pertanian secara hidroponik atau aquaponik yang memanfaatkan air sebagai media tanam. Teknik ini tidak membutuhkan lahan yang luas, alat penahan air yang digunakan biasanya menggunakan paralon yang dilubangi bagian atasnya. Pada skala pekarangan, hasil bertani tanaman hidroponik dapat digunakan untuk konsumsi pribadi dan keluarga. Pada skala industri pertanian kecil, keuntungan dapat diraup sekitar Rp 5 juta. Pada skala industri yang lebih besar, keuntungan akan berlipat juga lebih banyak.

Sebagai masyarakat yang tergolong milenial dan tertarik degan pertanian, saya pernah mengikuti suatu seminar mengenai teknik pengembangan pertanian modern menggunakan big data. Teknik ini melibatkan engineer, ahli IT, dan petani. Petani memastikan apa saja yang dibutuhkan oleh tanaman selama masa budidaya, seperti kebutuhan air, waktu pemupukan, dan lainnya. Kemudian engineering dan ahli IT akan membuat suatu alat yang dapat bekerja sesuai data yang telah ditentukan untuk melakukan pemupukan dan pengairan.

Jika dilihat dari kanal Youtube luar negeri seperti, World Economic Forum, Quartz, Freethink, dan yang lainnya telah banyak diberitahukan mengenai kegiatan pertanian milenial masa kini yang dapat dilakukan didalam ruangan dan kemungkinan pertanian untuk masa depan. Tidak berhenti pada budidaya, kegiatan pemuliaan tanaman dan bioteknologi pertanian juga sudah sejak lama dipelajari khususnya bagi mahasiswa pertanian. Untuk memenuhi variasi keinginan masyarakat dalam memilih bahan makanan, seperti rasa buah yang manis, tekstur yang lebih halus dan lainnya.

Seiring perkembangan zaman, manusia dituntut untuk lebih kreatif dalam pemanfaatan ruang dan waktu. Ruang yang semakin sempit akibat pertambahan jumlah manusia, bangunan dan penambahan luas jalan untuk mengurangi kemacetan. Sehingga petani dan milenial harus tetap bergerak dengan kreativitas untuk menghasilkan produk yang dapat memenuhi kebutuhan masing-masing dan masyarakat.

Kreativitas, pengetahuan, dan aksi adalah metode pertahanan diri yang baik dalam menghadapi perkembangan zaman. Jika semua orang menjadi tenaga medis, PNS, pegawai, dan lainnya sementara ilmu dan praktik pertanian modern dihilangkan dan diremehkan maka tatanan negara sulit ditata akibat masyarakat yang mengandalkan impor dan pekerja yang kesulitan menyeimbangkan kebutuhan pangan hasil impor yang mahal. No farm no food, no food no life.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Agroteknologi 2018 Fakultas Pertanian Universitas Andalas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here