Beranda Aspirasi

Perbaiki Kualitas Anak Bangsa Melalui Edukasi Keluarga

Ilustrasi : Gifra Sentia

Oleh: Anjasman Situmorang*

Kahlil Gibran melalui puisinya yang berjudul “Anakmu Bukan Milikmu” pernah berkata, “Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.” Perumpamaan ini seakan memberikan gambaran kepada kita, bahwa sejatinya orangtua menjadi aktor penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ke mana orangtua mengarahkan dan melepaskan anaknya, itu juga arah yang akan dituju oleh anak.

Tepat 23 Juli ditetapkan sebagai Hari Anak Nasional sesuai dengan Keputusan Presiden RI nomor 44 tahun 1984. Dikutip dari tribunnews.com, Hari Anak Nasional dicetuskan oleh Presiden Soeharto. Pemerintah pun juga melakukan berbagai upaya untuk menjamin kesejahteraan dan perlindungan terhadap anak. Mulai dari UU No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak hingga pembentukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Kemudian pada era Susilo Bambang Yudhoyono jilid kedua, Kementerian Pemberdayaan Perempuan berganti nama menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Hal ini mengingat betapa pentingnya anak-anak di Indonesia sebagai generasi emas pelurus bangsa. Dengan demikian, sifat dan mentalitas yang baik menjadi modal utama yang diperlukan untuk membangun negeri ini.

Pembentukan mental dan karakter anak perlu diperhatikan sejak usia dini sebagai bekalnya dalam menjalani kehidupan kelak. Menurut KBBI, mental berarti bersangkutan dengan batin atau watak manusia. Kemudian karakter yang berarti tabiat, sifat-sifat kejiwaan. Hasil dari kedua hal tersebut ditentukan oleh peranan keluarga sebagai orang terdekat dari anak sejak dia lahir.

Sifat menjadi sebuah warisan kepada anak yang tidak akan habis dimakan waktu. Benar kata pepatah, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Peribahasa lain mengatakan, “Air cucuran atap jatuh ke pelimbahan juga.” Dua peribahasa tersebut cukup memberikan penjelasan pada kita bahwa baik buruknya seorang anak, ditentukan oleh bagaimana dan apa ajaran yang didapatkan dari orangtua. Namun, saat ini bukannya pendidikan, justru kekerasan yang masih sering terjadi pada anak.

BACA JUGA:  Polemik BEM KM Unand, DPM KM Unand Rekomendasikan Presma Unand Undur Diri

Dikutip dari detik.com, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menjelaskan bahwa kasus kekerasan pada anak Januari hingga April 2019 masih terbilang tinggi. Anak dapat bertindak seperti apa yang pernah dia alami. Ketika anak mengalami tindakan kekerasan fisik sejak kecil, maka terdapat kemungkinan suatu saat dia melakukan hal yang sama kepada orang lain. Entah berapa jumlah kasus kekerasan pada anak dalam keluarga yang terjadi, baik itu yang terungkap maupun tidak. Ini menjadi pertanda bahwa hak anak yang telah diatur dalam undang-undang belum terlaksana. Keluarga harusnya memberikan pendidikan, memberikan kasih sayang, memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani anak, namun yang terjadi justru sebaliknya. Bahkan beberapa kasus yang terungkap masih marak terjadi penelantaran anak.

Kekerasan pada anak tidak selalu berbentuk fisik, namun juga psikis maupun seksual. Apa yang tidak bisa dilakukan pada era milenial saat ini? Lebih modern lagi, kekerasan seksual pada anak sekarang dilakukan melalui media sosial. Belakangan diketahui modus ini dikenal dengan istilah grooming yang akhir-akhir ini menjadi modus baru kekerasan seksual pada anak. Dilansir dari detik.com, terungkap kasus grooming dengan korban mencapai 50 orang anak.

Bukan hanya sekedar pendidikan mental belaka, namun juga perlunya edukasi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk edukasi seksual. Hal tersebut menjadi benteng dirinya dalam menghadapi berbagai tindakan kriminal yang mungkin akan terjadi. Rata-rata orangtua ragu untuk memberikan pengetahuan seksual sejak dini karena hal tersebut masih dianggap tabu. Kurangnya edukasi yang diberikan orangtua, mengakibatkan anak-anak sering dijadikan mangsa pelaku kekerasan seksual.

BACA JUGA:  Program Magister Epidemiologi Unand, Satu-satunya di Pulau Sumatera

Selama ini anak mendapatkan pendidikan dan pengetahuan yang mengasah kognitifnya, namun sering melupakan pendidikan budi pekerti. Sehingga, di sisi lain banyak anak yang cerdas tapi terjerumus ke dalam pergaulan bebas, narkotika, hingga tawuran. Kebiasaan hedonis seakan sudah menjadi budaya di kalangan remaja dan pemuda di Indonesia, menghabiskan waktu di tempat hiburan malam. Pengguna narkotika pun semakin meningkat. Dilansir dari cnnindonesia.com, survei Badan Narkotika Nasional dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menunjukkan 2,3 juta pelajar dan mahasiswa pernah mengonsumsi narkotika. Lagi-lagi, keluarga khususnya orangtua sebagai agen dalam kelompok sosial primer memegang peranan penting dalam perkembangan anak. Edukasi sejak dini harusnya dilakukan kepada anak tentang bahaya narkoba. Berbagai modus dapat dilakukan oleh oknum untuk menjerat anak mencoba barang haram tersebut. Setidaknya dengan adanya edukasi yang diberikan orangtua, anak dapat memahami bahaya memakai narkoba. Pendidikan awal menjadi hal yang penting, meskipun nantinya anak akan mendapatkan pengetahuan lanjutan yang serupa dari orang lain.

Berbagai kondisi yang sudah terjadi pada anak harusnya menyadarkan kita akan pentingnya peran keluarga dalam perkembangan anak. Keluarga menjadi elemen penting dalam membentuk anak bangsa sebagai generasi penerus bangsa. Aristoteles pernah berkata, “Mereka yang mendidik anak-anak dengan baik lebih terhormat dari mereka yang melahirkan,” maka sudah sepatutnya keluarga memerhatikan berbagai aspek perkembangan anak.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas 2017

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here