Beranda Berita

Pengguna Internet Rawan Berita Hoaks

 

Korwil AJI wilayah Sumatera, Hendra Makmur, pada Workshop “Hoax Busting and Digital Hygiene” yang diselenggarakan oleh AJI bekerjasama dengan Google News Initiative dan Internews di ruang sidang gedung rektorat lama Universitas Negeri Padang (UNP), Jumat (5/10/2018).

gentaandalas.com- “Dunia saat ini adalah dunia smartphone, terutama generasi Y. Sementara penikmat koran sudah meninggal, dalam artian pelanggan koran memang sudah mulai tidak ada lagi. Orang zaman sekarang lebih melek internet namun tidak paham literasi dan lebih mudah percaya hoaks,” ujar Korwil AJI wilayah Sumatera, Hendra Makmur pada Workshop “Hoax Busting and Digital Hygiene” yang diselenggarakan oleh AJI bekerjasama dengan Google News Initiative dan Internews di ruang sidang gedung rektorat lama Universitas Negeri Padang (UNP), Jumat (5/10/2018).

Seperti pendapat dosen Psikologi Universitas Indonesia (UI) Laras Sekarasih, kata Hendra, bahwa orang-orang lebih cenderung percaya hoaks, karena sesuai dengan pemikiran yang mereka miliki. Apalagi Indonesia yang notaben-nya negara penetrasi internet dan terhubung ke internet sebanyak 143,26 juta orang pada 2017. “Tentu membuat sesuatu menjadi tranding di Indonesia cukup mudah,” kata Hendra.

Pengelola mentawaikita.com Ocha Mariadi, mengatakan hoaks berkembang karena banyaknya pengguna internet yang berselancar di internet dan lebih menyukai informasi dengan judul yang wow, namun tidak memahaminya.
“Orang banyak terpapar internet, namun tak paham literasi,” ujarnya.

Situasi ini kata Ocha, sebanding dengan UNESCO tahun 2012 yang menyampaikan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,0001 persen dari 250 juta penduduk Indonesia. Dalam artian yang memiliki minat baca hanya 250.000 orang,” katanya.

Hendra menyebutkan contoh kasus hoaks yang sedang hangat saat ini yaitu kasus Ratna Serumpet yang dikabarkan mengalami penganiayaan. Hendra menyebutkan awalnya ia percaya dengan kasus ini, namun setelah ditelusuri ternyata berita tersebut hoaks. Setiap penyebaran informasi yang tidak benar dapat dijerat undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Menghindari hoaks, kata Hendra, dapat dilakukan dengan menjadi penikmat berita yang pintar. Salah satunya memverifikasi gambar yang diinformasikan dengan menggunakan google images, selanjutnya memperhatikan setiap karakteristik dan petunjuk yang ada dalam informasi yang disebar. Bisa juga melakukan pengecekkan kegiatan yang dilakukan oleh pemilik akun.

“Kegiatan pengguna akun dapat dilihat di alat google,” tuturnya.

Reporter: Endrik Ahmad Iqbal
Editor: Juni Fitra Yenti

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here