Beranda Wawasan Teknologi

Pendeteksi Kontraksi pada Rahim Ibu Berbasis Web

Alat Pendeteksi Rahim Berbasis Web

gentaandalas.com– Berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, bahwa penolong persalinan terbanyak saat ini dilakukan oleh bidan, yakni 68,6%, sedangkan persalinan yang dibantu oleh dokter hanya 18,5%. Sisanya, persalinan dibantu oleh tenaga non-medis. Berdasarkan data tersebut jelas bahwa, profesi bidan memiliki peranan paling besar dalam proses persalinan di Indonesia.

Bagi seorang bidan, pengukuran kontraksi rahim sangat penting dilakukan untuk menolong persalinan, sehingga bidan dapat memahami dan mengevaluasi kemajuan persalinan, serta mengetahui dari awal masalah persalinan. Salah satu masalah dalam persalinan yaitu terjadinya kelainan dalam jumlah dan kekuatan kontraksi yang dapat menyebabkan kematian janin.

Pengukuran kontraksi rahim ini dapat dibantu dengan alat kardiotokografi janin (CTG). Sayangnya, alat tersebut tidak dapat digunakan oleh bidan hanya dengan melakukan pengukuran kontraksi rahim secara manual dengan teknik palpasi pada pusar ibu. Permasalahan dari teknik tersebut adalah bidan harus selalu berada di dekat ibu ketika dilakukan pengukuran kontraksi rahim. Pengukuran secara manual juga terdapat kesalahan dalam menginterprestasi data karena adanya perbedaan sensibilitas tangan antarindividu.

Hal inilah yang melatarbelakangi, Ahmad Yunus, M. Rendy, dan Siti Zahirah, merancang sebuah teknologi di bidang biomedik, yaitu alat pendeteksi kontraksi digital pada rahim ibu, sebagai basis web dengan menggunakan Sensor Biosignal (EMG) yang akurat, efektif, dan mudah, agar dapat membantu bidan dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Ahmad Yunus, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Universitas Andalas (Unand) ini menjelaskan, bahwa cara kerja alat ini menggunakan sensor surface-Electromyography (sEMG) untuk mendeteksi kontraksi otot rahim, kemudian diletakkan pada bagian pusar dalam bentuk yang sederhana dan terhubung dengan android, sehingga dapat memberikan informasi akurat yang dibutuhkan bidan dalam mengukur kontraksi rahim.

Originalitas alat ini ada pada sensor biosignal yang tidak memiliki efek pada rahim ibu. Sensor disusun sedemikian rupa untuk mendeteksi kontraksi pada otot rahim ibu secara real time, sehingga kondisi kehamilan ibu dapat di-monitoring.

BACA JUGA:  BPKP Akan Wawancara Mahasiswa Bidikmisi

“Alat ini menampilkan informasi melalui smartphone, maupun personal komputer dengan menggunakan software khusus yang terhubung dengan web server untuk menyimpan data,” kata Yunus saat diwawancarai di Unand, Rabu (15/8/2018).

Tujuan adanya fitur android ini, agar riwayat hasil pengukuran kontraksi dapat tersimpan secara otomatis dan datanya dapat tercatat dalam bentuk digital. Sensor (sEMG) juga lebih sensitif dibandingkan teknik palpasi, sehingga datanya lebih cepat.

“Alat ini dibandingkan dengan alat pengukuran alat kontraksi rahim yang dipasarkan (kardiotokografi), lebih terjangkau. Alat biasa harganya 15-20 juta rupiah, sementara alat yang kami rancang ini berkisar sekitar 1,5 juta rupiah. Sementara itu, kendala dan kekurangan alat ini, hanya butuh penelitian dan pengembangan mendalam,” ujar Yunus.

Reporter : Juni Fitra Yenti
Editor: Rani Aprianti

Pendeteksi Kontraksi pada Rahim Ibu Berbasis Web
Berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, bahwa penolong persalinan terbanyak saat ini dilakukan oleh bidan, yakni 68,6%, sedangkan persalinan yang dibantu oleh dokter hanya 18,5%. Sisanya, persalinan dibantu oleh tenaga non-medis. Berdasarkan data tersebut jelas bahwa, profesi bidan memiliki peranan paling besar dalam proses persalinan di Indonesia.

Bagi seorang bidan, pengukuran kontraksi rahim sangat penting dilakukan untuk menolong persalinan, sehingga bidan dapat memahami dan mengevaluasi kemajuan persalinan, serta mengetahui dari awal masalah persalinan. Salah satu masalah dalam persalinan yaitu terjadinya kelainan dalam jumlah dan kekuatan kontraksi yang dapat menyebabkan kematian janin.

Pengukuran kontraksi rahim ini dapat dibantu dengan alat kardiotokografi janin (CTG). Sayangnya, alat tersebut tidak dapat digunakan oleh bidan hanya dengan melakukan pengukuran kontraksi rahim secara manual dengan teknik palpasi pada pusar ibu. Permasalahan dari teknik tersebut adalah bidan harus selalu berada di dekat ibu ketika dilakukan pengukuran kontraksi rahim. Pengukuran secara manual juga terdapat kesalahan dalam menginterprestasi data karena adanya perbedaan sensibilitas tangan antarindividu. Hal inilah yang melatarbelakangi, Ahmad Yunus, M. Rendy, dan Siti Zahirah, merancang sebuah teknologi di bidang biomedik, yaitu alat pendeteksi kontraksi digital pada rahim ibu, sebagai basis web dengan menggunakan Sensor Biosignal (EMG) yang akurat, efektif, dan mudah, agar dapat membantu bidan dalam mengatasi permasalahan tersebut.
Ahmad Yunus, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Universitas Andalas (Unand) ini menjelaskan, bahwa cara kerja alat ini menggunakan sensor surface-Electromyography (sEMG) untuk mendeteksi kontraksi otot rahim, kemudian diletakkan pada bagian pusar dalam bentuk yang sederhana dan terhubung dengan android, sehingga dapat memberikan informasi akurat yang dibutuhkan bidan dalam mengukur kontraksi rahim.
Originalitas alat ini ada pada sensor biosignal yang tidak memiliki efek pada rahim ibu. Sensor disusun sedemikian rupa untuk mendeteksi kontraksi pada otot rahim ibu secara real time, sehingga kondisi kehamilan ibu dapat di-monitoring.
“Alat ini menampilkan informasi melalui smartphone, maupun personal komputer dengan menggunakan software khusus yang terhubung dengan web server untuk menyimpan data,” kata Yunus.
Tujuan adanya fitur android ini, agar riwayat hasil pengukuran kontraksi dapat tersimpan secara otomatis dan datanya dapat tercatat dalam bentuk digital. Sensor (sEMG) juga lebih sensitif dibandingkan teknik palpasi, sehingga datanya lebih cepat.
“Alat ini dibandingkan dengan alat pengukuran alat kontraksi rahim yang dipasarkan (kardiotokografi), lebih terjangkau. Alat biasa harganya 15-20 juta rupiah, sementara alat yang kami rancang ini berkisar sekitar 1,5 juta rupiah. Sementara itu, kendala dan kekurangan alat ini, hanya butuh penelitian dan pengembangan mendalam,” ujar Yunus.

BACA JUGA:  Fakultas Pertanian Adakan ISO untuk Maba

Reporter : Juni Fitra Yenti
Editor: Rani Aprianti

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here