Beranda Berita

Pencairan Bidikmisi, Kebijakan Universitas

Kasubag Kesejahteraan Mahasiswa dan Alumni Unand, Destrinita saat diwawancara di ruangannya, Senin(17/9/2018).

gentaandalas.com- Beredarnya informasi dari Tim Pengelola Bantuan Pendidikan Bidikmisi dibawah naungan Kemahasiswaan Kemenrisetdikti yang mengeluarkan ketentuan baru terkait pencairan bidikmisi yang mana mulai bulan September 2018 akan diterima sebesar Rp 3.900.000 dengan pemblokiran dana di rekening, sehingga mahasiswa Bidikmisi hanya bisa menarik uang di rekeningnya sebesar Rp. 650.000/bulan.

Mengenai hal itu, Kasubag Kesejahteraan Alumni Unand, Destrinita mengatakan bahwa sebelumnya Universitas Andalas (Unand) telah melakukan validasi di Jakarta. Ketentuan mengenai pencairan Bidikmisi yang dikeluarkan oleh Dikti itu sendiri akan dikembalikan kepada masing-masing perguruan tinggi, apakah mau menerapkannya atau tidak,” ujarnya saat diwawancarai di ruangannya, Senin (17/09/2018).

Menurut Destrinita, kebijakan ini diberlakukan dengan tujuan agar mahasiswa Bidikmisi bisa mengontrol uangnya dengan baik, dan kemungkinan sistem ini akan berlaku pada bulan Oktober, dan tergantung kapan uangnya akan cair.

Kata Distrinita, seluruh uang Bidikmisi selama 6 bulan itu akan langsung masuk ke rekening mahasiswa. Tetapi kampus akan memblokirnya, dan mahasiswa hanya bisa mengambil sebesar Rp 650.000/bulan. Hal tersebut akan berlaku bagi seluruh angkatan.

Tapi tambahnya, untuk 3 bulan terakhir yakni bulan Juli, Agustus, dan September, jika uangnya keluar dalam periode ini, maka untuk 3 bulan itu dapat ditarik seluruhnya, tanpa adanya pemblokiran rekening.

Terkait Bidikmisi yang belum juga cair hingga minggu ke-3 September ini, Destrinita juga tidak mengetahui pasti penyebab keterlambatan dan kapan akan cairnya, namun ia sudah diwanti-wanti untuk standbay di minggu akhir September.

Salah satu mahasiswa Peternakan, Doni ramadhan, mengeluhkan uang Bidikmisi yang belum juga cair. “Sebagai mahasiswa Bidikmisi tentunya saya pribadi mengharapkan Bidikmisi ini segera keluar. Mengingat proses perkuliahan juga sudah berlangsung dan pengeluaran pun semakin banyak,” ujarnya.

Menurut Doni, pengeluaran bidikmisi sekali 6 bulan itu dirasa lebih efektif diberikan kepada mahasiswa, tanpa dilakukannya pemblokiran rekening.

Senada dengan itu, Deru Aspurwinata, mahasiswa jurusan Agroekoteknologi, mengaku setuju dengan peraturan baru mengenai Bidikmisi ini. “Kami bisa belajar mengatur uang, sehingga kami bisa menghemat uang Bidikmisi dan tidak asal mengeluarkannya,” katanya.

Berusaha mencari pekerjaan, tambahnya, merupakan hal yang harus dilakukan untuk menanggulangi kebutuhan hidup yang semakin banyak, sampai  bidikmisi ini bisa dicairkan.

Reporter : Tiwi Veronika dan Alfin Zernindo Prima

Editor : Juni Fitra Yenti

 

1 KOMENTAR

  1. Hmm, menurut pendapat saya dan mungkin juga banyak dari mmahasiswa bidikmisi unand lainnya, jikalau benar hanya bisa diambil sekali sebulan, untuk saat ini cukup tidak efektif, mengingat kemungkinan masih adanya mahasiswa terutama yang tingga kost/mengontrak masih berhutang dalam membayar uang sewanya. Dan juga saya menanggapi pernyataan saudara Deru, saya setuju kalau memang tujuannya agar mahasiswa bisa lebih hemat, dan pada pernyataan mengenai mencari kerja selingan atau tambahan itu menurut saya bagi mahasiswa tahun tahun baru mungkin agak menyulitkan, belum lagi kuliah dengan sks yang full bisa ngambil 8 matkul, buat ngatur waktu toh mungkin sulit, belum lagi kegiatan organisasinya, tugas, dsb. Diluar teknis akademik lainnya seperti masalah transportasinya apabila bekerja, kalauada kendaraan pribadi toh bisa sedikit hemat waktu dan biaya, kalau yang tidak ada kendaraan pribadi, ya biaya angkutan umum nya, belum lagi bagi perempuan, sama sama tahu, tidak boleh pulang terlalu larut dll.
    Jadi, sejauh ini pendapat SAYA. Tergantung pribadi masing masing sih bagaimana pendapatnya.. terimakasih

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here