Beranda Aspirasi

Pemira Km Unand, Mari tentukan pilihanmu

*Oleh: Rima Kurniati

Salah satu gambaran Pemilihan di Universitas Andalas.

Panasnya tahun politik tidak hanya terasa di lingkup nasional, tetapi juga merambah pada kampus-kampus dengan organisasi internal. Selayaknya suatu negara, Kampus pun mempunyai lembaga miniatur negaranya, yaitu eksekutif dan legislatif. Di Universitas Andalas (Unand) lembaga eksekutifnya bernama Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM)  Unand dengan lembaga legislatifnya bernama Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM).

Seperti dalam pemerintahan, orang-orang yang mengisi lembaga-lembaga ini pun dipilih melalui pesta demokrasi yang bernama Pemilih Raya (Pemira) yang diselenggarakan oleh Badan Pemilihan Umum (BPU). Dengan masa jabatan setahun kepengurusan legislatif dan eksekutif.

Setahun sebelumnya, Pemira yang sangat menyedihkan itu mencoreng demokrasi. Pasalnya penetapan presiden dan wakil presiden oleh BPU dilakukan secara aklamasi. Memalukan sekali. Namun sekarang Pemira tampak lebih menarik dengan adanya tiga pasang calon (paslon) presiden dan calon wakil presiden. Sedangkan calon anggota DPM ada sembilan calon yang berasal dari perwakilan tiap-tiap fakultas di Unand.

Ketiga paslon capres dan cawapres itu hadir dengan visi dan misi mereka masing-masing. Ada yang tekad, berkolaborasi karya dan kerja bareng. Mereka juga memiliki akun instagram sebagai sarana kampanyenya, di sana juga dicantumkan visi dan misi mereka.

Kampanye dialogis telah beberapa kali dilakukan, brosur-brosur disebarkan, spanduk juga dipasang. Para pendukung atau katakanlah tim suksesnya mulai bekerja. Adanya anggapan bahwa salah satu pesalon “bukan kita”, atau orang pinggiran, tidak pantas memimpin KM Unand dan sejumlah black atau negative champaig lainnya semakin membuat pemira semakin panas.

Ada paslon yang kehilangan spanduk, ada juga paslon yang brosur-brosurnya hilang di gedung-gedung kuliah. Masing-masing pendukung pun berusaha menggiring opini publik dengan tulisan, memuji salah satu pilihannya dan melemahkan atau bahkan menjelek-jelekkan yang lain. Seolah-olah benar dan paling benar. Tujuannya tentu saja menyusup pemilih, khususnya pemilih apatis agar memilih sesuai dengan pilihannya.

BACA JUGA:  Hasil Suara Sementara Pemira Unand 2018, Paslon 1 Unggul

Dalam politik apapun bisa terjadi. Belum tentu yang  CV organisasi paling banyak bisa menang. Belum tentu yang berasal dari fakultas atau yang sepak terjangnya sudah ada sejak masuk kampus bisa menang.  Belum pasti. Bisa jadi disitulah letak kelemahannya. Belum pasti juga paslon yang katanya tenang dan berwibawa bisa menang. Bisa jadi di situ kekurangan dan titik lemahnya. Belum pasti juga paslon yang memiliki narasi besar bisa menang. Bisa jadi juga menang. Pastinya semua itu tergantung pilihan mahasiswa Unand.

Namun dalam berpolitik dan bernegara dalam tingkat mana saja termasuk kampus, ada satu hal yang mesti murni dan suci, yaitu niat. Seperti sebuah hadist, sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Pemira, niat itu yang terpenting. Niatnya sebagai capres dan wapres apa? Niatnya ikut jadi calon DPM apa? Ikut-ikutan? Karena dipaksa? Perintah seniorkah? Atau mencari eksistensi diri? Biar terkenal gitu? Kalaulah mahasiswa niatnya kecil seperti itu lebih mending berhenti sekarang. Itu terlalu kecil dan merugi, karena sesuatu yang akan didapatkan itu tergantung niat.

Namun kalau niat itu murni dan suci atau niatnya kuat, apapun halangan dan rintangannya akan diterjang. Cacian, makian itu bukan lagi masalah. Apalagi kalau dasarnya kuat, bersandar pada Tuhan, Insyaallah apapun hasilnya nanti pasti tidak akan kecewa. Terpenting sekarang berjuang sampai titik darah penghabisan.

Dalam berorganisasi itu, berdinamika ialah hal yang lumrah terjadi. Dengan berdinamikalah terbentuk pribadi-pribadi tangguh dan pembelajaran-pembelajaran untuk kehidupan. Jangan sedikit-sedikit baper. Jadi pemimpin haruslah tangguh, mampu mengayomi seluruh masyarakat KM Unand. Pemira ini sejatinya ialah membangun kesadaran politik mahasiswa. Mahasiswa harus memiliki pemahaman sendiri. Jangan mau didikte oleh kelompok tertentu dengan pilihan-pilihan mereka. Namun tentukan sendiri sesuai hati nurani dan akal, layaknya seorang mahasiswa.

BACA JUGA:  Jelang Minggu Tenang Tanpa Kampanye, Paslon Pemira Lakukan Kampanye Akbar

Kritisi segala sesuatu, lihatlah visi dan misinya, perhatikan orang-orangnya. Hadirlah kampanye-kampanye mereka. Tanyakan pada mereka mau apa dengan amanah besar itu. Tanyakan juga langkah-langkah konkret mereka terhadap persoalan-persoalan kampus. Apa yang akan mereka lakukan untuk Jayakan Unand dan Indonesia.

Maka pada tanggal 21 November nanti pilihlah dengan seksama. Pilihlah pilihan yang memang sesuai hati nurani itu. Tetap junjung tinggi asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (luber juldil). Supaya kemenangan yang datang nanti ialah kemenangan mahasiswa, bukan kemenangan kelompok tertentu atau paslon satu, dua atau tiga, tetapi kemenangan seluruh mahasiswa Unand.

Maka pada akhirnya, perkataan seorang penyair Jerman berikut perlulah dipahami lagi lalu sesuaikan dengan politik Kampus.

Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir semua pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional”(Bertolt Bracht, penyair Jerman)

Salam Perjuangan KM UNAND. Selamat belajar dan berjuang para calon pemimpin bangsa.

 

Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Andalas 15

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here