Beranda Aspirasi

Pemerintah Lalai Masyarakat Abai

Genta Andalas/Hafiz Al-Ma’Arij.

Oleh : Linda Susanti*

Covid-19 menjadi perhatian besar warga dunia selama tiga bulan terakhir ini. Berawal dari Kota Wuhan, China virus SARS jenis baru ini menyebar dengan cepat ke berbagai belahan dunia. Sebut saja Singapura, Malaysia, Vietnam, Korea Selatan, Italia, dan tak terkecuali Indonesia.

Saat ini jumlah korban teridentifikasi positif Corona di Indonesia per Minggu (22/3/2020) telah mencapai angka 514, merupakan angka yang cukup besar dalam kurun waktu 20 hari sejak temuan kasus pertama di daerah Depok 2 Maret lalu. Jumlah kasus penderita Corona meningkat tajam setiap harinya, awalnya cuma dua korban, lalu meningkat dua kali lipat, dan terus bertambah hingga mencapai angka ratusan dalam waktu yang singkat.

Upaya pencegahan dinilai terlambat dilakukan oleh pemerintah, peringatan awal yang disampaikan oleh tokoh dunia malah disangkal. Para menteri hingga presiden terlalu yakin jika Corona tidak bisa memasuki Indonesia, dan kini jatuhnya malah jemawa. Pemimpin negeri terlalu menganggap remeh wabah yang sangat serius ini. Bahkan setelah kasus ini meningkat drastis, pemerintah seolah tidak serius menanganinya.

Di awal kasus munculnya Corona pemerintah justru lebih mementingkan aspek perekonomian dengan menyiapkan 72 miliar rupiah untuk influencer agar pariwisata dalam negeri tidak merosot. Katanya hal ini sebagai bentuk antisipasi sepinya kunjungan wisatawan di tengah pandemi Covid-19.

Tidak hanya itu, persiapan negara dalam menghadapi Covid-19 belumlah matang, pelayan medis yang semestinya mendapatkan Alat Pelindung Diri (APD) yang layak justru harus menggunakan jas hujan untuk melindungi dirinya dari virus. Bahkan saat ini tiga nyawa pahlawan kesehatan pun ikut menjadi korban karena terpapar Virus Corona dari pasiennya. Ketiga dokter yang mendedikasikan dirinya untuk negeri ini harus menyusul 48 korban meninggal lainnya.

Masker dan hand sanitizer menjadi barang langka di negeri ini. Para oknum tidak bertanggung jawab menjadikan bencana sebagai cara memperkaya diri dengan menimbun masker dan menjualnya dengan harga berkali lipat. Tidak hanya itu, hal yang lebih miris lagi ketika masker yang diperjual-belikan ternyata adalah masker bekas yang kotor dan sangat tidak layak pakai.

Lagi-lagi peran pemerintah sangatlah minim dalam menangani hal ini. Selayaknya jauh-jauh hari sebelum wabah ini sampai di Indonesia, pemerintah telah bersiap diri. Pun seandainya Corona tidak pernah sampai ke Indonesia seperti kata penguasa, tidak ada salahnya kita berikhtiar terlebih dahulu. Setidaknya kita tidak akan kalang kabut seperti saat ini.

Situasi semakin memburuk dengan minimnya edukasi di tengah masyarakat awam akan bahayanya Virus Corona ini. Upaya pemerintah untuk meliburkan beberapa sekolah dan perguruan tinggi, serta membatasi gerak masyarakat berkumpul justru menjadi kesempatan emas bagi masyarakat untuk berliburan.

Seperti yang terjadi di Puncak, Bogor beberapa waktu lalu, kemacetan parah terjadi karena lonjakan wisatawan. Atau tidak perlu jauh-jauh di Pulau Jawa, di Padang saja contohnya. Perguruan Tinggi mengambil kebijakan untuk mengganti metode perkuliahan menjadi Dalam Jaringan (Daring) dengan tujuan membatasi berkumpulnya massa yang memungkinkan akan mempercepat penyebaran virus. Namun, yang terjadi saat ini adalah mahasiswa berbondong-bondong pulang ke kampung halamannya masing-masing.

Seruan ‘di rumah aja’ yang ramai di media sosial tidak memberikan pemahaman lebih kepada masyarakat. Ego masyarakat Indonesia terlalu tinggi, ditambah pengetahuan dan kesadaran yang minim membuat segala upaya pencegahan terasa sia-sia. Kita dapat belajar dari negara yang telah dulu terserang Corona, seperti Italia yang semula juga menganggap enteng persoalan Corona ini akhirnya menjadi kelabakan pada akhirnya.

Ribuan nyawa melayang karena kelalaiannya dalam menangani pandemi ini. Penyebaran virus semakin melebar disaat pemerintah Italia memutuskan untuk menutup sekolah dan tempat umum lainnya dengan tujuan membatasi penyebaran, pelajar justru bertolak ke kampung halamannya. Tanpa mereka sadari, mereka turut membawa pulang “oleh-oleh” virus bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Gagapnya pemerintah dalam menangani Corona serta minimnya kesadaran masyarakat menjadi permasalahan terbesar dalam menangani kasus Covid-19 di Indonesia. Korban terus bertambah sedangkan aturan tidak diindahkan, menjadi momok menakutkan jika bencana ini akan segera berakhir di bumi pertiwi. Menghadapi wabah Covid-19 menjadi tanggung jawab bersama.

Pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat harus bersatu melawan pandemi ini. Pemerintah membuat kebijakan dan mengupayakan segala cara untuk melengkapi fasilitas penunjang bagi tenaga medis, agar penanganan pasien dapat maksimal dan keselamatan para pelayan kesehatan juga terjamin. Tenaga medis berjuang demi kesembuhan korban terjangkit, sementara masyarakat mendukung seruan pemerintah untuk diam di rumah.

Memang tidak semua masyarakat bisa menerapkan ‘work from home,’ karena tidak semua masyarakat bekerja di balik meja. Pekerja lapangan seperti petani, buruh, pedagang, wartawan dan tenaga medis harus tetap bekerja di tengah pandemi ini. Namun, selagi kita bisa untuk menahan diri sebentar saja untuk kegiatan tidak penting di luaran sana, maka tahanlah. Jangan egois untuk sehat sendiri. Kita tidak pernah tahu, apakah kita terbebas dari Virus Corona atau malah sebaliknya.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Berita Lainnya

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here