Beranda Berita

Pembuatan Trichoderma Dengan Ampas Tebu dan Pupuk Kandang

Proses pembuatan Trichoderma

gentaandalas.com-Trima Dia Pas Dipandang, terdengar seperti kata-kata khas remaja kekinian yang sering menjadi bahan lucu-lucuan, namun kata-kata tersebut bukan bermakna sebenarnya. Kata-kata itu merupakan akronim dari Trichoderma dengan Media Ampas Tebu Dicampur Pupuk Kandang. Kata tersebut merupakan suatu inovasi baru menggunakan ampas tebu untuk dijadikan sebagai media perkembangbiakan Trichoderma.

“Biasanya ampas tebu hanya digunakan sebagai bahan bakar, ternyata setelah dilakukan penelitian ampas tebu bisa dijadikan sebagai media pengembangbiakan Trichoderma. Sebenarnya ada alternatif lain, yaitu beras. Tetapi karena beras harganya mahal, lebih baik ampas tebu saja.” kata anggota kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dibidang Pengabdian Masyarakat, Trisna Ayu Wandira via whatsapp, Senin (16/7/2018).

Trichoderma merupakan sejenis jamur yang dapat berfungsi sebagai biopetisin, yaitu jamur yang bersifat antagonis yang bisa melawan patogen. Jamur tersebut berperan sebagai biodekomposer yang membantu penguraian zat hara didalam tanah serta sebagai revitalisasi tanaman, yaitu peningkat kesuburan tanah agar pertumbuhan tanaman semakin cepat.

Kegiatan pengaplikasian Trima Dia Pas Dipandang ini dilakukan di Lawang, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Lawang dipilih karena merupakan salah satu daerah yang terkenal akan hasil tebunya, misalnya saja Gula Merah dan Air Tebu. Tingginya hasil produksi dengan bahan mentah tebu, tentu juga menghasilkan limbah yang banyak. Limbah inilah yang kemudian dijadikan pupuk organik dengan tambahan pupuk kandang.

Sejauh ini, Trisna bersama tim telah melakukan dua kali pertemuan dalam proses pembuatannya, yaitu sosialisasi dan pengaplikasian. Pada saat pengaplikasian, salah satu kendala yang dihadapi adalah tentang kestrerilan pada saat pembuatan jamur. Pada saat pembuatan jamur, dibutuhkan lingkungan dan alat yang streril sedangkan pada umumnya masyarakat membuat pada lingkungan yang biasa saja.

“Untuk kedepannya akan dilakukan monitoring, apabila tidak berhasil, maka akan dilaksanakan evaluasi terkait kegagalan pembuatan jamurnya,” kata Trisna.

Biaya yang telah mereka keluarkan untuk kegiatan ini mencapai empat juta rupiah. Termasuk peralatan pembuatan Trichoderma, spanduk dan leaflet yang berisi panduan cara membuat Trichoderma dang cara pengaplikasiannya dengan pupuk kandang. Trisna berharap masyarakat Lawang bisa mengaplikasikan Trichoderma pada lahan pertanian yang dimiliki dan benar-benar mengerti bagaiaman cara pengembangbiakan Trichoderma dengan ampas tebu, sehingga kelak bisa menjadikan Trichoderma sebagai peluang usaha yang bernilai ekonomi lebih.

Menanggapi hal itu, Erliani selaku masyarakat yang tergabung dalam kegiatan pembuatan Trichoderma ini berharap agar pembuatan pupuknya berhasil sehingga terhindar dari penggunaan pupuk kimia. “Disini pupuk kandang banyak, ampas tebu juga banyak, jadi bahannya mudah dicari. Hanya terkendali pada jamur indukan Trichoderma saja.” Tutupnya.

Reporter: Rizki Aatikah Rambe
Editor: Rani Aprianti

1 KOMENTAR

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here