Beranda Aspirasi

Peduli Gizi, Perangi Stunting, Menuju Indonesia Sehat

Dok. Pribadi

Oleh: Tiwi Veronika*

Masa kanak-kanak adalah puncak pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Untuk itu, lingkungan yang baik sangat dibutuhkan untuk menunjang proses tersebut. Kandungan gizi yang terdapat pada makanan yang dimakan menjadi salah satu faktor yang menunjang proses pertumbuhan dan perkembangan itu.

Hari Gizi Nasional diperingati setiap tanggal 25 Januari. Dilansir dari website Departemen Kesehatan RI, penetapan tanggal ini didasarkan pada pendirian Sekolah Djuru Penerang Makanan (SDPM) pada tanggal 25 Januari 1951. Hari Gizi Nasional selalu diperingati setiap tahunnya.

Tak lama setelah SDPM didirikan, juga turut berdiri beberapa sekolah tentang gizi dan kesehatan seperti misalnya APN (Akademi Pendidikan Nutrisionis) tahun 1956 dimana sekolah tersebut beralih nama menjadi Akademi Gizi setelah Prof. Poerwo Soedarmo yang saat ini dikenal sebagai Bapak Gizi Nasional meminta masukan tentang nama dari ahli bahasa, Harjati Soebadio, agar mempunyai nama yang mencirikan kultur Indonesia.

Istilah gizi mulai populer sejak saat itu (1951). Dilansir dari okezone.com, gizi sebenarnya berasal dari kata serapan bahasa Arab, gizzah, yang mempunyai arti makanan sehat. Pada tahun 1960-an, LMR (Lembaga Makanan Rakyat) memperingati tentang dimulainya pengkaderan tenaga gizi di Indonesia serta berdirinya Sekolah Djuru Penerang Makanan pada tanggal 25 Januari  10 tahun sebelumnya.

Hari gizi diperingati agar kita peduli dengan kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Gizi tentu sangatlah penting untuk diperhatikan, terutama pada usia anak-anak. Jika asupan tubuh cukup, maka proses metabolisme di dalam tubuh akan lancar, sehingga akan menunjang kecerdasan pada anak. Peringatan hari gizi penting bagi anak-anak di bawah 10 tahun karena mereka perlu gizi yang cukup dalam masa pertumbuhannya.

Jika dilihat dari panduan Hari Gizi Nasional ke-59, kegiatan yang dilakukan seperti rencana kegiatan di pusat meliputi workshop, bazar buah, sayur, dan ikan Nusantara, bakti sosial  gizi di Banten/Lampung, lomba isi piringku dan penyuluhan gizi seimbang, lomba fotografi kesehatan, lomba vlog singkat, media brief, dan talkshow, sedangkan rencana kegiatan yang dilakukan di daerah tidak jauh berbeda dengan kegiatan di pusat.

Namun pada kenyataannya, peringatan Hari Gizi Nasional ini sepertinya hanya sebagai seremonial belaka. Belum terlihat aksi yang nyata dalam menanggulangi masalah yang menyangkut dengan gizi seperti gizi buruk. Gizi buruk merupakan sebutan bagi orang yang kekurangan atau tidak memiliki kecukupan gizi. Sampai saat ini, peringatan Hari Gizi Nasional belum mampu menjawab penderitaan masyarakat miskin untuk bisa memenuhi kebutuhan gizi.

Hari Gizi Nasional terus diperingati hingga saat ini yang mencapai tahun ke-59. Dilansir dari Timesindonesia.co.id, pada tahun ini tema yang diusung adalah “Bersama Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi” dengan sub-tema “Keluarga Sadar Gizi, Indonesia Sehat dan Produktif” dengan slogan “Gizi Seimbang, Prestasi Gemilang”.

Dari tema yang diusung, diharapkan arah pembangunan kesehatan saat ini dititik beratkan pada upaya preventif yang dinilai dapat memberikan dampak kesehatan yang lebih luas dan lebih efektif dari sisi ekonomi. Sebagai investasi utama, pembangunan kesehatan yang berkelanjutan mutlak diperlukan, dimana salah satu kompenen utamanya adalah melalui perbaikan gizi masyarakat, terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan.

Kenyataannya, peringatan Hari Gizi Nasional ini sepertinya hanya sebagai seremonial belaka. Belum terlihat aksi yang nyata dalam menanggulangi masalah yang menyangkut dengan gizi seperti gizi buruk. Gizi buruk merupakan sebutan bagi orang yang kekurangan atau tidak memiliki kecukupan gizi. Sampai saat ini peringatan Hari Gizi Nasional belum mampu menjawab penderitaan masyarakat miskin untuk bisa memenuhi kebutuhan gizi.

Persoalan gizi di negara ini telah terjadi sejak awal kemerdekaan bangsa ini. Gizi menjadi salah satu masalah yang menjadi sorotan hingga saat ini. Gizi selalu dihubungkan dengan kondisi ekonomi. Pasalnya, kondisi masyarakat masih didera oleh kemiskinan, kurangnya kesadaran terhadap kesehatan, dan lebih cenderung tidak memperhatikan asupan makanan, sehingga masalah gizi pun mulai banyak terjadi.

Hari Gizi Nasional merupakan gerakan percepatan perbaikan gizi sebagai wujud komitmen pemerintah dalam mengatasi permasalahan gizi dalam masyarakat Indonesia. Dengan adanya momen hari gizi setiap tahunnya, diharapkan masyarakat Indonesia tidak lagi dihadapkan oleh masalah gizi buruk, terutama masyarakat miskin.

Tetapi dari tahun ke tahun, masalah gizi yang menimpa negeri ini masih sangat memprihatinkan. Menurut data Global Nutrition Report tahun 2014, Indonesia memiliki masalah gizi yang kompleks. Indonesia termasuk ke dalam 31 negara yang tidak akan mencapai target global untuk menurunkan angka kurang gizi di tahun 2015. Hal itu ditunjukkan oleh banyaknya penyakit yang disebabkan karena faktor gizi. Data pemerintah menunjukkan, 37% anak balita menderita stunting, 12% menderita wasting dan 12% mengalami kelebihan berat badan.

Dilansir dari Liputan6.com, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan adanya penurunan yang cukup signifikan di beberapa masalah gizi. Misalnya balita underweight yang di tahun 2013 mencapai 19,6 persen, di tahun 2018 menjadi 17,7 persen. Padahal, batas masalah kesehatan yang ditetapkan World Health Organization (WHO) pada 2019 berada di angka 10%. Sementara untuk balita stunting sendiri menurun dari 2013 di angka 37,2% menjadi 30,8% di tahun 2018. Batas masalah kesehatan WHO sendiri ditetapkan di angka 20%.

Memang begitu miris, jika melihat masalah gizi ini, jika hal ini terus-terusan terjadi maka akan berdampak buruk terhadap masa depan Indonesia nantinya. Karena gizi memiliki peran yang sangat penting terhadap pertumbuhan tubuh dan pembentukan jaringan otak, terutama bagi balita dan anak-anak. Sebab, masa depan Indonesia ini berada di tangan anak-anak yang akan tumbuh dewasa.

Jika melihat situasi saat ini, masih banyak anak-anak yang terlantar dan kelaparan, bahkan mereka melakukan suatu tindakan yang seharusnya belum sewajarnya dilakukan oleh usia yang masih tergolong kanak-kanak. Contohnya saja, mereka mengemis, mencari makanan sisa di jalanan, dan bahkan ada yang mencuri demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dilansir dari Beritasatu.com, jumlah anak terlantar masih banyak. Kementerian Sosial Republik Indonesia  (Kemensos RI) menyebutkan, jumlah anak terlantar sebanyak 4,1 juta anak, dan jumlah itu bertambah. Berdasarkan data dari Kemensos RI yang diakses melalui laman JawaPost.com, masih ada 16.290 anak jalanan hingga 17 Agustus 2017.

Kekurangan gizi dan mengonsumsi makanan yang tidak bergizi akan berakibat fatal terhadap balita dan anak-anak. Masalahnya, saat ini masih banyak orang tua yang tidak terlalu peduli terhadap masalah gizi. Baik karena kelalaian, lingkungan maupun karena faktor ekonomi. Tapi umumnya, masalah gizi buruk yang terjadi dalam masyarakat disebabkan karena kondisi ekonomi. Banyak masyarakat miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi untuk anak-anaknya. Jangankan untuk membeli susu dan daging, untuk membeli beras saja mereka belum tentu mampu.

Sudah ada beberapa himbauan untuk perangi stunting menjelang peringatan Hari Gizi Nasional. Dilansir dari Bisnis.com, stunting adalah perawakan pendek karena kekurangan gizi jangka panjang atau malnutrisi kronik. Hal ini juga bisa terjadi karena asupan nutrisi yang tidak optimal. Beberapa kejadian stunting terjadi karena penyakit tertentu. Stunting selalu ditandai dengan penurunan berat badan yang tadinya normal. Selain itu, anak juga mengalami penurunan fungsi kognitif.

Seorang anak yang stunting akan mengalami penurunan IQ. Itulah sebabnya, permasalahan ini sangat serius. Kalau anak sudah stunting, segala upaya perbaikan tidak akan mengubah banyak.

Dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional ke-59 ini,  hendaknya perbaikan gizi ini benar-benar bisa dilaksanakan, sehingga Indonesia di masa mendatang menjadi bangsa yang cerdas,  maju, sehat dan sejahtera. Gizi tentu menjadi perhatian bagi kita bersama. Oleh karena itu,  mari peduli dengan gizi demi masa yang akan datang. Selamat memperingati Hari Gizi Nasional.

*Penulis merupakan Mahasiswi Fakultas Peternakan 2017 Universitas Andalas

 

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here