Beranda Berita

Panorama Eropa di Bumi Lembah Harau

Suasana Kampung Eropa yang ramai dikunjungi oleh wisatawan di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Oleh: Nadya Satya Dilova*

Terik matahari saat itu membuat saya bercucuran keringat di badan yang baru saja terjaga dari tidur siang. Kumandang adzan dzhuhur menjadi alarm dimana jarum jam berdenting di arah 12.20. Badan yang baru saja bangun dari terlelap menyegerakan untuk mengambil wudhu sebelum melaksanakan sholat dzhuhur. Selesai melakukan ibadah wajib sebagai wujud nyata sayang pada Tuhan, saya bergegas merapikan seperangkat alat ibadah yang saya gunakan. Dari arah luar kamar, terdengar saudara perempuan saya memanggil nama saya berkali-kali. Saya segera keluar kamar mendekati sumber suara tersebut. Ya, seperti biasanya dia mengajak saya pergi mengisi waktu libur semester ganjil ini. Bersama dengan saudara laki-laki saya yang muda, kami bergegas untuk pergi ke Lembah Harau di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat menggunakan sepeda motor.

Sebanyak 3 unit sepeda motor yang kami gunakan untuk pergi ke lokasi tujuan. Sekitar 35 menit lama perjalanan yang ditempuh menuju lokasi dari arah rumah kami. Sebelum memasuki kawasan wisata Lembah Harau, kami mendapati plang tulisan Asmaul Husna diperjalanan yang dibentang disisi kiri jalan dari arah pintu masuk Kecamatan Harau. Perubahan yang amat drastis setelah sekian lama kami tidak menyinggahi Lembah Harau. Selain itu, jalan menuju Lembah Harau juga diperluas sehingga pengguna jalan leluasa dan macet dapat dihindari saat jadwal-jadwal liburan. Namun, tiba di gerbang masuk Lembah Harau disaat jarum jam menunjukkan pukul 14.25 terdapat sedikit kemacetan untuk mendapatkan lembaran-lembaran kertas penanda masuk. Lembaran kertas penanda masuk tersebut seharga Rp10.000 per motor. Setelah mendapat lembaran kertas tersebut, kami melanjutkan untuk menelusuri Lembah Harau.

Penelusuran kami terhenti di objek wisata Lembah Harau yang diberi nama Kampung Eropa. Kampung Eropa ini berdekatan dengan objek wisata Pasir Putih di Lembah Harau yang sebelumnya sudah terkenal. Sebelum berhenti, kami mendapat lembaran kertas kebersihan dan parkir dengan estimasi harga keduanya Rp4.000 dari orang-orang yang berdiri di dekat jalan menuju parkiran. Selesai memakirkan motor, kami turun dan bergegas mendekati pintu masuk Kampung Eropa. Di dekat pintu masuk itu terdapat spanduk yang menuliskan harga tiket masuk Kampung Eropa yaitu seharga Rp15.000 per orang. Salah satu dari kami antri untuk membayar dan mendapatkan tiket masuk tersebut. Setelah mendapat tiket masuk, kami pun masuk dan berjalan di atas jembatan kecil yang dibawahnya dialiri sungai yang tenang airnya.

Setelah melewati jembatan, hamparan panorama bumi Eropa terlihat membentang dari Belanda, Paris, Inggris dan negara Eropa lainnya. Tiruan Menara Eiffell di Paris yang ada di Kampung Eropa ini sangat mirip dengan aslinya meskipun tingginya sekitar 6-7 meter. Beberapa orang mengabadikan momennya di Tiruan Menara Eiffell ini dengan selfie, wefie, maupun potret kamera biasa termasuk kami ini. Selain Menara Eiffel, terdapat Kincir Angin dan hamparan bunga-bunga yang identik dengan negara Belanda. Hamparan bunga-bunga tersebut berwarna-warni yang menciptakan kesan hidup di Belanda. Ada juga miniatur Stonehenge yang menjadi khas Inggris. Stonehenge merupakan kumpulan batu melingkar yang terkumpul dalam satu tempat, dan menjadi objek foto bagi pengunjung di Kampung Eropa ini.

Selain tiruan-tiruan khas dari beberapa negara Eropa tersebut, ada dinding untuk background foto yang memperlihatkan suasana di negara Eropa seperti jalan di Paris, Inggris, Italia, dan lain sebagainya. Di Kampung Eropa ini, juga ada dinding rumah warna-warni yang penuh dengan jendela-jendela sehingga sangat pas dijadikan background foto. Apalagi untuk kalangan millenial yang candu untuk berfoto ria yang akan diposting di media sosial. Ada juga deretan perumahan yang berbentuk segitiga. Deretan perumahan tersebut juga dicat warna-warni. Ini juga menjadi spot foto bagi pengunjung disana. Perumahan segitiga ini masih dalam proses pengerjaan oleh tukang-tukang saat saya disana. Kemungkinan besar deretan perumahan segitiga ini akan dijadikan penginapan, dikarenakan saya melihat di dalam perumahan tersebut terdapat toilet yang dapat digunakan.

Selain menikmati hamparan panomara Eropa di Lembah Harau, para pengunjung bisa menyewa pakaian ala Eropa. Untuk harga sewa pakaian, kami tidak mendapat informasi mengenai itu karena langit saat itu mendung dan membasahi Kampung Eropa dengan rintik-rintik air. Kami pun berteduh di salah satu payung besar yang disediakan di sana. Sambil menunggu hujan reda, kami bercengkrama sebentar mengisi kekosongan. Langit pun masih mendung tetapi air dari langit tak ada lagi sehingga kami melanjutkan mengambil potret kamera seperti yang dilakukan orang lain di sekitar kami.

Sayangnya, Kampung Eropa ini hanya menyediakan spot-spot foto bagi pengunjungnya. Karena hanya menyediakan spot foto saja, ini membuat pengunjung kaku dengan suasana yang itu-itu saja. Setelah banyak spot foto yang kami abadikan dalam potret kamera, kami bergegas keluar dari Kampung Eropa sebab waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Meskipun terasa sebentar, tapi kami sudah merasa puas dengan Kampung Eropa yang menyediakan banyak tiruan di Eropa sana yang terasa nyata. Untuk liburan, Kampung Eropa bisa menjadi salah satu destinasi kamu yang ingin merasakan suasana bumi Eropa. Ditunggu di Kampung Eropa.

*Penulis merupakan Mahasiswi Jurusan Administrasi Publik 2017 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here