Beranda Aspirasi

Pangan, Sumber Utama Kehidupan

(Karikatur: Nisa Ulfikriah)

 

*Oleh Iqbal Junaidy

Pepatah lama mengatakan “Tak ada pertanian tak ada pangan, jika tak ada pangan maka takkan ada kehidupan”. Segitu pentingnya pangan bagi kehidupan manusia. Apapun kegiatan yang dilakukan oleh makhluk hidup di dunia ini, pasti ada peran makanan di dalam nya. Jika pangan tak tercukupi, maka kelaparan akan merajalela, penyakit busung lapar, bunuh-bunuhan berebut makanan, menghalalkan segala cara untuk mengisi perut (mencuri atau merampok) dan masih banyak lagi kasus–kasus lain karena kekurangan makanan dapat terjadi.

Untuk memberantas kasus–kasus negatif itu, maka terbentuklah Food and Agriculture Organization (FAO) yang merupakan organisasi pangan dunia di bawah naungan PBB yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober berdasarkan Resolusi PBB Nomor 1 tahun 1979 yang dikeluarkan di Roma, Italia. Sejak tahun 1981 seluruh negara anggota FAO termasuk Indonesia memperingati Hari Pangan Sedunia secara nasional setiap tahunnya. Hari pangan sedunia di sambut dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan mulai dari tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional. Peringatan Hari pangan sedunia  menjadi moment yang tepat untuk memberi penyuluhan pada masyarakat mengenai pentingnya meningkatkan pemahaman dalam penyediaan pangan yang cukup, bergizi, seimbang dan aman.

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, karena kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang dimilikinya. Tak heran jika bangsa Eropa berdatangan mencari rempah-rempah untuk kemudian dijual di sana. Dalam lirik lagu yang berjudul “kolam susu” koes plus menyatakan dalam lagunya tentang kekayaan yang dimiliki Indonesia, betapa eloknya negri ini. Namun negara Indonesia masih melakukan impor bahan pangan. Tidak berkurang, tapi malah semakin bertambah impor pangan yang dilakukan setiap tahunnya. Baru-baru ini indonesia melakukan impor beras sebesar 500.000 ton. Negeri surga, tongkat dilempar jadi tanaman, lantas mengapa malah impor beras. Ini bukanlah masalah petani, bukan juga masalah menteri pertanian atau masalah presiden saja, akan tetapi ini adalah masalah seluruh lapisan rakyat Indonesia.

Setiap tatanan masyarakat memiliki peranan tersendiri dalam upaya menimalisisr impor pangan. Pemerintah merupakan aktor terpenting dalam tatanan aturan pangan, baik itu harga bahan pangan, ditribusi pangan, kesejahteraan petani dan konservasi lahan. Semua itu adalah hal penting yang harus diatur oleh pemerintah. Swasembada pangan dapat terwujud jika pemerintah tegas, konsisten, dan menjalankan peraturan dengan ketat serta kontrol yang baik. Salah satu kesalahan yang kerap kali dilakukan pemerintah adalah memberi izin untuk mendirikan gedung, rumah, pabrik dan fasilitas lain pada lahan pertanian. Padahal produksi pertanian dari setiap lahan pertanian Indonesia memberikan kehidupan bagi rakyat. Pemerintah harus bertindak tegas untuk menghentikan konversi lahan atau alih fungsi lahan pertanian berkelanjutan agar impor tidak terus terjadi. Pemerintah harus konsisten terhadap peraturan yang dibuat, memberikan denda yang berlipat agar pelaku koversi lahan pertanian produktif berpikir panjang untuk membelinya. Kebijakan dalam proses ekspor dan impor harus lah diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi kesenjangan dan kerugian bagi para petani.

Petani merupakan eksekutor dalam meningkatkan produksi pertanian. Setiap petani harus cerdas, agar dapat memperoleh hasil yang melimpah dengan modal yang kecil. Tidak sedikit petani yang gagal dalam bercocok tanam. Kekhawatiran nasib petani dan masyarakat atas pangan tentunya harus diperhatikan. Penyuluhan dan pengetahuan tentang budidaya pertanian perlu dilakukan agar hasil yang diperoleh lebih maksimal. Salah satu upaya untuk mencerdaskan para petani adalah dengan membuat kelompok tani, lalu memberikan ilmu seputar pertanian dan fasilitas yang memadai, sehingga kesejahteraan para petani dapat terpenuhi. Kegiatan tersebut sudah mulai digencarkan oleh pemerintah, namun penyebarannya tidak merata. Masih banyak daerah–daerah di negeri ini yang minim informasi dan kekurangan fasilitas, serta keadaan kelompok tani yang terbengkalai, karena tak ada dana dan pengetahuan.

Sasaran penyuluhan pertanian modern masih terpusat di perkotaan dan minim di pedesaan. Hal ini tentu keliru, perkotaan yang dipenuhi bangunan dan fasilitas umum lebih diperhatikan dari pada pedesaan yang memiliki lahan pertanian yang produktif. Bisa dilihat, petani perkotaan sudah menggunakan peralatan canggih seperti traktor, combine harvester, power threasher dan alat canggih lainnya. Sedangkan petani pedesaan masih menggunakan sistem tradisional, karena belum terjamah perhatian pemerintah. Hal lain yang menyebabkan keterlambatan perkembangan pertanian di pedesaan adalah pemikiran  dan kebiasaan, sehingga menyulitkan para penyuluh untuk mengubah pola pikir yang ada.

Sebagai mahasiswa kita harus ikut andil dalam hal ini, sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi poin ketiga yaitu “Pengabdian Masyarakat”. Sudah kewajiban kita untuk membantu dalam meningkatkan hasil pangan Indonesia. Salah satu hal yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa adalah mendekati para petani dan memberikan pemahaman secara bertahap. Jika mahasiswa melakukan perubahan pola pikir tentang pertanian modern secara beruntun, maka penolakanlah yang akan diterima. Apalagi seorang mahasiwa pertanian, percontohan tentang pertanian modern, efektif, sehat, dan berkelanjutan perlu dilakukan. Membuat pertanian hidroponik di lahan sempit misalnya, penerapan teknologi di lahan luas dan hal positif lainnya.

Tidak hanya pemerintah dan petani saja yang memikirkan tentang pangan, namun seluruh profesi dalam tatanan masyarakat juga harus berpartisipasi dalam peningkatan hasil pangan. Tentu setiap profesi memiliki perannya masing–masing dalam kesejahteraan pangan. Misalnya seorang guru memberikan pemahaman bagi muridnya mengenai pentingnya pangan, pedagang menjual hasil pertaniannya dengan harga pasar tanpa melebihkannya. Hal yang wajib dilakukan seluruh tatanan masyarakat adalah tidak membuang makanan walaupun sebutir nasi sekalipun, itu adalah bentuk penghargaan terhadap pangan. Jika tak bisa membantu produktifitas, setidak nya menghargai.

 

Selamat hari pangan Sedunia.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Teknik Pertanian 16

Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Andalas

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here