Beranda Berita

Pameran Khazanah Minangkabau Tampilkan Manuskrip dan Karya Penulis Sumbar

Pengunjung melihat koleksi buku pada pameran Khazanah Pengetahuan Minangkabau dalam Manuskrip dan Karya Intelektual, di Minangkabau Corner, Unand. (Foto : Juni Fitra Yenti)

gentaandalas.com- Beberapa sampul buku karya penulis Sumatera Barat (Sumbar) ditampilkan pada pameran “Khazanah Pengetahuan Minangkabau dalam Manuskrip dan Karya Intelektual” di gedung Perpustakaan, Minangkabau Corner, Universitas Andalas (Unand). Selain itu, naskah-naskah kuno, manuskrip dan dokumentasi sejumlah sastrawan, serta sejumlah barang peninggalan sastrawan AA. Navis juga ditampilkan di pameran ini. Pameran yang diadakan dari tanggal 1 hingga 5 Oktober 2018 ini digelar oleh Fakultas Ilmu Budaya, Unand dengan program Indonesiana Kemendikbud dan merupakan salah satu rangkaian kegiatan Silek Art Festival yang diadakan di Sumatera Barat.

Esha Tegar Putra, selaku kurator Bagian Sastra, menuturkan bahwa pameran ini merupakan kumpulan hasil karya penulis dari Sumatera Barat, seperti AA. Navis, Syaffruddin Arifin, Soeman H. S dan penulis lainnya. “Kami mengumpulkan sejumlah karya sastra kuno, kalau dijumlahkan baru sekitar 1000 lembar yang terpajang pada pameran ini. Terdiri dari buku, arsip dokumen yang ditulis tangan, antalogi puisi dan novel,” katanya saat diwawancarai di Minangkabau Corner, Senin (1/10/2018).

BACA JUGA:  Ilmu Pertanian Dipindahkan dari Pascasarjana ke Fakultas

Esha menuturkan sebagian koleksi itu ia dapatkan dari teman-temannya dan sudah lima tahun memburu koleksi manuskrip dan buku karya penulis Sumbar tersebut. Ia dan rekannya melakukan riset ke beberapa penulis lama dan langsung mendatangi rumah penulis tersebut.

Tidak hanya di Unand, pameran ini nantinya juga akan dipamerkan ke sejumlah daerah seperti Payakumbuh dan Makassar. “Koleksi kami ini akan jadi database bagi ilmuwan ataupun mahasiswa yang akan melakukan riset dan menggali lebih dalam lagi tentang karya Minangkabau ini,” ujarnya.

BACA JUGA:  Kurikulum Baru, Angkatan 2016 Fakultas Pertanian Wajib Magang

Koordinator Minangkabau Corner, Pramono mengatakan pameran tersebut merupakan salah satu cara melestarikan dan mengenalkan kembali karya kuno Minangkabau agar tidak punah. “Kami berusaha mengumpulkan peninggalan karya kuno ini di beberapa daerah seperti Payakumbuh, Solok, Cupak, Sijunjung dan Pariaman.

Kata Pramono, umur manuskrip tersebut sudah tua sejak abad 17 sampai 20-an, dan banyak kertas dari manuskrip rusak karena masyarakat menyimpannya di tempat yang tidak sesuai, sehingga pihaknya ingin menyelamatkan manuskrip tersebut.

“Kendalanya yaitu anggaran, pihaknya harus menunda untuk membawa manuskrip tersebut lantaran biaya untuk penyimpanan dan kebutuhan lainnya masih belum cukup,” ujarnya.

Reporter : Juni Fitra Yenti

Editor : Ivonyla Krisna

 

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here