Beranda Aspirasi

Nurhadi-Aldo VS Demokrasi


*Kangen Drivama

Tahun Panas Pemilu
Periode menuju Pilpres 2019 kali ini semakin memanas. Hal ini dapat dilihat dari kritik kebijakan infrastuktur, ekspor-impor, hingga hal-hal bersifat sensasional seperti latar belakang dari kedua pasangan calon (paslon). Adu kesalahan kata dalam pidato yaitu “sontoloyo” vs “tampang boyolali” yang makin hari menunjukkan agresivitas dari oposisi dan petahana. Istilah seperti “cebong” atau “kampret” pun sering digunakan oleh kedua belah pihak guna menyindir karakter tim sukses satu sama lain. Alhasil, mau tidak mau publik harus dihadapkan pada perdebatan yang sering kali tidak subtantif.

Di sisi lain, selama periode ini berlangsung, masyarakat terbagi menjadi dua kubu dengan kontras yang sangat ekstrim. Bentrokan demi bentrokan terjadi di berbagai daerah seperti Riau, Surabaya, dan Pangkal Pinang akibat gerakan #2019gantipresiden dari pihak oposisi dinilai makar dan inkonstitusional oleh pemerintah sehingga harus dibubarkan. Sedangkan menurut oposisi ataupun pengamat politik Efendi Ghazali, gerakan tersebut sah adanya, karena #2019gantipresiden memang aspirasi masyarakat di tahun pemilu. Lagi pula, pihak pendukung pemerintah juga membuat gerakan tandingan #2019tetapjokowi dan melakukan deklarasi Jokowi Presiden dua periode tanpa ada pembubaran dan aman, ujar Politisi PKS Al Muzammilm Yusuf membela opsisi melalui salah satu media online.

Kemunculan Nurhadi-Aldo
Dinamika politik yang penuh hujatan, intrik, dan sensasi semakin membuat masyarakat gerah. Di tengah kondisi ini, publik kemudian disuguhkan paslon “alternatif” fiktif yaitu Nurhadi-Aldo dengan nomor urut 10. Nurhadi sendiri sebenarnya adalah tukang pijat asal Jawa Tengah. Sedangkan Aldo adalah tokoh fiktif yang merupakan hasil sunting foto dari beberapa wajah politisi.

Berbeda dengan kampanye paslon Nomor urut 01 dan 02, di akun media sosial Nurhadi-Aldo, kampanye fiktif dilakukan dengan jenaka. Seperti berikut ini “kami tidak akan memberikan janji, coba saja dulu, siapa tahu cocok”. Di samping itu, tim sukses Nurhadi-Aldo juga menyediakan template foto yang dapat disunting oleh siapa saja sehingga warganet dapat membuat suatu brosur kampanye calon legislatif fiktif yang berisi visi-misi humor sesuai imajinasi mereka. Konten Nurhadi-Aldo yang begitu humoris di tengah gejolak tahun politik membuat banyak masyarakat merasa terhibur. Tercatat, semenjak diluncurkan tanggal 24 Desember 2018, Nurhadi-Aldo telah memiliki pengikut sebanyak 100 ribu orang lebih di akun Twitter, 180 ribu lebih di Facebook, dan 468 ribu lebih di Instagram.

Nurhadi-Aldo VS Demokrasi
Kendati menghibur, Nurhadi-Aldo memberikan efek tersendiri terhadap demokrasi di Indonesia, khususnya di bidang pendidikan politik. Menurut Rusadi Kantaprawira (2004: 55) Pendidikan politik adalah memberikan pengetahuan politik kepada rakyat agar dapat berpartisipasi secara maksimal dalam sistem politik. Dengan kata lain, partisipasi masyarakat yang didasari oleh pengetahuannya tentang politik menjadi kunci pada demokrasi. Minimnya pengetahuan rakyat tentang politik akan mempengaruhi kualitas dari partisipasi rakyat dan demokrasi suatu negara.

Setelah kemunculan Nurhadi-Aldo, rakyat menunjukkan kecenderungan untuk lebih menyukai postingan dari Nurhadi-Aldo secara pesat. Preferensi ini dapat dilihat dari jumlah pengikut akun tersebut yang bahkan mengalahkan pengikut sejumlah partai politik (parpol) di media sosial resmi mereka. Sebagai agen pendidikan politik, parpol yang telah berkiprah begitu lama seharusnya tidak dapat dikalahkan begitu cepat. Bahkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang menarget anak muda dan termasuk fokus menggunakan sosial media juga dikalahkan dari segi pengikut dengan selisih jumlah pengikut Instagram sebanyak 300 ribu orang. Padahal, partai ini telah berdiri semenjak 16 November 2014. Ini artinya, publik tidak begitu tertarik untuk membicarakan politik yang sesungguhnya, karena pendekatan yang diusung oleh parpol dan paslon. Seperti pendapat dosen ilmu politik Universitas Indonesia, Hurryah, “Kemunculan ini (Nurhadi-Aldo) adalah peringatan bahwa publik muak pada konstetasi politik yang semakin tidak sehat.”

Dari anilisis di atas, dapat disimpulkan bahwa satire humor Nurhadi-Aldo berpengaruh untuk membuat masyarakat tidak begitu meminati pendidikan politik. Padahal, pendidikan politik pada dasarnya lebih penting dari pada humor politik. Memang, kecenderungan ini tidak serta merta memancing golput. Namun, kecenderungan masyarakat yang menyampingkan percakapan kritis mengenai paslon 01 dan 02 dikhawatirkan membuat pendidikan politik semakin diabaikan. Hal ini bisa berdampak pada suara yang dikumpulkan dari masyarakat bukan dari hasil pemikiran kritis. Sehingga, walaupun kuantitas dari jumlah pemilih tidak terpengaruh, kualitas dari suara yang dikumpulkan tidak dapat dijamin karena sedari awal hanya dilandasi oleh asumsi atau intuisi.

Menikmati humor politik dari Nurhadi-Aldo memang sah-sah saja. Akan tetapi, disisi lain masyarakat juga harus menyadari bahwa kecenderungan terhadap humor politik tidak boleh menggantikan diskursus politik itu sendiri. Disamping menghibur diri dengan humor politik, pembahasan tentang politik yaitu pertarungan antara paslon 01 dan 02 harus tetap dibahas secara kritis.

Meskipun tendensi antara paslon tidak mungkin dihindari, publik harus tetap didorong untuk terbiasa dengan ketegangan yang muncul dan tidak lari situasi tersebut. Dengan mentalitas yang tahan akan huru hara, maka di masa depan pendidikan politik akan lebih diminati dan demokrasi Indonesia dapat bertumbuh dengan lebih baik.

 

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

1 KOMENTAR

  1. Dengan mengusung tema Nurhadi-Aldo Vs. Demokrasi. Demokrasi disini harus dibahas lebih mendalam supaya pembaca bisa mendapatkan gambaran dan pemgertian lebih jelas mengenai Demokrasi seharusnya. Over all, ini adalah artikel yang baik.

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here