Beranda Berita

Nikmati Akhir Tahun Di Kawasan Gunung Tangkuban Parahu

Oleh : Rahmat Fiqri*

Kasawan wisata Tangkuban Parahu ramai dikunjungi wistawan, Minggu (29/12/2019). (Foto : Rahmat Fiqri)

Gunung Tangkuban Parahu dikenal akan legenda Sangkuriang, seorang pemuda yang mencintai dan ingin menikahi seorang wanita yang tidak lain adalah ibu kandungnya sendiri, Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan niat sang anak menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat agar Sangkuriang membuat sebuah telaga dan sebuah perahu dalam semalam. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang marah besar dan menendang perahu itu sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.

Terlepas dari legenda yang melekat pada gunung Stratovulcano ini, kawasan Gunung Tangkuban Parahu menjelma menjadi destinasi wisata favorit di Jawa Barat. Seakan tidak ada matinya, wisata Gunung Tangkuban Parahu selalu ramai dikunjungi wisatawan baik dari mancanegara maupun wisatawan lokal seperti saya ini.

Menyajikan pemandangan alam yang sangat cantik dan udara yang sejuk membuat saya betah berlama-lama menikmati panorama di Gunung Tangkuban Parahu. Di sana kita juga disuguhi dengan jajanan dan oleh-oleh khas Jawa Barat, serta penjual souvenir di sekitar wisata Gunung Tangkuban Parahu.

Jika memasuki kawasan wisata Gunung Tangkuban Parahu saat weekend, kita harus merogoh kocek sebesar Rp31.000 per individu ditambah Rp17.000 untuk sepeda motor yang dibawa, atau Rp36.000 untuk kendaraan roda empat. Sedangkan untuk hari biasa tarif yang diterapkan jauh lebih murah, yaitu Rp20.000 per individu ditambah untuk sepeda motor sebesar Rp13.000 dan Rp26.000 untuk mobil. Jarak antara tempat tiket masuk ke lokasi Gunung Tangkuban Parahu kurang lebih empat kilometer dengan tanjakan dan tikungan yang cukup tajam.

BACA JUGA:
Bergaya Ala Eropa, Farm House Tawarkan Rekreasi Unik dan Instagramable

Untuk berkunjung ke gunung yang masih aktif ini sebaiknya jangan terlalu sore, sebab kawasan wisata ini hanya dibuka hingga pukul 17.00 WIB. Agaknya pengelola memilih untuk menutup lebih awal untuk menjaga keselamatan wisatawan yang berkunjung, karena jauhnya jarak antara lokasi wisata dengan tempat pembayaran tiket.

Berangkat dari kost yang bertempat di Jalan Buni Asih no C 2 Lembang, memakan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di lokasi ini. Saya tiba tepat pada pukul 15.10 WIB dan kawasan ini sudah ramai dibanjiri pengunjung. Setelah memperoleh tiket masuk dan memarkirkan kendaraan, saya langsung menyusuri pagar pembatas. Di sana banyak wisatawan yang berfoto dengan latar belakang kawah Gunung Tangkuban Parahu. Bau belerang dan asap yang dikeluarkan menambah keindahan dari kawah gunung yang terakhir meletus pada 26 Juli 2019 lalu.

Merasa belum puas dengan pemandangan dari tempat saya berdiri, saya memutuskan berjalan lebih jauh, mendaki lebih tinggi hingga saya dapat mengamati panorama Gunung Tangkuban Parahu dengan lebih leluasa. Sudah tersedia balkon sebagai fasilitas penunjang bagi wisatawan. Dari sini saya juga dapat mengamati kendaraan yang keluar masuk wisata Gunung Tangkuban Parahu. Bagi yang tidak ingin lelah berjalan jauh, pengelola telah menyiapkan kuda untuk menemani perjalanan kalian mengelilingi Gunung Tangkuban Parahu. Pengunjung harus membayar sebesar Rp50.000 untuk dapat berkeliling menggunakan kuda.

BACA JUGA:
Nikmati Libur Panjang di Celosia Gunung Medan

Tidak hanya menyuguhkan keindahan alam yang diciptakan Allah SWT, tempat wisata ini juga menyediakan berbagai jenis kuliner yang sangat menggugah selera. Mulai dari rumah makan dengan bermacam menunya, cemilan kekinian seperti sosis bakar, pizza, kebab, serta juga tersedia buah-buahan segar seperti strowberry dan blueberry yang dijajakan kepada pengunjung.

Di sini juga disediakan mushalla. Sebelum pulang, saya menyempatkan diri untuk salat Ashar terlebih dahulu. Mushalla ini hanya menyediakan tempat untuk mengambil wudhu, sedangkan toilet dibuat terpisah. Lokasi toilet umum tidak jauh dari mushalla, dengan membayarkan Rp2.000 untuk uang kebersihan saya dapat menggunakan toilet. Tidak perlu khawatir toilet di sini sangat terawat dan bersih, sehingga pengunjung tetap nyaman menggunakan fasilitas.

Tidak terasa matahari sudah semakin rendah, waktu yang semakin sore membuat saya harus segera meninggalkan lokasi wisata. Pengelola juga telah memberikan pengumuman agar pengunjung bisa segera pulang. Namun sebelum pulang, saya menyempatkan diri singgah di toko oleh-oleh. Membeli beberapa buah tangan untuk dibawa pulang.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Peternakan
Fakultas Peternakan Universitas Andalas 2017

Berita Lainnya

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here