Beranda Berita

Menyiasati Tantangan Dosen atau Guru Masa Depan

Dosen Matematika Unand Arrival Rince Putri dalam Seminar Nasional Pekan Seni Bermatematika IV oleh Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) di Gedung Seminar I, Minggu (25/2/2018). (Foto: Melati Tri Ilhami)

gentaandalas.com- Salah satu tantangan dosen kedepannya adalah bagaimana cara memenuhi kebutuhan mahasiswa dalam memberikan materi. “Guru itu ibaratnya pelayan, tantangan dosen kedepannya adalah bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa terhadap materi yang diberikan dan bagaimana caranya mencapai consument satisfication dengan kondisi mahasiswa yang sangat berbeda dengan zaman  dahulu. Hal tersebut disampaikan dosen matematika Unand Arrival Rince Putri dalam Seminar Nasional Pekan Seni Bermatematika IV oleh Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) di Gedung Seminar I, Minggu (25/2/2018).

Menurut Arrival ada beberapa tantangan lagi yang akan dihadapi seorang dosen, yaitu kondisi mahasiswa zaman milenial yang cenderung memiliki daya juang rendah, sulit bersosialisasi, ingin yang serba cepat dan gampang serta enggan mencatat. Ditambah dengan krisis moral dan arus globalisasi yang bebas semakin memperbanyak tantangan dosen kedepannya.

Oleh sebab itu, Arrival memberikan solusi dengan memberikan enam tipe guru idaman yang bisa menarik perhatian mahasiswa agar mau menerima materi yang akan diajarkan.

“Agar mahasiswa bisa menerima materi dengan baik seorang dosen harus berpenampilan menarik, humoris, atraktif, berwibawa, pintar dan ramah. Jangan lupa untuk selalu tersenyum, selalu mengevaluasi diri, tampil rapi, memilki strategi dalam mengajar dan be prepared. Itu akan membantu menaikkan rasa percaya diri dosen untuk menghadapi tantangan kedepannya,“ ujar Arrival.

Menanggapi hal itu, Fazri Susano, dosen Universitas Bung Hatta menambahkan bahwa tidak cukup bagi dosen atau guru untuk sekedar pintar dalam mengajar, tetapi seorang guru juga harus pintar agar membuat pelajaran tersebut menarik. Mahasiswa atau siswa harus dibuat aktif dan mandiri dalam belajar sehingga ilmu yang diberikan dapat bertahan lama.

Lain halnya menurut salah satu peserta seminar nasional, Ihsan. Menurutnya memberikan pelayanan bagus memiliki dua sisi yang berbeda.  Disatu sisi menjadi lebih baik, namun disisi lain menjadi dilema bagi para guru dan dosen. Hal ini diakibatkan karena banyaknya mahasiswa yang salah kaprah dalam mengartikan pelayanan prima yang diberikan seorang dosen atau guru.

Ihsan mengatakan “Contohnya zaman sekarang saya lihat mahasiswa dengan mudahnya mengklarifikasi nilai tanpa adanya basa-basi”.  Jadi, kata Ihsan, tuntutan memberikan pelayanan prima ini dari pemerintah kepada dosen menjadi salah arti bagi mahasiswa atau siswa.

Reporter: Melati Tri Ilhami dan Rizqi Aatikah Rambe

Editor: Endrik Ahmad Iqbal

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here