Beranda Berita Feature

Menghadang Tren Novel Corona

gentaandalas.com- Serangan 2019-nCoV telah menjadi pandemi. Terbukti hingga saat ini sudah tercatat sebanyak 28 negara dari berbagai belahan dunia terjangkit virus ini. Beberapa di antaranya selain Cina yakni, Singapura, Thailand, Autralia, Inggris, Spanyol, Rusia, dan Jepang. Jika dilihat dari tanggal 21 Januari hingga kini (05/02/2020), maka dapat diketahui bahwa tren penyakit ini meningkat tajam. Pada Kamis, (30/01/2020) WHO menyatakan serangan virus ini sebagai situasi darurat.

Namun demikian, virus ini tidaklah begitu berbahaya jika dibandingkan dengan SARS-CoV dan MERS-CoV seperti yang diungkapkan oleh Yudi Pradipta, S.K.M., M.P.H. dosen epidemiologi Universitas Andalas.

“Hal itu bisa dilihat dari angka kematian yang ditimbulkan. Angka kematian yang diakibatkan oleh virus novel corona hanya 2%, lebih rendah dibandingkan MERS-CoV yang mewabah di Timur Tengah yang memiliki angka kematian mencapai 37% dan SARS-CoV di Tiongkok yang mencapai angka kematian 10%,” katanya.

Ia juga mengatakan bahwa semua orang beresiko tertular virus ini, baik itu anak kecil, orang tua, ibu hamil maupun lansia.

Dokter spesialis paru dari RS M. Jamil Padang, Dr, Irvan Medison, Sp.P, mengatakan bahwa “Kecepatan penyebarannya berbeda dibandingkan dengan virus flu burung. Jika flu burung hanya berpindah dari hewan ke manusia, maka virus novel corona dapat menular dari mausia ke manusia. Itulah yang menyebabkan penyebaran corona cepat,” jelasnya.

BACA JUGA:  Indonesia Aman dari Virus Corona?

Selain itu, menurut Irvan, kecepatan penyebaran juga tergantung bagaimana kewaspadaan negara yang terjangkit virus tersebut, seperti yang dilakukan Cina yakni dengan mengisolasi Kota Wuhan.

“Pada masa pandemi, grafik penyebaran kasus akan menemui titik puncak sampai pada akhirnya turun kembali. Yang bisa dilakukan untuk menurunkan grafik tersebut adalah dengan mengisolasi tempat sumber penyebaran virus tersebut. dengan isolasi akan ada pembatasan penyebaran virus. Sehingga kasus hanya ada pada satu tempat saja. Jika proses karantina berhasil maka kemungkinan akan ada penurunan kasus,” jelasnya.

Intinya penyebaran virus akan semakin cepat apabila penanganannya lambat. Karena virus inipun sulit dideteksi maka dituntut pula kejelian individu untuk melihat gejala yang ada. “Gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini sama seperti gejala yang ditimbulkan dari pneumonia, SARS-CoV dan MERS-CoV, yakni demam lebih dari 38 derajat, batuk, pilek, dan disertai sesak nafas,” ujar Yudi.

Agar dapat terhindar dari virus ini, ada beberapa pencegahan yang bisa dilakukan. Seperti yang diungkapkan Irvan dan Yudi berikut.

“Bagi yang sakit bisa memakai masker biasa karena dapat mencegah droplet ke orang lain, tapi untuk yang sehat lebih baik memakai masker N95 untuk mencegah virus masuk. Selain itu mencuci tangan dengan antiseptik dan meningkatkan daya tahan tubuh serta menjaga etika batuk juga penting dilakukan, ” ujar Irvan.

BACA JUGA:  2019-nCoV, Corona Versi Baru

Ia juga menjelaskan bahwa rata-rata yang meninggal adalah yang berusia tua. Itu artinya yang rentan terkena penyakit adalah orang dengan daya tahan tubuh yang lemah. Setiap tubuh manusia punya antibodi yang akan melawan berbagai macam penyakit yang menyerang.

Selaras dengan yang dikatakan Irvan, Yudi-pun menjelaskan cara pencegahan virus ini yakni dengan menerapkan pola hidup sehat dan bersih (PHBS) dan makan makanan matang. “Semua orang rentan terhadap virus ini. Virus membutuhkan inang untuk hidup, oleh karena itu imunitas bisa dijadikan tameng untuk melawan virus tersebut,” katanya.

Berikutnya, jika dirasa perlu, lakukan cek kesehatan untuk memastikan keberadaan virus tersebut dalam tubuh, mencegah penularannya jika sudah terjangkit, seperti swab atau pengambilan sampel apus tenggorokan. Kemudian sampel akan dikirimkan ke laboratorium yang ada di Jakarta.

Pengobatan virus 2019-nCoV ini belum ditemukan sama seperti SARS. Upaya yang dilakukan di rumah sakit hanyalah perawatan pengurangan gejala dan pengobatan infeksi lain yang mengikutinya.

Terkait vaksin untuk virus ini, masih belum ditemukan. Sejumlah peneliti dari beberapa negara seperti Cina, Amerika Serikat dan Australia tengah melakukan penelitian untuk menemukan vaksin yang bisa mengobati manusia yang terjangkit virus ini.

 

Reporter: Icha Putri dan Geliz Luh Titisari

Editor: Rahmadina Firdaus

Berita Lainnya

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here