Beranda Aspirasi

Menggali Makna Perjuangan Kartini

Image result for foto kartiniRA Kartini (Foto: Ist)

*Juni Fitra Yenti

“Perempuan itu jadi saka guru peradaban”. Itulah sepenggal isi surat yang ditulis oleh RA Kartini kepada Ny Abendanon pada 21 Januari 1902. Saya sepakat dengan beliau, karena perempuanlah yang akan mencetak generasi-generasi unggul suatu banga. RA Kartini merupakan salah satu tokoh perempuan Indonesia yang berjuang demi kaum perempuan, khususnya dalam hal pendidikan. Pada masa Belanda, nasib kaum perempuan Indonesia mengalami penindasan dan berada dalam kukungan kaum patriaki. Kartini melalui pemikirannya berusaha mendobrok stigma tersebut, ia berjuang meningkatkan derajat dan martabat kaum perempuan kala itu. Dengan pemikiran dan kegigihanya beliau mendirikan sekolah perempuan yang diberi nama “Sekolah Kartini”. Berkat usahanya itu, ia dianggap sebagai pelopor tokoh gerakan perempuan yang menuntut hak kaumnya untuk maju dalam pikiran. Beliau mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan dalam pusaran politik, ekonomi, sosial, agama, dan budaya melalui pendidikan.

Meskipun jasad Kartini telah lama terkubur, namun ide dan pemikirannya masih bergema hingga saat ini. Momentun Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April bisa dimaknai kembali bahwa perjuangan beliau tidak boleh berhenti begitu saja. Inilah saatnya perempuan Indonesia kembali menggali makna perjuangan beliau yang sesungguhnya, bukan hanya seremonial memakai baju kebaya belaka, lebih dari itu perempuan harus menyadari potensinya yang besar dalam pembangunan bangsa. Perempuanlah yang akan melahirkan peradaban dan menciptakan generasi yang berpikiran maju, tidak hanya terkukung di ranah domestik, tetapi juga berperan aktif dalam segala bidang untuk pembangunan nasional menuju Indonesia modern. Karena itu, perempuan sejatinya harus memiliki kapasitas pengetahuan dan intelektual sehingga bisa memerankan diri sebagai subjek dalam ranah publik. Entah itu sebagai tenaga kerja, tenaga pendidik, pemerintahan  atau apapun.

Memunculkan kesadaran perempuan untuk aktif dalam ranah publik

Sebagai perempuan yang berpikiran maju, kita harus memunculkan kesadaran untuk aktif dan terlibat di dalam kegiatan-kegiatan, misalnya dalam pusaran politik, kita bisa berpatisipasi dalam institusi, seperti lembaga legislatif, pemerintahan lokal dan partai politik. Mengingat masih sedikitnya perempuan yang terlibat di pemerintahan. Walaupun stigma masyarakat terhadap pembagian kerja di pemerintahan sudah berubah, namun pandangan masyarakat terhadap suatu jabatan tertentu masih bias gender. Apalagi sekarang sudah adanya sistem perundang-undangan politik yang membuka aksebilitas dan partisipasi perempuan dalam parlemen dan pemerintahan. Upaya untuk meningkatkan peran perempuan tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang partai politik dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang pemilihan umum anggota DPR dan DPD yang didalamnya juga mengatur pemilu tahun 2009. Tentu regulasi tersebut bisa dimanfaatkan kaum perempuan untuk terlibat aktif dalam proses politik dan pengambilan kebijakan di tingkat lokal.

Meskipun begitu, perempuan harus tetap menjaga keseimbangan antara kualitas intelektual dengan kualitas emosionalnya. Sebagai perempuan tetaplah menjaga sikap-sikap lembut, penuh kasih sayang dan penyabar. Misalnya, sebagai calon pemimpin politik perempuan bisa menciptakan arus baru dalam dunia politik, yakni dunia politik yang lebih mengedepankan kesantunan, kelembutan, dan anti kekerasan, karena seperti yang kita tau bahwa image dunia politik identik dengan politik kotor, saling jegal dan curang.

Pelopor perjuangan isu kerakyatan

Sama seperti yang dlakukan oleh Kartini pada kala itu, yaitu memperjuangkan nasib kaumnya yang tertindas, perempuan masa kini juga harus bisa memperjuangan isu kerakyatan, terutama persoalan yang dekat dengan kaum perempuan. Misalnya kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan terhadap perempuan, perbudakan, diskriminasi, eksploitasi anak, dan lain sebagainya. Isu-isu tersebut tetap penting diperjuangkan oleh kaum perempuan, apalagi sekarang masih maraknya kasus pelecehan seksual yang menimpa kaum perempuan.

Penguatan kapasitas perempuan

Sebagai kaum perempuan kita juga harus memberanikan diri tampil dalam rangka mengisi jabatan-jabatan strategis, entah itu dalam pemerintahan, institusi pendidikan, industri, lembaga-lembaga masyarakat, atau apapun. Tentu, dalam mengisi jabatan-jabatan tersebut perempuan perlu keterampilan dan pengetahuan. Maka, untuk penguatan kapasitas perempuan, bisa melalui kegiatan pendidikan, seminar, pelatihan dan lokakarya. Melalui kegiatan dan pelatihan tersebut, perempuan dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya sesuai bidang masing-masing.

Perlu disadari bahwa, perempuan tidak haya sebagai seorang ibu atau istri saja, tetapi juga sebagai abdi negara, anggota masyarakat, sumber daya manusia, dan abdi Tuhan YME. Perempuan masa kini harus berjuang untuk mengisi kemerdekaan dan harus berperan aktif dalam mencerdaskan dan meningkatkan kualitas bangsa, agar dapat bersaing dengan dunia maju dalam era globalisasi,

Perempuan perlu mempertebal kepercayaan dirinya dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maupun agama. Kaum perempuan harus dapat mengonsepkan diri, serta mengidentifikas dirinya, seperti yang dia mau. Perempuan bisa menigkatkan kualitas hidupnya, melalui pendidikan spiritual, intelektual dan praktikal.

Berdasarkan data hasil proyeksi penduduk oleh Badan Pusat Statistik (BPS) 2010-2035, dari total 261,9 juta penduduk Indonesia pada 2017, penduduk perempuan berjumlah 130,3 juta jiwa atau sekitar 49,75 persen dari populasi. Tentu jumlah perempuan yang lebih dari separuh penduduk Indonesia dapat dijadikan potensi bangsa dan menciptakan perempuan yang berdaya dengan keterampilan masing-masing.Namun, kesadaran tentang pentingnya pengembangan peranan perempuan harus datang dari semua pihak, baik institusi maupun lembaga-lembaga yang ada di masyarakat.

Itulah sebenarnya yang harus kembali digali dalam momentum Hari Kartini, yakni meneruskan pemikiran-pemikiran beliau bahwa sebagai kaum perempuan kita bisa berkontribusi dan menunjukan potensi kita dalam segala bidang, tidak hanya terkukung di ranah domestik, tetapi perempuan yang akan mencetak generasi-generasi emas di masa depan, karena jika perempuan tidak bisa berperan secara optimal, tentu bangsa Indonesia lambat untuk menjadi bangsa yang besar, apalagi bersaing dengan bangsa lain. Maka, saya, kamu dan kita sebagai perempuan teruslah belajar, gali potensi diri dan berkontribusi dalam bidang apapun, untuk generasi yang lebih baik.

Selamat Hari Kartini!

Penulis merupakan mahasiswi

Jurusan Sastra Indonesia angkatan 2016

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here