Beranda Berita

Mengenang Sejarah Tambang Batu Bara Ombilin, Situs Warisan Dunia

Batu bara Ombilin. (Foto: Rani Aprianti)

Oleh : Rani Aprianti*

Beberapa waktu lalu, bangsa Indonesia meraih kebanggaan karena Tambang Batu Bara Ombilin berhasil ditetapkan menjadi warisan dunia oleh UNESCO (salah satu organisasi Internasional di bawah naungan PBB yang mengurusi hal yang berkaitan dengan pendidikan, sains, dan kebudayaan). Banyak hal menjadi pertimbangan mengapa daerah bekas tambang Eropa yang terletak di Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatra Barat itu terpilih menjadi warisan dunia. Berkat rasa penasaran, saya dan teman-teman yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata di Desa Lunto Barat, Kecamatan Lembah Segar Kota Sawahlunto pergi mengunjungi museum Tambang Batu Bara Ombilin yang terletak di pusat kota Sawahlunto. Butuh waktu sekitar 20 menit dari Desa Lunto Barat menggunakan sepeda motor menuju meseum tersebut. Jika dari kota Padang, akan menghabiskan waktu sekitar tiga jam perjalanan menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua.

Kami datang sekitar pukul 12.00 WIB, museum tersebut sedang tutup karena istirahat siang. Berhubung museum tutup, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di sebuah kafe yang terletak tepat di samping museum. Pukul 13.30 WIB, kami kembali ke museum. Untuk memasuki museum, kami tidak dikenakan biaya sepeserpun alias gratis. Pertama kali memasuki pintu museum, kami disambut oleh seorang petugas museum dengan ramah dan senyuman ringan. Setelah itu, kami mengisi daftar pengunjung dan mengikuti instruksi dari petugas.

Museum yang kami datangi tidak terlalu besar. Dinding museum didominasi oleh warna putih dengan beberapa pajangan foto dan keterangan tentang museum dan tokoh di dalam foto. Di ruang pertama, kami melihat gambar seorang ahli biologi bernama Willem Hendrijk De Grave yang menemukan fakta bahwa di daerah Sawahlunto tersimpan begitu banyak batu bara. Di depan foto Grave, seorang tokoh bernama Jan Willem Ijzerman juga terpampang besar lengkap dengan patung kepalanya. Di ruangan itu, kami dapat melihat batu bara dengan kandungan mineral yang berbeda-beda ditaruh dalam etalase kaca. Petugas museum tersebut bercerita mengenai sejarah tambang batu bara Ombilin dengan lancar dan gaya yang santai, sehingga kami dapat memahami setiap penjelasannya dengan baik.

BACA JUGA:  Teknik Elektro Unand Resmi Raih Akreditasi A

Kemudian, petugas museum yang merupakan alumni Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Andalas itu membawa kami menuju ruangan selanjutnya. Di ruangan kedua yang dahulunya merupakan ruangan kepala sekolah pertambangan, petugas menunjukkan kami mesin ketik, berbagai jenis telepon yang dulu digunakan oleh mandor tambang, proyektor, stempel perusahaan, serta perforator (alat pelubang kertas). Dari penjelasan sang petugas, kami menyadari  bahwa Eropa, termasuk Belanda, sudah sangat maju karena di masa itu sudah memiliki alat-alat canggih tersebut. Kami juga dapat bertanya apa saja kepada petugas museum, dan ia akan menjawabnya dengan senang hati, meskipun terkadang pertanyaan kami tidak selalu berkaitan dengan Tambang Batu Bara Ombilin.

Lalu kami diarahkan menuju ruangan selanjutnya. Di ruangan itu, dapat kami lihat baju dan peralatan kerja yang dikenakan oleh petugas tambang. Di dindingnya terpampang foto-foto asli pekerja tambang zaman dulu. Saat kami melihat foto-foto tersebut, perasaan kami begitu miris, sedih, dan geram akan kekejaman penjajah. Foto-foto tersebut menunjukkan ekspresi lelah dan raut terluka yang tampak nyata dari lengkung bibir yang menurun ke bawah, tubuh kurus kering,  dan mata yang berkaca-kaca. Sebenarnya masih banyak foto-foto yang lebih miris,  namun karena banyak pertimbangan dan dirasa kurang layak, maka foto-foto tersebut tidak ditampilkan di museum.

Sambil menyusuri ruangan selanjutnya, kami melihat replika lubang tambang dan alat pengangkut batu bara. Spot ini cocok bagi pengunjung yang ingin berswafoto dengan hasil Instagramable. Lalu di ruangan lain kami kembali disuguhi foto-foto keadaan tambang zaman dulu. Foto tersebut berjumlah lebih banyak dengan ukuran yang lebih kecil dari foto sebelumnya. Lagi-lagi, kisah-kisah masa lalu yang diceritakan oleh petugas membuat hati kami tersentuh.

BACA JUGA:  Menuju AUN-QA 2020, FH Unand Gencar Lakukan Persiapan

“Semoga saja negara ini tidak dijajah kembali,” harap saya dalam hati.

Di ruangan depan, tempat berbagai foto dipajang. Di sana tampak batu bara yang banyak dan diletakkan di lantai serta dilingkari oleh tali tambang sebagai pembatas. Ternyata, semakin ringan batu bara, semakin baik kualitasnya. Batu bara ombilin juga menempati peringkat pertama sebagai batu bara terbaik di dunia. Pengunjung juga dapat membawa pulang batu bara yang ada di sana sebagai oleh-oleh. Tapi berhati-hatilah, karena warna batu bara yang seperti arang dapat pindah ke tangan maupun baju kita.

Di ruangan terakhir, kami melihat foto para pemimpin tambang dari tahun 1891 sampai dengan tahun 2014. Lalu kami sampai lagi di ruang pertama. Petugas kemudian menutup kisah dan penjelasan sejarahnya. Kami diperbolehkan menyusuri lagi museum tanpa diinstruksikan oleh petugas, sehingga bebas berswafoto sebanyak yang kami mau. Kami pun tak tinggal diam, kami kembali menyusuri ruang demi ruang dan mengambil berbagai potret diri sesuka hati kami. Setelah puas berswafoto, kami pun kembali pulang ke Desa Lunto Barat. Meski sedikit lelah karena berdiri terlalu lama, tapi kami merasa senang karena sudah mendapatkan sejarah dan ilmu pengetahuan yang lebih dalam tentang batu bara. Selain itu,  kami tentu berbangga diri, karena kami telah berkunjung ke salah satu tempat yang menjadi situs warisan dunia.

*Penulis merupakan Mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas 2016

Baca Juga yang Menarik Lainnya!

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here