Oleh : Suhada Tri Marneli*)

Seorang pengunjung sedang mencuci tangan sebelum memasuki Museum Kelahiran Buya Hamka, Selasa (13/4/2021). (Genta Andalas/Suhada Tri Marneli)

Berkunjung ke Danau Maninjau kurang lengkap rasanya jika tidak singgah ke Museum Kelahiran Buya Hamka yang terletak di sekitaran tepi Danau Maninjau, tepatnya Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Perjalanan menuju Museum Kelahiran Buya Hamka jika dari Bukittinggi akan melewati kelok 44 atau dari Pariaman akan melewati Lubuk Basung.

Ketika sampai di Rumah Kelahiran Buya Hamka, kita akan disuguhkan dengan bangunan Museum yang khas Minangkabau dan dari halamannya kita dapat menikmati keelokkan Danau Maninjau. Di masa pandemi Covid-19 saat ini, pengunjung diwajibkan memakai masker. Sebelum memasuki rumah kelahiran Buya Hamka pengunjung harus mencuci tangan serta menjaga protokol kesehatan selama berkunjung di Museum.

Salah seorang warga Maninjau, Diki menjelaskan bahwa Museum Kelahiran Buya Hamka umumnya dikunjungi oleh pelajar, mahasiswa, atau pun masyarakat umum. Tidak hanya itu Diki menambahkan bahwa tidak hanya dari Indonesia, pengunjung museum juga ada yang berasal dari Negeri Jiran Malaysia hingga Singapura.

“Pengunjung museum banyak juga yang berasal dari luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura,” jelasnya pada Selasa (13/4/2021).

Museum ini merupakan rumah masa kecil Buya Hamka sebelum pindah ke Padang Panjang dan Pulau Jawa. Dari tepian Danau Maninjau inilah lahir sosok Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang biasa kita kenal dengan nama Buya Hamka, ulama besar yang namanya dikenal hingga mancanegara. Buya Hamka dilahirkan pada 17 Februari 1908 dan wafat pada 24 Juli 1981 di Jakarta.

Potongan sejarah kehidupan Buya Hamka dari lahir hingga wafat dapat dilihat dari Museum ini. Di dalam Museum terdapat tempat tidur orang tua Buya Hamka, dimana disinilah dilahirkan sosok Buya Hamka yang namanya terkenal hingga saat ini. Selain tempat tidur, juga terdapat beragam foto yang menggambarkan kehidupan Buya Hamka. Mulai dari foto masa kecil, foto ketika menimba ilmu di Pulau Jawa, foto bersama istri dan anak-anaknya, hingga foto pengantaran jenazah Buya Hamka ketika menutup usia.

Pada sudut lain bangunan museum terdapat jubah-jubah yang digunakan Buya Hamka semasa hidupnya. Jubah tersebut tersimpan rapi di dalam lemari kaca museum. Di depan lemari kaca tempat jubah ini, terdapat meja dan kursi yang biasa digunakan oleh Buya Hamka semasa hidupnya. Bergeser sedikit ke kanan, kita akan menjumpai mesin ketik tua yang digunakan Buya Hamka untuk menulis.

Sosok Buya Hamka tidak hanya terkenal sebagai ulama, tetapi juga sebagai penulis, sastrawan, dan editor di beberapa surat kabar pada masanya. Bahkan nama singkatan Buya Hamka mulai dikenal ketika beliau menerbitkan Majalah Panji Masyarakat dengan nama Buya Hamka.

Buya Hamka telah menerbitkan ratusan buku, mulai dari buku agama, sastra, novel roman, hingga politik. Beberapa karya paling fenomel beliau yaitu Tafsir al-Azhar (5 jilid), Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, dan Di Dalam Lembah Kehidupan. Buku-buku ini dapat dilihat di Rumah Kelahiran, atau pun di Rumah Baca yang terletak di samping Museum.

*Penulis merupakan Mahasiswi Jurusan Agroteknologi 2018 Fakultas Pertanian Universitas Andalas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here