Penanaman sayur kangkung menggunakan media akuaponik yang dilakukan kelompok KKN Unand Banten bersama pemuda desa. (Genta Andalas/dok. Pribadi)

Banten, gentaandalas.com- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas (Unand) wilayah Ciomas, Banten memperkenalkan metode pertanian akuaponik melalui demo yang melibatkan pemuda setempat. Metode ini dipilih setelah melihat adanya potensi lahan yang dimiliki masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Mahasiswi Fakultas Pertanian Unand, Efi Fadhillah selaku inisiator program tersebut.

“Latar belakang penerapan metode ini karena masyarakat di sini banyak yang memiliki kolam ikan namun dengan lahan yang sempit, sehingga metode ini cocok untuk diterapkan,” jelas Efi melalui sambungan telepon, Sabtu (7/8/2021).

Akuaponik merupakan sistem budidaya yang menggabungkan antara akuakultur dengan hidroponik. Efi menyebutkan bahwa penerapan metode akuaponik akan lebih menguntungkan, karena dengan lahan yang terbatas mampu menghasilkan dua komoditas, yaitu sayur dan ikan, sehingga dapat menekan biaya budidaya.

Lebih lanjut Efi menjelaskan, kelebihan metode akuaponik dibanding hidroponik terletak dari segi penyediaan nutrisinya.

“Untuk hidroponik kita harus membeli nutrisinya, kalau akuaponik cukup dari kotoran ikannya,” ujarnya.

Cara pembuatan media akuaponik cukup sederhana. Gunakan ember yang berukuran 80 liter yang akan digunakan sebagai kolam ikan. Kemudian lubangi tutup ember tersebut sehingga gelas plastik bisa masuk. Selanjutnya, isi gelas plastik tersebut dengan tanah, lalu tabur benih sayuran yang diinginkan di atasnya. Jangan lupa untuk melubangi bagian bawah gelas plastik agar air di dalam ember dapat diserap.

“Sayurnya menggunakan kangkung, sedangkan ikannya ikan lele,” kata Efi.

Selain itu, Efi juga memaparkan dalam pembuatan akuaponik dibutuhkan dana awal pembuatan dan perwatan yang rutin. Sedikitnya, air sebagai media budidaya ikan harus satu minggu sekali jika tidak memakai sistem pompa.

Efi berharap metode akuaponik bisa jadi peluang usaha baru untuk pemuda yang ada di desa.

“Semoga program ini bisa memberdayakan pemuda untuk menerapkan sistem yang lebih baik dalam pertanian, memanfaatkan lahan sempit, dan pertanian yang lebih organik,” tuturnya

Ketua Pemuda Tani Dwiyanto Setiawan berharap agar sistem akuaponik tersebut dapat populer di daerahnya karena sistem pendapatan masyarakat datang dari sektor perikanan dan pertanian hanya saja lahannya terbatas.

“Maunya akuaponik populer di sini, karena masih banyak yang belum mengenal akuaponik terutama di daerah saya yaitu Kampung Balaikambang. Dari pemeliharaan dan pemupukannya tidak ribet, karena kita hanya mengandalkan air dan dari ikan itu sendiri,” ungkap Dwi.

Dwi menambahkan, jika teknik ini juga harus sejalan dengan kesadaran masyarakat agar dapat efektif saat dilakukan.

Reporter : Icha Putri dan Dian Fitri Yova
Editor : Linda Susanti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here