Home Berita

Mak Itam, Peninggalan Menawan Kota Sawahlunto

Oleh : Tiwi Veronika*

Museum Kereta Api Kota Sawahlunto sebagai salah satu peninggalan sejarah zaman kolonial Belanda. (Foto : Tiwi Veronika)

Di hari mendung terlintas niat mengunjungi eksotisme kota yang disebut menyerupai bentuk mangkok, Sawahlunto. Kota ini penuh dengan warna warni sejarah di masa kolonial Belanda. Hasil buminya kaya dengan batu bara, sehingga tidak heran jika hampir di setiap daerahnya ditemui tempat bekas batu bara.

Selepas salat zuhur, saya dan kakak beranjak dari rumah yang berada di Jorong Tapian Diaro, Kabupaten Sijunjung menuju kota tambang tersebut. Setelah berkendara selama 45 menit menggunakan sepeda motor, akhirnya kami sampai pada pukul 13.38 WIB. Tulisan “Selamat Datang di Kota Sawahlunto” menyambut kami, senang sekali rasanya bisa kembali mengunjungi kota ini.

Perut yang mulai terasa lapar menuntut untuk diisi. Kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum menjelajahi kota dengan luas 275,9 kilometer persegi ini. Bakso kikil adalah menu makan siang yang kami pilih kali ini. Berbeda dengan mie bakso pada umumnya, bakso kikil ini dipadukan dengan mie berwarna hijau. Menjadi menu yang wajib dicoba oleh wisatawan yang tengah berkunjung ke Kota Sawahlunto.

Beranjak dari bakso kikil, kami melanjutkan perjalanan menuju museum kereta api. Museum ini berisi replika kereta api pada masa pendudukan Belanda. Kereta api yang dikenal dengan sebutan Mak Itam ini digunakan sebagai pengangkut batu bara. Replika bangunan stasiun serta lokomotif kereta membuat saya bernostalgia ke masa lampau.

Tidak ada perbedaan yang signifikan ketika satu tahun lalu saya mengunjungi tempat ini. Perbedaan kecil terlihat pada lokomotif kereta yang telah diwarnai, menambah nilai keindahan dari museum ini. Kebersihannya pun amat terjaga sehingga membuat pengunjung betah berada di sana.

Menyusuri bagian dalam museum, terdapat galeri foto kereta dan kehidupan stasiun zaman dulu yang tertata rapi. Hal ini semakin menenggelamkan pengunjung untuk merasakan suasana tempo dulu. Ketika berada di sana saya merasa stasiun ini masih beroperasi. Pengelola mampu membuat suasana museum terkesan hidup.

Tidak hanya itu, di bagian luar museum telah disediakan replika berbagai jenis kereta api lengkap dengan peralatannya. Sangat cocok bagi pengunjung yang hobi berswafoto, atau sekedar mengabadikan momen di museum ini. Hal menarik lainnya yang disuguhkan museum ini adalah jam stasiun kuno, dengan keunikan tulisan romawi angka empat yang ditulis dengan IIII bukan IV.

Menoleh ke arah Timur maka kita bisa menikmati pemandangan alam yang sangat indah disertai dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi dan langit yang begitu cerah. Wah, keindahan dunia yang tak bisa dielakkan. Menoleh ke arah selatan museum, akan ditemukan tulisan “Sawahlunto” di atas puncak sebuah perbukitan.

Pengunjung tengah menikmati kopi di Gubuk Coffe yang berada di sebelah Museum Kereta Api Kota Sawahlunto. (Foto : Tiwi Veronika)

Di bagian Barat museum terdapat sebuah kafe bernuansa luar ruangan. Kafe ini bernama Gubuk Coffe, berbagai jenis kopi disediakan di sana. Menu makanan yang disediakan pun sangat beragam. So, bagi yang tidak suka kopi jangan khawatir. Kamu tetap bisa menikmati suasana dengan sajian menu lainnya.

Saya memilih duduk bangku bernomor 8, lalu membaca buku menu yang ada di atas meja. Ice kawa kopi milk, menu pilihan yang sekiranya menggugah selera. Tak lama kemudian sang penjual mengampiri, saya pun menanyakan rasa kopi kawa sebelum memesannya. Setelah mendengar penjelasannya saya mengurungkan niat memesan kopi tersebut.

Semakin sore pengunjung semakin ramai berdatangan. Nuansa stasiun kereta api tempo dulu sangat terasa. Dari Gubuk Coffe ini saya bisa melihat keindahan sudut Kota Sawahlunto, sembari menikmati hidangan kopi panas. Berbagi kisah dengan orang terdekat menjelang matahari tenggelam menambah keseruan perjalanan kami.

Suasana museum kereta api yang sedemikian rupa, ditambah suguhan pemandangan alam yang menawan membuat saya tak henti bergumam takjub. Bagi kalian yang menyukai wisata sejarah, edukasi, serta keindahan alam yang menawan, Museum Kereta Api Sawahlunto adalah tempat yang tepat.

 

*Penulis merupakan mahasiswi Jurusan Peternakan
Fakultas Peternakan Universitas Andalas 2017

Berita Lainnya

NO COMMENTS

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here