Beranda Sastra dan Budaya Khasanah Budaya Lukah Gilo Pasaman

Lukah Gilo Pasaman

Sumber: www.antaranews.com

Sumatera Barat (Sumbar) tidak hanya dikenal dengan rendangnya yang lezat, tapi juga terkenal akan kesenian daerahnya. Daerah khatuliswa dengan fenomena alamnya ini memiliki kesenian daerah yang disebut Lukah Gilo, kesenian yang terdapat di Bonjol, Kabupaten Pasaman yang mampu menyihir setiap penontonnya.

Lukah Gilo berasal dari bahasa Minang yang terdiri dari dua kata, yaitu Lukah yang berarti alat tangkap ikan dari anyaman rotan dan Gilo yang artinya gila. Jadi, Lukah Gilo bisa diartikan sebagai alat tangkap ikan yang terbuat dari rotan dan dapat bergerak kemana-mana layaknya orang gila. Kesenian rakyat ini bertujuan untuk menghibur masyarakat serta mengembangkan dan menguji ketangkasan anak nagari.

Dalam peragaannya, Lukah dikendalikan oleh seorang pawang dan pemainnya. Secara umum, ada tiga bagian yang harus dilakukan sebelum menampilkan Lukah Gilo yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutup.

Pada tahap persiapan, yang perlu dilakukan pertama kali adalah membuat Lukah Gilo. Bentuknya mirip seperti boneka jelangkung, hanya berbeda dari segi ukuran, Lukah lebih besar. Bagian badan terbuat dari rotan yang menyerupai alat tangkap ikan, bagian tangan terbuat dari kayu panjang, dan bagian kepala dari batok kelapa. Biasanya bagian badan diberi penutup yang terbuat dari kain hitam. Bisa dikatakan bentuk Lukah menyerupai seorang manusia.

Selain itu, dalam tahap persiapan, pawang dan pemain Lukah disiapkan pakaian dan music pengiringnya. Biasanya musik yang dipakai adalah musik tradisional Minangkabau. Sesajinya berupa makanan, minuman, kembang, dan lain-lain sebagai sarana untuk memanggil jin, biasanya dibuat sendiri oleh pawang Lukah.

Selanjutnya, tahap pelaksanaan. Ketika semua syarat pada tahap persiapan sudah terpenuhi, maka Lukah Gilo siap diperagakan. Pertama-tama para pawang Lukah akan memegang Lukah Gilo dan berkumpul ditengah lapangan tempat dimana Lukah akan diperagakan. Selanjutnya, pawang akan membaca mantra agar Lukah bisa bergerak. Setelah itu Lukah bergerak liar kian kemari layaknya orang gila dan para pemain lukah menahan agar tidak mengenai penonton. Para Lukah nantinya juga akan mengikuti gerak Lukah Gilo.

Lukah Gilo lama kelamaan bergerak mengikuti irama musik. Gerakan Lukah berhenti ketika pawang berhenti membaca mantra dan para Lukah sudah kelelahan. Kesenian rakyat ini juga erat kaitannya dengan kepercayaan animisme dan dinamisme yang berkembang dimasyarakat sekitar. Lukah sudah ada sejak zaman Perang Paderi dan pernah sempat menghilang.

Gerakan yang ada pada Lukah Gilo dikatakan unik karena pada saat bergerak Lukah dimasuki oleh sebangsa makhluk halus yang dikenal dengan jin. Selain itu, Lukah juga merupakan kesenian rakyat yang sakral karena setiap gerakan dan musik yang ditampilkan memiliki makna tersendiri.

Selain itu, atraksi yang dilakukan Lukah juga menarik. Terkadang bisa membuat orang tertawa dan kadang menakutkan. Dikatakan menakutkan karena Lukah bisa membuat para penonton kesurupan. Ketika ada yang kesurupan, satu-satunya yang bisa menyadarkan penonton hanya pawang dari Lukah sendiri. Semakin ramai yang menonton, semakin gila pula Lukah.

Rahmi (20 tahun), mengatakan Lukah Gilo merupakan suatu kesenian rakyat yang saat ini sudah jarang diperagakan. Tapi di Kabupaten Pasaman Lukah masih ada khususnya pada acara-acara besar. Menurutnya, Lukah sangat menakutkan karena memiliki unsur-unsur magis. Tapi, Lukah kesenian rakyat yang harus dilestarikan.

Di daerah tertentu, Lukah Gilo hanya ditampilkan pada malam hari. Hal itu dilakukan karena daerah tersebut menganggap Lukah Gilo bukan hanya kesenian rakyat yang bertujuan untuk menghibur saja, tapi lebih dari itu.

Tahap akhir yaitu penutupan. Pada tahap ini, jin yang ada dalam Lukah akan dikeluarkan pawang dan biasanya para pemain lukah akan lemas. Setelah semua merasa kelelahan, maka berakhir juga Lukah Gilo.

Kesenian rakyat Lukah Gilo tidak hanya ada di Bonjol saja, tapi juga terdapat di berbagai daerah yang ada di Sumbar. Lukah di Pasaman muncul ketika ada acara-acara besar, seperti memperingati hari kelahiran Kabupaten Pasaman, acara Titik Kulminasi, dan pernah tampil pada Tour De Singkarak di Etape 3. Selain itu, Lukah Gilo Pasaman juga pernah dibawa ke acara seni tingkat nasional.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Andalas

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here