Literasi Sejarah Melalui Cagar Budaya Museum Tan Malaka

Pengunjung sedang mengamati foto Tan Malaka yang berada di dalam Museum Tan Malaka, Pandam Gadang, Minggu (13/12/2020). (Genta Andalas/Nurul 'Ain)
Pengunjung sedang mengamati foto Tan Malaka yang berada di dalam Museum Tan Malaka, Pandam Gadang, Minggu (13/12/2020). (Genta Andalas/Nurul ‘Ain)

Ibrahim datuak Tan Malaka atau yang dikenal dengan nama Tan Malaka merupakan seorang pahlawan nasional yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dia berasal dari ranah Minangkabau, tepatnya di Nagari Pandam Gadang, Suliki Gunung Emas, Lima Puluh Kota. Langkah hidup dan sejarah Tan Malaka diteliti oleh Harry A Poese, sejarawan asal Belanda yang kemudian berhasil mengungkap keberadaan makam Tan Malaka pada 2007 lalu.

Tan Malaka diketahui dimakamkan di desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur. Setelah mengetahui keberadaan makam Tan Malaka, pihak keluarga pun meminta agar makam tersebut dipindahkan ke tanah kelahirannya. Namun terdapat penolakan dari warga setempat karena makam yang dibongkar itu bersebelahan dengan leluhur mereka yaitu makam Mbah Selo, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat memindahkan makam sang pahlawan yang sering dikaitkan dengan golongan kiri tersebut.

Dari pernyataan yang diberikan oleh Indra Ibnu Ikatama, salah seorang piut dari keluarga besar Tan Malaka mengungkapkan bahwa Harry A Poese menyatakan 95 persen tulang belulang di makam tersebut merupakan milik Tan Malaka. Akhirnya dengan bantuan dari yayasan dan pengagum Tan Malaka, makam beliau berhasil dijemput dan dibawa untuk dimakamkan di kampung halaman.

“Ada seorang peneliti dari Belanda yang mengambil sampel dari tulang belulang Tan Malaka Harry A Poese yang menyatakan bahwa 95 persen makam yang diduga merupakan makan Tan Malaka berada di Kediri memang benar. Sehingga penjemputan ini berdasarkan kesepakata ninik mamak dan dibantu oleh yayasan beserta para pengagum Tan Malaka,” jelas Indra saat ditemui di kediamannya, Pandam Gadang, Minggu (13/12/2020)

Setelah dipindahkan pada tahun 2017 lalu, kini makam Tan Malaka dapat kita temui di tanah kelahiran beliau di Pandam Gadang. Rumah Gadang Tan Malaka telah dijadikan museum yang menyimpan segala perjalanan hidup sang legenda. Museum Tan Malaka berada 100 meter dari jalan raya dan untuk bisa sampai ke sana kita harus melewati jalan kecil.

Museum Tan Malaka memiliki halaman rumput hijau yang dikelilingi pohon kelapa, menggambarkan kedamaian suasana desa pada kehidupan masa lampau. Makam Tan Malaka berada di depan museum yang diapit oleh makam ayah dan ibunya. Di atas makam berkeramik berwarna hitam mengkilap itu terukir nama Tan Malaka, serta dengan tancapan bendera merah putih di kepala pusaranya. Di samping makam terdapat patung Tan Malaka yang nan tegas menawan. Suasana mendung kala itu menambah pilu dan kesedihan mengingat jasa dan perjuangannya semasa hidup.

Sebelum diresmikan, pihak keluarga Tan Malaka melakukan prosesi penjemputan makam yang disesuaikan dengan ketentuan adat. Hal ini mengingat Tan Malaka merupakan Raja Penghulu Lantak Salapan di daerah Bungo Satangkai. Kondisi rumah Tan Malaka yang sudah tua dimakan rayap membuat pemerintah daerah yang melestarikan cagar budaya lingkup Sumatra Barat-Riau memberikan bantuan dana untuk merenovasi rumah Tan Malaka.

Tidak semuanya diperbaharui hanya menyisip yang tidak layak pakai. Bagian dari rumah asli Tan Malaka masih terjaga seperti lantai, tiang, tempat tidur, meja, kursi, dan lemari pakaian. Pada dinding rumah terpajang foto Tan Malaka dari masa ke masa serta silsilah keluarga besar Tan Malaka. Tidak hanya itu, juga terdapat buku-buku bacaan sejarah, surat kabar dan pepatah Tan Malaka yang menegakkan bulu roma ketika dibaca hingga kini masih tetap mengguncangkan semangat.

Tan Malaka adalah seorang pahlawan revolusioner yang terlupakan. Beliau memang tidak berjuang secara nyata, tetapi Tan Malaka berjuang melalui luar negeri dan menemukan kunci-kunci kemerdekaan Indonesia. Dia berjuang secara sembunyi-sembunyi, pindah dari satu tahanan ke tahanan lain. Beliau juga berjuang melalui karya bukunya. Menuliskan dan mengungkapkan bagaimana peradaban Indonesia ke depannya. Namun sayang tidak banyak orang yang tahu dan paham dengan karyanya dan tidak mau membaca.

“Seorang Tan Malaka yang berjuang secara sembunyi-sembunyi dan melalui luar negeri. Tak hanya itu banyak karya Tan Malaka yang seharusnya dibaca dan dipahami artinya. Salah satunya adalah Madilog yang banyak terdapat ungkapan dan kiasan Minang dengan bahasan persoalan dan rumus-rumus kimia, fisika, matematika di dalamnya,” kata Indra.

Sempat gempar karena pemindahan makam, kini Cagar Budaya Tan Malaka tidak banyak dilirik kawula muda. Keluarga besar berharap pemerintah pusat maupun daerah turut membantu menjaga aset ini. Dari cagar budaya museum dan pustaka Tan Malaka dapat memberikan literasi sejarah pahlawan nasional Tan Malaka kepada generasi muda bangsa.

Indra berharap adanya bantuan dan melestarikan bersama dari pihak pemerintah daerah, tidak hanya untuk mencari nama tapi konsisten demi menjaga kelestarian cagar budaya dan mewariskannya kepada generasi muda. Karena menurutnya generasi muda patut untuk mengetahui, membaca, serta mempelajari sejarah perjalanan perjuangan Tan Malaka untuk Indonesia.

“Tan Makala seorang Pahlawan nasional namun kerap kali dilupakan, bagi kita generasi muda wajib dan tahu mengenai sejarah beliau dan belajar dari karangan karya Tan Malaka, salah satu caranya dengan mendatangi museum dan pustaka Tan Malaka,” ujar Fauziah, mahasiswa Universitas Negeri Padang.

*Penulis merupakan Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2018 Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Andalas

By Genta Andalas

Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Genta Andalas Universitas Andalas.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *