Panitia Munas BEM SI lakukan negosiasi dengan peserta untuk mengurai kericuhan di Auditorium Unand, Selasa (30/3/2021). (Genta Andalas/Geliz Luh Titisari)

Padang, gentaandalas.com- Musyawarah Nasional (Munas) Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) yang dilaksanakan di gedung Auditorium Universitas Andalas (Unand) memicu protes dari peserta Munas. Aksi protes tersebut terjadi karena beberapa delegasi dari 11 kampus tidak diperbolehkan memasuki ruangan disebabkan masalah registrasi. Aksi saling dorong pun tak terelakkan.

“Saya sudah registrasi, katanya akan diundang Liaison Officer (LO), namun H-1 panitia mengonfirmasi bahwa datanya tidak masuk. Padahal saya sudah daftar hanya telat tiga menit dan formnya masih bisa diisi, berarti ada kecacatan dalam kepanitiaan,” kata peserta Munas UIN Lampung Devi saat diwawancarai di depan Auditorium Unand, Selasa (30/3/2021).

Devi menambahkan, bahwa terdapat pengalihan peserta dari pendaftar luring ke pendaftar daring tanpa adanya pengembalian dana oleh pihak panitia Munas BEM SI.

“Bukan hanya saya yang mengalami hal semacam ini, kawan-kawan dari Universitas Adiwangsa Jambi yang sudah mendaftar offline bayar Rp800.000 namun karena kuota penuh mereka dipindahkan ke online tanpa refund,” ungkapnya.

Lebih lanjut Devi memaparkan bahwa panitia mengatakan maksimal kuota hanya 150 sementara dari absensi ada 159, dengan demikian berarti panitia telah melanggar ketentuan.

“Juga terdapat nama yang baru ditulis dengan pena, berarti itu tidak terdata tapi bisa masuk. Lalu ada nama yang bisa registrasi tapi ternyata tidak terdaftar secara online,” ungkap Devi kecewa.

Selaras dengan Devi, Ahmad Rinaldi selaku Koordinator Wilayah Kalimantan Timur-Selatan BEM SI menyebutkan bahwa masalah penolakan ini disebabkan oleh adanya ketidakjelasan registrasi yang diberikan pihak panitia. Adanya perbedaan ketentuan berkas yang diminta saat registrasi luring dengan yang diinformasikan di dalam form.

“Dari awal registrasi sudah banyak masalah terjadi, misalnya pas foto yang diminta dalam bentuk softfile, ternyata ada juga yang dibawa hardfile-nya. Kemudian yang awalnya tidak diminta membawa hardfile dari global file ternyata itu dibawa. Hal ini menandakan adanya ketidaksiapan dari panitia,” kata Ahmad

Sementara itu, M. Chory Firdaus, Ketua BEM Universitas Diponegoro menjelaskan pemicu kericuhan yang terjadi disebabkan adanya penolakan dari panitia untuk anggota BEM SI yang sudah datang.

“Munas adalah sesuatu yang sakral bagi BEM SI karena ini eskalasi dan regenerasi gerakan dimana semua anggota BEM SI diperbolehkan masuk ke dalam munas. Dengan adanya anggota yang ditolak untuk masuk, oleh karena itu kami sebagai aliansi memperjuangkannya,” kata Chory.

 

Reporter : Dian Fitri Yova dan Icha Putri

Editor : Linda Susanti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here