Beranda Sastra dan Budaya

Laluna

Ilustrator: Nisa Ulfikriah

Sabtu yang sendu. Aku kemudian memilih mengakhiri menulis di notes. Terang sudah bergulir digantikan petang. Guyuran hujan masih menyisakan bekas dari dedaunan. Aku mengamati tiap lekuk tetes air yang jatuh perlahan. Lambat laun pastikan berlalu, pikirku. Sedang perasaanku meluap kian kentara, cemas berbaur resah. Aku kemudian melempar senyum pada seorang pelayan yang datang menaruh Machiato pesananku. Ini sudah cangkir ketiga. Meski bosan melanda, aku malas berpindah  tempat. Aku kembali memposisikan duduk agar terasa nyaman.

Kusengajakan memilih tempat di sudut dekat jendela agar dapat merasakan suasana di luar sana. Sayup-sayup terdengar lagu Robbie Williams diputar. Mau tak mau kutarik kedua sudut bibirku. Salah satu penyanyi favoritku. Jadul memang, dan jarang sekali orang-orang seumuranku menyukainya dan adalah suatu kebetulan yang hebat ketika kafe ini memutarkannya. Karena aku ada di sini, barangkali.

Menyanggupi dan merasai hal ini begitu dalam tak pernah kurencanakan. Banyak pilihan yang telah aku jalani. Hasilnya selalu mengkhianati. Ah sudahlah, sudah waktunya untuk kembali, pun di luar hujan sudah reda. Aku kemudian melangkah keluar ruangan sembari merapatkan baju hangat yang menempel di tubuh. Kulihat satu persatu lampion-lampion bewarna merah mulai dilepas ke udara. Tradisi Imlek yang sangat kental di sekitaran daerah tempat tinggalku. Semakin malam akan semakin ramai dan padat. Ternyata sudah selarut ini. Aku bahkan tak menyadari.

“Laluna! Kau sudah kembali?” Aku agak sedikit terkejut di tengah lamunan mendengar sapaan seseorang.

“Sudah, Koh. Hanya sebentar, menghabiskan cuti hari besar,” jawabku singkat.

“Sudah lama kita tidak bertemu, kalau ada waktu datanglah singgah ke rumah. Kau belum bertemu Danu bukan? Adikku itu sudah menanyaimu beberapa kali.”

“Mm, belum Koh. Kapan-kapan kalau ada waktu saya akan datang. Terima kasih undangannya.”

“ Ya. Ya. Orang tuamu sehat? Terakhir waktu berjumpa beliau agak sedikit sakit.”

“Kokoh bertemu orang tua saya? Dimana?”

“Bukan. Bukan saya. Tapi Danu. Sudahlah, saya mesti mengejar rombongan jemaat. Maaf tidak bisa berlama-lama.”

“Iya Koh, tidak apa-apa.”

“Kau mau ikut? Ah maaf, aku lupa kau tak… Maaf. Aku harus pergi,” Koh Aling memukul keningnya pelan seolah ia benar-benar merasa bersalah atas ajakannya. Padahal aku bisa merasakan sendiri kalau ia menyengajakannya.

“Silahkan Koh,” kuakhiri pembicaraan dengan suara yang sedari tadi tertahan. Lelaki bertubuh gempal itu kemudian berlalu. Sekelebat Koh Aling  kemudian hilang ditelan kemerahan massa yang memadati.

Susah payah aku menenangkan diri sejak kembali ke rumah namun ada-ada saja hal yang menganggu. Aku tak selemah ini. Aku takkan hancur hanya karena persoalan sepele. Perlahan kurasakan kedua kelopak mataku memanas. Kemudian dadaku  bergetar menahan isak. Tiba-tiba rasa mual menyerang, kedua lututku melemas. Akhirnya aku memilih untuk jongkok.

Terlintas di benakku untuk menelepon ayah agar datang menjemput, namun sekelebat lagi pikiranku bertukar. Tentu ayah akan bingung melihat kedua mataku yang sedikit sembab. Kupalingkan pandangan ke samping dan ke belakang melihat kalau-kalau ada satu atau dua orang yang kukenal agar dapat kumintai bantuan. Namun yang kudapati hanyalah seorang anak laki-laki kecil dengan sebuah ember yang kecil. Melihatku sedikit meregang dan kaku tidak jelas, bocah kecil itu mulai mendekat.

“Kakak kenapa? Perutnya dipegangi begitu. Belum makan ya? Sama dong,” tanyanya dibarengi tawa receh. Kusambut perkataannya dengan sunggingan senyum sekedarnya. Sesegera mungkin aku melengos pergi sambil tertatih. Tak enak diperhatikan begini.

“Enak ya kak, kalau saja ibu kasih saya ijin datang ke kelenteng mungkin saya akan makan enak malam ini.” Si bocah ember ini kemudian malah mengikutiku dari belakang. Perkataannya sedikit menarik perhatianku.

“Oh ya? Kau tidak ikut merayakan Imlek?” aku mencoba memancingnya.

“Haha. Tidaklah kak. Kata ibu Imlek itu bukan tradisi agama kami. Lihat mata saya tidak sipit. Ibu juga pernah bilang, kulit saya hitam. Tidak bisa bergabung bersama mereka.” Terangnya. Kami?

Aku tersenyum dalam hati. Aku juga, sahutku getir dalam hati.

“Kau benar. Saya juga tidak ikut merayakan hari ini seperti mereka yang berpakaian merah-merah. Kau sudah makan malam?”

“Belum kak, ini saya lagi nyari.” Ucapnya seraya menyengir.

“Nyari makanan malam-malam begini? Dimana?”

“Saya mesti ngemis dulu kak, kalau saja ada bapak, sebenarnya ia sangat melarang kami meminta-minta. Ibu bilang harus bagaimana lagi. Menyemir sepatu dan jadi loper koran sudah tak mencukupi. Apalagi beberapa bulan belakangan, anak-anak di persimpangan sana makin bertambah. Entah darimana asalnya bisa dikumpulkan bang Toyib begitu.”

Aku kehabisan kata-kata setelah mendengar penjelasannya. Selain kasihan, aku tak punya pilihan lain kecuali mengajaknya makan di angkringan pinggir jalan sana. Kulihat dia makan dengan lahapnya. Setelah berhasil menghabiskan keseluruhan makanan yang memenuhi piring, kutawarkan ia untuk tambah. Meski dengan wajah girang, namun tawaranku ditolak halus olehnya.

“Mengapa?” tanyaku.

“Kalau kakak memang mau beri saya satu makanan lagi, lebih baik dibungkus saja kak. Biar dimakan bersama-sama di rumah,” alasannya. Maka akhirnya kupesan beberapa bungkus untuk dibawa pulang olehnya.

“Arik,” jawabnya ketika kutanyai nama di perjalanan setelah melangkah keluar dari angkringan.

“Mungkin kami kurang beruntung kak. Saya tidak masalah kalau tidak bisa sekolah. Sekali seminggu di dekat jembatan ada kakak-kakak yang datang bawa buku banyak sekali. Kami boleh melihatnya, kadang-kadang juga diajari membaca.

Ibu bilang yang terpenting itu adalah mengisi perut kak. Pernah suatu kali saya ikut belajar membaca seharian, lupa cari makan. Malam harinya perut saya perih sekali. Sedikit tidak sadarkan diri. Ibu bilang saya meraung-raung hebat. Akhirnya saya sadar mana yang lebih penting bagi orang-orang seperti kami,” tandasnya.

Arik menolak untuk aku antarkan sampai ke rumahnya. Ia bilang ibunya sulit menerima orang-orang baru sepertiku.

Sejenak pertemuan dengan Arik membuatku lupa dengan kegelisahan yang sedari tahun-tahun lalu ku simpan. Hal yang membuat aku getir dan sulit untuk kembali ke rumah. Ada banyak hal di sekitar yang sangat memprihatinkan butuh diberi perhatian.

Konyol sekali saban hari aku kian larut dalam kegelisahan yang sebenarnya aku sudah tau akhirnya. Sesampai di rumah, kuberanikan diri membuka pesan masuk Whatsapp. Aku akhirnya memutuskan untuk tidak mengirim pertanyaan-pertanyaan yang kurangkai lama saat menikmati kopi pada notes yang kutulis petang tadi.

“Danu, malam ini aku bertemu Koh Aling. Sepertinya ia belum tau apa-apa tentang yang telah kita jalani. Aku mengalami hal yang penting pada malam yang panjang kali ini. Hebatnya, hal ini membuatku berhenti memikirmu sekalipun alam bawah sadarku. Akhirnya aku yakin kita benar-benar harus menyudahi segalanya. Aku tidak mungkin harus mengikuti gaya hidup yang tidak biasa aku lakukan. Akhirnya aku sadar dengan pilihanku untuk bertahan pada kepercayaanku. Aku takkan pernah bisa menemanimu menikmati hari besar seperti hari ini. Doakan aku jatuh pada orang yang tepat, setidaknya bukan dibedakan kotak oleh tuhan seperti ini. Best, Laluna”.

-Membayang Langit, 1 Oktober 2016-

 

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Andalas

Angkatan 2014

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here