Beranda Berita

Kurangnya Kepedulian, Pemicu Utama Tindak Kriminal di Unand

Bhabinkamtibmas Limau Manis, Bripka Albert Amarta saat berdiskusi bersama mahasiswa dalam acara Unand Corner di Sekretariat BEM KM Unand, Jumat (9/3/2018). (Foto: Uswatun Hasanah)

gentaandalas.com- Personil Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibnas) kelurahan Limau Manis Kecamatan Pauh, Bripka Albert Amarta mengatakan berdasarkan fakta di lapangan, 80% tindakan kriminal yang terjadi merupakan akibat kelalaian dari korban itu sendiri. Hal ini disampaikan dalam diskusi Unand Corner yang diadakan di sekretariat BEM KM Unand, Jumat (9/3/2018).

Menilik kejadian pencurian di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unand akhir-akhir ini, Albert menyatakan kejadian tersebut murni terjadi karena tidak adanya rasa peduli dari mahasiswa terhadap lingkungan. Kurangnya koordinasi antara mahasiswa dengan pihak keamanan, dan juga kurangnya rasa percaya atas kinerja satpam menambah peluang terjadinya tindak kriminal.

Adapun jam rawan di kampus Unand khususnya PKM adalah pagi hari pukul 09.00 – 11.00 dan pukul 14.00 – 17.00. Hal tersebut terjadi karena kampus dibuka untuk umum dan ditambah adanya rumah sakit, dan proyek di lahan atas menjadikan jalan di kampus dapat diakses siapa saja sehingga kampus rentan terjadi tindak kriminal.

Albert mengungkapkan untuk mengurangi tingkat kriminalitas di Unand maka diberlakukan sistem parkir satu pintu, setelah diterapkan terdapat penurunan secara  drastis kasus curanmor.

“Mulanya di tahun 2016 terjadi 50 kasus curanmor, sedangkan di tahun 2017 hanya terjadi tiga kasus, dua diantaranya telah terungkap dan satu kasus masih tahap penyelidikan,” katanya.

Tidak hanya curanmor, kata Albert, persoalan baru muncul seperti hilangnya helm dikarenakan petugas yang berjaga di kampus sangat terbatas. 12 orang untuk menjaga area Unand seluas 500 Ha dapat dikatakan sangat tidak layak.

Albert mengatakan, titik rawan curanmor yaitu area di belakang PKM, peternakan, pertanian, lapangan basket FMIPA, daerah farm  dari kebun obat hingga Politeknik Negeri Padang serta parkiran yang tidak ada penjaga. Namun, daerah bagian dalam sudah dapat dikatakan aman dari curanmor.

Selain area rawan curanmor, juga terdapat area rawan pemerasan yang sering terjadi yaitu daerah farm dan panorama teknik. Lalu untuk kasus kehilangan inventaris kelas dan fakultas, hal tersebut merupakan kesalahan dari sistemnya.

“Kejadian akibat adanya niat dan kesempatan, kebanyakan korban pemerasan tidak melapor kepada polisi,” katanya.

Albert berharap mahasiswa dapat menyampaikan keluhan dan juga meminta bantuan dari kepolisian selama 24 jam. Albert berpesan tetaplah tingkatkan kewaspadaan dan mulailah peduli dengan lingkungan berdasarkan pengalaman yang sudah terjadi karena bersama kita bisa, semuanya merupakan tanggung jawab kita bersama.

Reporter : Uswatun Hasanah dan Qudwatun Nisaa

Editor      : Muhammad Ilham RF

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here