Beranda Berita

Kisah Kaum Pelangi di Kampus Unand

Meski sudah ada larangan LGBT di Unand, namun masih banyak kelompok LGBT yang tetap mempertahankan eksistensinya di lingkungan kampus Unand. Ilustrator: Nisa Ulfikriah

Menjadi laki-laki atau perempuan merupakan kodrat manusia yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta. Apa yang dibawa ke dunia merupakan kodrat yang telah diamanahkan dan perlu dijaga. Namun, ada yang merasa tidak sesuai dengan apa yang menjadi kodratnya, hingga memutuskan mencari jati diri dan melewati batas kewajarannya.

Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT), kelompok yang sedang menjadi buah bibir saat ini. Keberadaan dan keinginannya dipertanyakan, membutuhkan kebebasan, pengakuan atau cuman ajang untuk eksis. Sayangnya, bagi kebanyakan orang, mereka adalah noda hitam dalam lembaran putih sejarah dunia.

Unand Keluarkan Surat Bebas LGBT Tahun 2017

Salah satu kampus yang menolak LGBT hingga meminta mahasiswanya mengisi surat bebas LGBT adalah Universitas Andalas (Unand). Pada akhirnya tak ada tindak lanjut, sehingga mereka (LGBT-red) dapat bernafas lega. Namun tetap saja beragam pertanyaan kian menjamur.

Wakil Rektor III Unand, Hermansah mengatakan Unand akan mengeluarkan kembali surat bebas LGBT di tahun ajaran baru 2018 mendatang. Surat edaran tersebut, kata Hermansah, masih berlaku untuk seluruh mahasiwa Unand. Sebagai tempat pendidikan, Unand berusaha untuk mengantisipasi penyakit sosial tersebut dan akan menindak lanjutinya. “Jika memang ada LGBT tolong laporkan, karena kita memiliki pihak yang memantau,” katanya saat ditemui di ruangannya, Rabu (14/3/2018).

Hermansah telah melakukan konsultasi dengan beberapa pihak terkait LGBT. Pihak Unand akan mengobati jika memang ada laporan dan bukti yang menunjukkan mahasiswa tersebut LGBT. “Jika dia butuh bimbingan akan diberikan psikolog untuk membantu mereka,” katanya.

Hermansah mengaku belum pernah melihat pelaku LGBT secara nyata, tetapi ia pernah mendengar bahwa LGBT ada di Unand. Hal ini didapatkannya dari pemantauan yang dilakukan oleh pihak Unand terhadap LGBT. Meski demikian, hingga saat ini Hermansah belum mendapatkan laporan LGBT beserta bukti nyata. “Jika ada laporan yang dapat membuktikan adanya LGBT, maka orang tersebut (LGBT- red) akan diproses, terlebih jika hal tersebut merusak nama baik universitas,” kata Hermansah.

Menurut pengakuan salah seorang wanita yang mengaku dirinya adalah transgender, menjadi pria merupakan pilihannya, bukan karena keluarga atau lingkungan penyebabnya. Sebut saja I, seorang mahasiswi dari fakultas rumpun sosial di Unand. Ia bercerita tentang bagaimana ia menjadi begini (LGBT-red). “Waktu kecil, saya selalu sulit memakai baju perempuan, bahkan nangis,” katanya pada kru Genta Andalas, Minggu (21/2/2018).

Tahun 2017 lalu, ketika rektor Unand menyatakan mahasiswa baru harus mengisi surat pernyataan bebas LGBT, I sama sekali tidak megetahui berita tersebut, karena sedang disibukkan dengan persiapan sebagai panitia Bimbingan Aktivitas Kemahasiswaan dalam Tradisi Ilmiah (BAKTI). “Saya nggak tahu kalau Unand mengeluarkan surat itu, tahunya pun melalui salah satu postingan akun di media sosial,” ujarnya.

Tidak hanya di akun media sosial, katanya, I juga mengetahui informasi tersebut lewat member Feminis Indonesia, salah satu gerakan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan perempuan yang ia ikuti. Kelompok itu peduli satu dengan yang lainnya. Bahkan, I mengatakan “Mereka kayak langsung menghandel gitu loh, langsung mengambil petisi. Karena itulah, beberapa hari surat itu keluar langsung diprotes oleh pemerintah kota Padang, karena melanggar HAM. Surat itupun langsung ditarik, lalu sempat dikatakan akan dikeluarkan kembali,” ujarnya.

Kasus I berbeda dengan M, seorang pria yang sudah cukup lama menjadi Gay. Sesaat setelah surat bebas LGBT menjadi topik perbincangan, M mengaku sedikit takut, tetapi ia tidak terlalu memikirkannya. “Asalkan tidak ketahuan,” katanya.

Isi surat yang membuat M cukup khawatir adalah kalimat yang menyatakan ‘apabila ketahuan LGBT, maka akan dikeluarkan’. Namun, hal ini tidak berdampak apa-apa, hanya perasaan takut di awal saja kata M.

Sebab Menjadi LGBT

Usia remaja merupakan masa untuk belajar dan mulai menemukan ketertarikan diri. Saat itulah I mulai tidak nyaman memakai baju perempuan, hingga ia mulai menyadari ketertarikan seksualnya pada sesama jenisnya. Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), I sudah mulai memotong rambutnya menyerupai potongan rambut laki-laki, tetapi tidak sependek yang terakhir kali dilihat oleh kru Genta Andalas, persis seperti laki-laki sungguhan.

Sebelum menjadi transgender, I mengatakan, setiap bangun dari tidur ia merasakan hal yang beda. Dia bukanlah dirinya yang dulu.  Awalnya ia sempat merasa takut dan bingung bagaimana harus bertindak. Rasa takut dan kekhawatiran membuat I berani bercerita pada ibunya. Keberanian itu ia dapatkan dari Feminis Indonesia, saat awal mula ia menjadi mahasiswa. Januari 2018 lalu adalah momen yang tidak bisa ia lupakan. Dia mengatakan apa yang terjadi kepada ibunya.

Begini katanya, “Bu, aku mau ngomong, tapi ibu jangan marah ya, Bu? Aku enggak nyaman jadi perempuan, enggak nyaman sama kehidupan yang kayak gini (LGBT- red), ini bukan aku, Bu”. Kata I, ia mengatakannya kala itu dengan derai air mata dan kepala tertunduk, semua yang ada dipikirannya hanyalah ketakutan. Namun yang terjadi di luar prediksi. Ibunya justru memeluknya dan mengatakan “Apapun yang kamu ambil itu keputusan kamu, ibu percaya sama kamu. Asalkan kamu sekolah yang bener ya, Nak.”

Akhirnya, I telah selesai melimpahkan apa yang selama ini berkecamuk dipikirannya,  tetapi sebelum I berbicara kepada ibunya, ia sudah melakukan terapi hormone testosteron pada November 2017 lalu. Ia mengatakan bahwa perempuan tidak memiliki hormone testosteron seperti yang dimiliki laki-laki. Hormon tersebut, menurut I, dapat merubahnya menjadi maskulin, salah satunya mengubah pita suaranya menjadi berat dan tumbuh janggut. “Saya sekarang sudah tumbuh janggut loh, bahkan sekarang saya sudah tidak menstruasi lagi,” kata I sambil memegang dagunya.

Ia juga mengatakan, I sendirilah yang menyuntikkan hormone testosteron tersebut kepada dirinya. “Ibu saya kan perawat,” katanya.

Serupa dengan I, Ibu M juga mengetahui bahwa M adalah LGBT. Bedanya, M tidak pernah menceritakan kepada ibunya, melainkan karena ketahuan. Dulu ketika kelas 3 SMP, amak, begitu ia memanggil ibunya, tiba-tiba kena serangan jantung dan masuk rumah sakit, ketika mengetahui M adalah Gay. “Padahal ketika itu, sudah dekat dengan Ujian Akhir Nasional SMP. Saya ketahuan, karena saat itu saya dan pasangan saya lagi ada masalah. Pasangan saya marah dan datang ke rumah membongkar semua aib saya,” katanya. M sendiri menyadari dirinya adalah Gay saat duduk di bangku Kelas 3 SMP.

Ayah M tidak tahu sama sekali, karena ayahnya jarang di rumah. Ayah M bekerja di ladang sepanjang hari dan baru pulang pada hari pasar (Rabu), karena harus mengantar hasil kebun ke pasar dan memberi uang belanja untuk amak. Sementara, M pulang kampung hanya pada hari Sabtu dan Minggu saat tidak ada kegiatan di kampus. Meski anggota keluarga yang lain tahu, mereka juga tidak sanggup memberi tahu ayah M.

Sekalipun keluarganya telah mengetahui bahwa M adalah Gay, keluarga tidak tinggal diam begitu saja. Keluarga senantiasa menasehati dan menyuruhnya agar lebih taat beribadah. Bahkan, M pernah disuruh mandi menggunakan air yang sudah dijampi-jampi oleh dukun agar ia tidak menyukai sesama jenis lagi dan melupakan masa lalunya, tetapi tetap tidak mempan.

BACA JUGA:  Pendapat Mahasiswa Tentang Lagu Wik-Wik

“Keinginan untuk berubah ada, tetapi selalu banyak godaan. Saat dinasehati, untuk beberapa saat saya taubat, tapi kemudian nafsu itu tumbuh lagi. Apalagi ketika sendiri, ada saja godaan untuk mencari teman (LGBT-red), lalu mulai berkenalan lagi. Kalau untuk masuk ke rehabilitasi gay, kalaupun ada, saya belum mau,” ucap M.

Beberapa teman M mengetahui bahwa M adalah gay. R dan N, tidak merasa keberatan memiliki teman gay. Tetapi, mereka tetap menyayangkan mengapa temannya sampai begitu. R acap kali menasehati M untuk berubah dan berharap suatu hari nanti M bisa menjadi orang normal. “Mau diapakan lagi, dia sudah begitu. Percuma juga nyuruh-nyuruh dia suka ke cewek, kalau memang sukanya cowok. Tapi ya harapannya M berubah, kami berharap yang terbaik untuk M,” kata R.

Mengejutkannya M pernah didiagnosa menderita penyakit herpes. M menceritakan dokter mengatakan itu (herpes- red) adalah petanda awal adanya gejala HIV/AIDS.  Dalam 5 tahun terakhir, paling tidak Ia sudah bersetubuh dengan 10 orang lelaki. Ia yakin bahwa penyakit yang dideritanya berasal dari salah satu mantan pasangannya yang dulu. Sekarang peyakitnya sudah sembuh, tetapi bekasnya masih ada seperti luka bakar kata M.

Mengetahui M terkena herpes, amak ikut merawat, sekalipun amak tahu bisa saja beresiko tertular herpes. “Saya masih ingat ketika saya bilang ke amak untuk tidak usah menyentuh luka herpes ini, tapi amak bilang, ‘bagaimana bisa aku tidak merawat darah dagingku sendiri, pokoknya kamu sehat’, itu sangat sedih,” kata M.

Kehidupan dan Cara Pandang Hidup LGBT

LGBT sama dengan manusia normal lainnya yang memiliki pasangan. Kebanyakan kelompok LGBT terhubung melalui media sosial. Namun, I tidak menyembunyikan dirinya adalah LGBT kepada teman-temannya.

Ketika ditanya tentang komunitas LGBT di Unand, ia tidak mengetahuinya. Sebab I lebih memilih bergabung pada komunitas yang berada di luar daerah Padang. Orientasi antar LGBT itu berbeda-beda, sepengetahuan I, LGBT Padang lebih pada kesenangan dan tertutup, sementara I berorientasi untuk menuntut haknya. “LGBT di Unand itu tertutup dan tidak mau dekat-dekat dengan sesama LGBT,” katanya.

I merasa bingung menanggapi alasan masyarakat mengatakan LGBT adalah sesuatu yang dapat menular kepada orang lain. “Kenapa dia takut ketularan LGBT kalau dia yakin bahwa dirinya normal,” ujarnya.

Kedepannya I mengatakan tidak akan menutupi jati dirinya sebagai seorang transgender. “Kalau saya tutupin nanti orang gak kenal saya. Lagi pula saya pengennya orang kenal saya, terima saya apa adanya,” kata I. Selain itu, ia juga berharap dirinya jangan diganggu, dengan demikian ia juga tidak akan mengganggu orang lain.

Kehidupan LGBT sama halnya dengan orang normal, hanya saja, mereka (LGBT- red) menjalani hubungan sejenis. I sendiri sempat memiliki pasangan di kampus yang sama dan sekarang sudah berganti dengan pasangannya yang baru dari luar kota Padang.

Menjadi seorang transgender tidak lantas membuatnya kesulitan mencari pasangan. Ia mengatakan, rata-rata perempuan yang didekatinya adalah perempuan normal. “Saya orangnya jujur. Saya tidak suka hubungan yang ditutupi. Jadi, pendekatan dulu, kalau udah mulai suka, saya akan bilang ke dia kalau saya transgender. ‘Kamu mau gak sama saya?’, dan kebanyakan dari mereka kalau udah nyaman mau,” katanya.

Jika I memiliki kekasih di luar kota Padang, M mempunyai kekasih yang berada satu daerah dengannya. M mengaku sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang bekerja di salah satu toko sepatu di Kota Padang. Sebelumnya M juga pernah menjalin hubungan dengan salah seorang mahasiswa rumpun sains dari Universitas Baiturrahmah, Padang.

Rata-rata yang pernah menjadi pasangan M yaitu umur 17-35 tahun. Awal bertemu biasanya dari grup Facebok (FB), kata M, janjian lalu ketemuan. Dari pertemuan inilah biasanya M mulai saling mengenal, pergi makan bersama, nonton bioskop dan pergi kencan layaknya pasangan normal pada umumnya.

M merasa tidak terganggu dengan lingkungan sosial maupun psikisnya, meski ia bagian dari LGBT. “Sejauh ini baik-baik saja, tetapi saya memang tidak tertarik lagi kepada lawan jenis. Saya merasa agak berbeda dengan teman-teman yang lain. Seperti perempuan diantara para lelaki, sekalipun saya laki laki. Saya vers (berperan ganda, menjadi cowok atau cewek dalam hubungan gay),” ujarnya.

Grup Gay di FB yang M ketahui adalah grup Gay Sumbar. Anggotanya paling banyak berkisar 4.267 anggota. Sedangkan grup dengan nama Gay Unand memiliki 339 anggota yang tersebar di berbagai fakultas di Unand. Itu belum semua, kata M, karena ada beberapa teman Gay M yang juga Gay, tetapi tidak masuk ke dalam grup Gay Unand.

Komentar Mahasiswa Unand tentang LGBT

Banyak polemik mengenai keberadaan LGBT di Unand, namun banyak yang menutup mata tentang keberadaan mereka. Menurut Mahasiswa Agroteknologi Fakultas Pertanian Unand, Kelvin Dwiky Nugraha, menular atau tidaknya LGBT, tergantung individu itu sendiri dan lingkungannya. “Kita sendiri yang harus memagar diri dengan memiliki prinsip yang kuat agar tidak tertular,” ujarnya.

Unand harus mengeluarkan kebijakan yang tegas, kata Kelvin.  Kebijakan tersebut akan menjadi tolak ukur bagaimana sikap Unand terhadap perilaku LGBT. Kalau menggunakan surat bebas LGBT yang diisi sendiri oleh mahasiswa, itu akan mudah dimanipulasi, sehingga hanya ada beberapa orang saja yang mau menyatakan secara jujur. “Cara ini mempunyai kelebihan dan kelemahan.  Sebaiknya perlu cara yang lebih efektif lagi untuk membebaskan Unand dari perilaku menyimpang ini,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum, Rama Antonio Syaputra, menurutnya keberadaan LGBT akan menimbulkan masalah dan dapat  mempengaruhi orang lain yang ada disekitarnya. “LGBT  secara tidak langsung dapat mempengaruhi sistem pergaulan yang sudah ada dan menyebabkan perubahan cara berfikir mahasiswa lain,”  katanya.

Teman-teman LGBT perlu dibantu, salah satunya menurut Rama dengan mengkritik secara verbal, sehingga para pelaku dapat berubah dan kembali ke kodratnya. “Jika saya memiliki teman yang LGBT, hal pertama yang saya lakukan adalah mengkritik dia dengan sindiran, jadi dia dapat sadar ketika diperlakukan seperti itu,” ujar Rama.

Menurut Rama, remaja zaman sekarang lebih mementingkan omongan orang lain. Sehingga mereka akan berubah ketika disindir seperti itu, namun tidak dengan sindiran yang menjatuhkan saja, tetapi juga diiringi dengan solusi. “Meskipun terkadang candaan yang dilakukan sedikit kasar, namun hal itu malah akan membangun kepribadian mental pelaku LGBT,” kata Rama.

Berbeda dengan mahasiswa Unand yang berinisial RA. Ia mengaku sudah terbiasa berhadapan dengan teman-temannya yang memiliki kelainan (LGBT- red) sejak SMP. Bahkan bisa membedakan antara LGBT dan orang normal. LGBT Unand yang ia ketahui lebih dulu adalah temannya. Ia tahu, karena saat itu RA menangkap basah temannya sedang melakukan video call dengan sesama jenis tanpa busana di kamarnya.

Melalui temannya lah sampai sekarang RA masih berteman dekat dengan orang-orang yang terlibat LGBT, namun RA mengaku bukanlah bagian dari LGBT tersebut. “Saya tidak bisa menghindar dari mereka, karena mereka banyak membantu saya dalam hal materi,” ucap RA.

Sepengetahuan RA, teman-temannya yang menjadi gay disebabkan beberapa faktor. Pertama faktor lingkungan, kebanyakan temannya yang gay adalah laki-laki yang bersih, rapi, namun lemah gemulai seperti wanita. Laki-laki yang berpenampilan seperti wanita merupakan incaran bagi para LGBT, bahkan laki-laki normal sekalipun.

BACA JUGA:  Festival Sumarak Tradisi Minangkabau

“Cara LGBT menarik pria normal adalah meningkatkan nafsu mangsanya dengan cara mengajak menonton film porno atau hal lainnya yang dapat membangkitkan nafsu sasarannya. Setelah itu barulah mereka memulai aksinya,” kata RA.

Kedua, faktor ekonomi. Salah satunya teman RA yang hidup serba terbatas lalu memutuskan untuk menjadi gay, karena kekurangan ekonomi. Ketiga, karena dilecehkan. Menurut RA beberapa gay yang dikenalnya pernah dilecehkan waktu kecil. Salah satu temannya yang berasal dari pesantren pernah dilecehkan sesama teman sekamarnya. Namun bukannya trauma, temannya malah katagihan.

Faktor lainnya kata RA, kurangnya perhatian keluarga. Salah seorang gay yang dikenal RA dulunya adalah orang kaya yang penuh perhatian dari orangtuanya. Namun, setelah ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi, temannya tidak mendapat perhatian dari keluarganya, sehingga mencari perhatian pada orang lain.

LGBT Adalah Orientasi Seksual yang Harus Diperbaiki

LGBT merupakan orientasi seks menyimpang, menurut Diny Amenike selaku dosen Psikologi Unand, dalam Ilmu Psikologi, LGBT tidak bisa dilihat dari satu aspek saja, tetapi dari dua aspek, yaitu biologis dan lingkungan. “Sebagian besar ahli berpendapat bahwa pengaruh lingkungan lebih besar terhadap individu dalam berperilaku, termasuk perilaku seksual,” kata Diny saat diwawancarai di Klinik Medika Andalas, Rabu (7/3/2018).

Dosen yang akrab disapa Keke ini menuturkan perilaku menyimpang akan muncul jika gen tertentu didukung oleh lingkungan yang sesuai. Selain itu, menurutnya kontribusi faktor sosial memainkan peranan besar dalam hal ini. Pelaku LGBT, kata Keke, tidak mutlak dapat dikenali melalui penampilan fisik. Individu yang terlihat biasa saja ketika berada di lingkungan yang ‘mendukung’ bisa berubah menyimpang karena pengaruh lingkungan sangat besar. “Secara psikologisnya, memang tidak ada ciri khas dari LGBT, namanya saja penyakit, bukan ciri-ciri fisik, tapi behavior,” katanya.

Perilaku LGBT juga bisa disebabkan oleh kasus di masa lalu, contohnya pelecehan yang dialami seseorang bisa menjadi penyebab timbulnya perilaku menyimpang. Dalam Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ), LGBT masih dikatakan sebagai penyakit, maka harus disembuhkan. “Kalau kita sama-sama setuju ini penyakit, maka perlu kita tolong. Ini tidak bisa ditolong kalau kita menjauhinya. Perlu dibentuk kesadaran kalau hal ini bertentangan dengan fitrah,” ujar Keke.

Salah satu yang dapat dilakukan, kata Keke, dengan memberikan edukasi, pendekatan, secara psikologis dan religius, tidak hanya dengan menegur saja. Keke menilai, LGBT bukan suatu hal yang bisa diberi toleransi begitu saja. “Sebatas mana toleransi yang harus ditegakkan akan hal ini, karena LGBT bisa memengaruhi dan dipengaruhi. Kita harus menyikapinya dengan bijak. Toleransi bukan berarti hanya menerima dan membiarkan dia berperilaku terus-terusan seperti itu,” katanya.

Pembentukan identitas dari keluarga juga sangat penting, sehingga orang tua benar-benar berperan dalam mendidik anak, termasuk pendidikan seks dan gender. Anak yang memiliki problem dengan ayahnya berpotensi munculnya perilaku seksual menyimpang. Figur ayah dalam hidup seseorang menjadi panutan bagaimana anak bertindak seharusnya “Ketika seorang anak tidak diberikan edukasi tentang gender, maka ia akan berperilaku di luar gendernya. Ini bisa berdampak panjang pada ketahanan negara jika generasinya rusak,” ujar Keke.

Beberapa pelaku LGBT, sudah ada yang berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit tropik dan infeksi. Salah satunya dosen Fakultas Kedokteran Unand, Armen Ahmad. Ia mengatakan pasien yang berkonsultasi kepadanya ada yang berasal dari kalangan mahasiswa, dosen maupun pegawai Unand.

Menurutnya, jika ada satu pasien yang datang dan terindikasi HIV/AIDS, maka diperkirakan ada 100 orang lainnya yang terkena, begitupun dengan LGBT. Hal tersebut dilakukan berdasarkan perbandingan penelitian, kata Armen.

Armen menuturkan tahun 2000-an persentase HIV/AIDS paling banyak disebabkan penggunaan obat terlarang, disusul seks bebas heteroseks (dengan PSK). Tetapi, sejak tahun 2016 persentase HIV/AIDS lebih banyak disebabkan oleh kasus LGBT, baru kemudian disusul oleh kasus penggunaan obat terlarang.

Hukum yang dibuat saat ini, menurut Armen, belum mampu mengatasi LGBT. “Dibuat susah, tidak dibuat juga susah,” katanya.

Tindakan dosen yang memperlama mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akhirnya juga dapat manjadi faktor pemicu perilaku seks menyimpang. “Ada dosen (perempuan) yang memperlama mahasiswi sehingga disuruh ke rumahnya untuk konsultasi dan diajak bermalam di rumahnya, itu bisa memicu terjadi lesbian,” ujarnya.

Armen tidak sepenuhnya percaya data yang menyebutkan Sumbar tertinggi tingkat LGBTnya. Data Sumbar terbesar LGBT didapat dari sensus penduduk, berapa penghasilan penduduk dan aset yang dimiliki. “Jika ekonomi melarat, pihak kesehatan meramalkan keluarga atau daerah tersebut banyak penyebaran narkoba dan LGBT,” katanya.

Sekretaris Jurusan Sosiologi, Dwiyanti Hanandini menyebutkan zaman sekarang sudah berubah. Dulu, ketika seseorang berjalan dengan lawan jenis dicurigai, tetapi sekarang berjalan sesama jenis yang akan dicurigai.

Menurut Dwiyanti salah satu kemungkinan mahasiswa termasuk ke dalam kelompok LGBT yaitu karena kurangnya kegiatan, sehingga mencari kesibukan lain yang malah mengarahkan pada kesibukkan yang salah. Selain itu, terdapat pula beberapa anak yang yang minder untuk bertemu lawan jenis sehingga ia lebih menyukai berteman dan berinteraksi dengan sesama jenisnya. Akibatnya, ada gap yang akan terjadi dalam kehidupan LGBT yang akan menutup dirinya untuk berinteraksi dengan masyarakat pada umumnya.

Dwiyanti juga mengatakan, tidak hanya gay dan lesbi yang dapat menimbulkan penyakit, transgender pun dapat menimbulkan penyakit menular, karena dalam kehidupan sosialnya transgender tetap menikah, tetapi ia juga suka dengan sesamanya. Dari hubungan sesama jenis itulah penyakit berbahaya timbul.

Namun, Dwiyanti tidak hanya melihat dari sisi negatif saja. Pasalnya, jika mahasiswa tergabung dalam LGBT, ia masih berkemungkinan untuk sukses. Hal ini dikarenakan dalam kelompok tersebut pasti mempunyai jaringan, untuk menunjang hidup mereka. “Tidak menutup kemungkinan mereka sukses. Jika mereka saling mendukung untuk berkembang, maka mereka akan sukses dalam pekerjaan,” tuturnya.

Dalam ciri sosial, gay yang termasuk dalam LGBT biasanya memiliki postur yang macho dan wangi, tetapi tidak semua laki-laki seperti itu. Menurut pandangan sosial, kata Dwiyanti, LGBT dapat diketahui  jika seseorang terbiasa berinteraksi dengan mereka.

Banyak hal yang terjadi di luar pandangan manusia, entah itu baik atau buruk. Secara tidak sadar, hal itu dapat mengubah apa yang seharusnya telah digariskan. Seperti  LGBT yang ada di Unand, mereka adalah kelompok yang selama ini jarang mendapat perhatian sehingga tumbuh tanpa arah. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya sebagai makhluk sosial civitas akademika Unand bahu-membahu untuk mengingatkan, mengarahkan dan menyadarkan bukan menjauhi atau menghukum, karena hukum, dosa, dan pahala adalah Tuhan yang menentukan.

Tim: Chacha, Endrik, Gefi, Melati, Mis, Pitnia, Rival, Tika, Viocta

Catatan Redaksi: Tulisan ini dimuat ulang dari Tabloid Genta Andalas Edisi LXXII 2018 pada Rubrik Laporan Utama.

6 KOMENTAR

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here