Beranda Aspirasi

Kilas Balik Bencana Alam 2018

Dok. Pribadi

Oleh: Tiwi Veronika*

“Kesejahteraan memberikan peringatan, sedangkan bencana memberikan nasihat” sebuah kutipan yang disampaikan oleh Socrates, seorang filsuf Yunani. Deretan catatan buruk menghiasi penghujung tahun 2018 ini. Pada tahun ini, beragam bencana terjadi di penjuru Tanah Air.

Dilansir dari Kompas.com yang dimuat pada Kamis (20/12/2018), pada periode 1 Januari hingga 14 Desember 2018, Indonesia diterpa 2.426 bencana alam. Angka ini jauh di bawah bencana 2017 yang tercatat 2.862 fenomena.

Bencana merupakan suatu musibah yang datang tanpa diketahui oleh siapapun. Kedatangan bencana bisa memberikan dampak positif dan juga negatif. Dampak positifnya seperti dapat mengubah manusia ke arah yang lebih baik, bahkan akan mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Sedangkan dampak negatifnya seperti kehilangan harta benda, kehilangan keluarga dan orang yang disayangi, kerusakan lingkungan, dan dampak psikologis.

Banyak hal yang menjadi faktor terjadinya bencana alam, diantaranya perubahan alam itu sendiri dan juga perbuatan manusia dalam menjaga alam. Para ilmuan pun telah mencoba mendeteksi penyebab dari terjadinya bencana, namun tidak semua bencana yang dapat terdeteksi. Mengutip dari maxmanroe.com, pada saat alam mengalami perubahan yang ekstrim, maka terjadilah bencana alam tersebut, misalnya gempa bumi, tsunami, letusan gunung merapi, dan lain-lain. Selain karena perubahan alam, bencana juga terjadi karena ulah manusia. Banyak manusia yang melakukan perbuatan tidak bertanggung jawab seperti membuang sampah sembarangan, penebangan hutan secara liar, membakar pohon untuk membuka lahan baru, pengambilan dan penggunaan air secara berlebihan, yang akhirnya mengakibatkan bencana alam.

Jika berkaca dari ilmu agama, dalam Q.S Ar-Rum ayat 41 disebutkan bahwa “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Terjadinya bencana alam memang sesuatu yang tidak bisa dipungkiri dan pasti akan terjadi. Setidaknya, kita dan pemerintah harus saling bekerja sama dalam membantu mengantisipasi terjadinya hal itu. Teguran dari Tuhan terhadap dosa yang telah  dilakukan oleh manusia. Terjadinya perbuatan zina, LGBT, pembunuhan, dan pemerkosaan yang semakin merajalela merupakan bentuk perbuatan yang tidak disukai oleh Tuhan dan merupakan tindakan yang digadang-gadang menjadi penyebab terjadinya bencana. Terlepas dari benar atau salah sebagai manusia yang berilmu agama, sebaiknya kita sadar akan larangan dan lebih baik memperbaiki diri.

Tidak hanya itu saja, belajar mencintai alam dan lingkungan juga sangat penting untuk dilakukan. Sebagai generasi perubahan, bergerak dan berubah harus dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya bencana. Mengurangi perbuatan yang dilarang, mengikuti kegiatan-kegiatan positif, saling punya rasa memiliki, serta bertanggungjawab merupakan bentuk modal yang harus kita miliki sebagai agent of change.

Tahun 2019 mendatang, sudah diprediksikan bencana akan terjadi. Dilansir dari NOVA.id, sejumlah bencana dikhawatirkan masih akan terjadi tahun depan. Hal ini disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang melakukan prediksi bencana pada 2019. Musim penghujan dan kemarau diprediksi akan bersifat normal karena tidak ada peningkatan El Nino dan La Nina yang terjadi. Meski begitu, sebanyak 95 persen dari bencana yang terjadi diperkirakan merupakan bencana hidrologi.

*Penulis merupakan Mahasiswi Fakultas Peternakan 2017 Universitas Andalas

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here