Beranda Berita

Keluhkan Pengelolaan Remunerasi, Dosen Muda Unand Protes

Salah seorang dosen muda saat menyampaikan keluhannya dalam diskusi remunerasi dan dana penelitian di Gedung Rektorat Unand, Selasa (9/4/2019). (Foto : Nurul Fatimah)

gentaandalas.com- Dosen dari berbagai fakultas di Universitas Andalas (Unand) mengeluhkan transparansi pengelolaan remunerasi, pencairan dana penelitian, dan ketidakadilan dalam penilaian prestasi dosen. Bentuk protes itu disampaikan kepada pimpinan dengan menghimbau seluruh dosen Unand melalui media sosial untuk menghadiri audiensi di Gedung Rektorat Unand, Selasa (9/4/2019).

Majelis dosen muda berkumpul di lapangan rektorat dan salah seorang dosen melakukan sedikit orasi untuk membangkitkan semangat para dosen. Dalam orasi dijelaskan, keluhan yang akan disampaikan merupakan bentuk kritik dan saran yang membangun serta menjaga kebaikan Unand kedepannya.

Setelah orasi dosen, sebuah diskusi dibuka di Ruang Senat Rektorat Unand. Diskusi dibuka langsung oleh Rektor Unand Tafdil Husni dengan menjelaskan pengelolaan remunerasi di Unand. Menurut Tafdil, pengelolaan remunerasi sudah transparan, sudah ada aturan dan evaluasi dari Kemenristekdikti dan BPK.

Berbagai keluhan disampaikan satu persatu oleh dosen dari berbagai fakultas. Salah seorang Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unand, M. Yunis menyampaikan beberapa keluhan dan kecemasan yang ia dan rekan-rekannya rasakan.

BACA JUGA:  Program Magister Epidemiologi Unand, Satu-satunya di Pulau Sumatera

Yunis menyampaikan, semenjak diberlakukannya remunerasi ada kecemasan bahwa nantinya dosen hanya mengejar poin saja, karena tidak adanya transparansi mengenai pemberian poin dalam penilaian dosen dan tenaga pendidik, serta pencairan dana penelitian yang tidak menentu, dan target scopus yang harus dicapai dosen setiap meneliti.

“Pengelolaan remunerasi tidak profesional, tidak setransparan yang dipikirkan,” kata Yunis.

Selain itu, Dosen Fakultas Teknologi Informasi Unand, Dodi menekankan bahwa remunerasi seharusnya dilakukan secara menyeluruh, sama dan sejajar, sehingga tidak adanya ketimpangan antara dosen biasa dengan pejabat pengelola.

Diskusi berjalan dengan lancar dan banyak keluhan yang disampaikan oleh dosen-dosen Unand terkait remunerasi. Menanggapi keluhan tersebut, rektor menyampaikan bahwa remunerasi yang telah diberlakukan sejak tahun 2018 sudah disosialisasikan. Berbagai evaluasi dari Kemenristekdikti dan BPK sudah menjadi bahan pertimbangan dan pembelajaran bagi pimpinan Unand.

BACA JUGA:  Polemik BEM KM Unand, DPM KM Unand Rekomendasikan Presma Unand Undur Diri

“Mungkin karena selama ini kita kurang berkomunikasi dan jarang bertemu. Jadi terasa kurang transparan,” kata Tafdil.

Terkait target scopus yang sebelumnya disampaikan oleh Yunis,  Tafdil mengatakan  kedepannya syarat scopus tidak diberlakukan lagi, meskipun scopus merupakan salah satu indikator yang baik dalam penilaian penelitian tersebut.

Wakil Rektor IV Unand Endry Martius juga menyampaikan solusi dan jalan tengah untuk pimpinan dan dosen-dosen. Ia mengatakan, kedepannya bidang perencanaan akan memfasilitasi perencanaan remunerasi dengan baik.

Diskusi ini berakhir dengan diterimanya berbagai keluhan dan saran dari dosen-dosen Unand. Yunis berharap agar saran tersebut menjadi pertimbangan bagi pimpinan dalam mengelola Unand kedepannya.

“Kita tidak memberi batas waktu untuk pengimplementasiannya, yang penting pimpinan punya  komitmen untuk segera mempertimbangkan saran dan usulan dari para dosen tersebut,” kata Yunis.

Reporter: Nurul Fatimah dan Rani Aprianti

Editor: Nurul Pratiwi

1 KOMENTAR

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here