Beranda Sastra dan Budaya Rehat

Kawa Daun, Kopi Unik dengan Aroma Menggoda

Pengunjung sedang menikmati makanan dengan ditemani minuman kawa daun, Kamis (2/1/2020). (Foto : Dian Fitri Yova).

gentaandalas.com-Minangkabau dikenal dengan berbagai kulinernya yang memiliki cita rasa khas. Mulai dari rendang yang sudah mendunia, hingga berbagai minuman yang dibalut dengan kekentalan tradisi Minang serta keunikan pada masing-masing kuliner lainnya. Saat ini kopi merupakan salah satu minuman yang sedang digandrungi oleh banyak kalangan muda. Beragam jenis minuman dengan aneka rasa kopi muncul seiring dengan perkembangan zaman. Seolah tak ingin ketinggalan dengan olahan kopi kekinian lainnya. Salah satu olahan kopi tradisional khas Minangkabau yaitu kawa daun masih memunculkan eksistensinya dikalangan penikmat kopi dan senantiasa memanjakan lidah penikmatnya.

Kawa daun disajikan dalam wadah berupa batok kelapa yang sudah dibersihkan. Cara penyajiannya yang unik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmatnya. Selain keunikan pada penyajiannya, aroma yang khas dari kopi ini pun akan membuat orang langsung tergiur untuk segera mencicipinya. Kopi khas masyarakat Minang ini dapat dijumpai dibeberapa tempat di Sumatra barat, salah satunya di Puncak Mortir Guguak Nagari Pariangan Kabupaten Tanah Datar. Untuk bisa menikmati kopi ini, pengunjung hanya perlu membayar lima ribu rupiah saja. Harga yang terjangkau dan cita rasa yang khas membuat banyak orang jatuh hati pada kawa daun ini.

BACA JUGA:  Serak Gulo, Festival Kebudayaan Muslim India di Kota Padang

Seorang pedagang kawa daun di Puncak Mortir Guguak Nagari Pariangan Sayuti mengungkapkan bahwa ia telah membuka pondok kawa sejak tiga tahun belakangan (2017). Alasannya, karena sebagai desa yang dinobatkan menjadi salah satu desa terindah di dunia, banyak wisatawan yang datang untuk berkunjung. Ia ingin tetap menonjolkan tradisi yang menjadi ciri khas minang tersebut, oleh karenanya ia menyajikan kopi kawa untuk memanjakan lidah pengunjung.

“Jadi kami membuka pondok kawa ini agar tradisi lama tetap terjaga dan bisa juga menjadi ciri khas,” kata Sayuti.

Proses pembuatan kopi kawa inipun berbeda dari kopi pada umumnya. Jika kopi yang biasanya dibuat dari biji kopi, maka kopi kawa ini dibuat dari daun kopi yang sudah dikeringkan.  Daun kopi yang masih segar dan berumur cukup, ditusuk dengan lidi kemudian disalai diatas bara api sampai warnanya berubah menjadi coklat, tapi jangan sampai hangus karena akan menimbukan rasa pahit pada kopi nantinya. Setelah daun kopi kering dengan sempuna segera diangkat kemudian diremas dan masukkan kedalam periuk untuk direbus dengan air. Hal ini dilakukan guna membuat cita rasa dari daun kopi dapat meresap dengan sempurna dengan air.

BACA JUGA:  Pembangunan Lahan Parkir Baru, Segera Dirampungkan

Dalam proses perebusan ini Sayuti menambahkan beberapa rempah agar air kopi dapat bertahan hingga dua hari.

“Agar air kopi bisa tahan selama dua hari, kami menambahkan sedikit jahe dan kayu manis. Jika tidak dicampur rempah, air kopi hanya bisa tahan sehari dan besoknya tidak enak lagi untuk diminum,” kata Sayuti.

Tidak usah khawatir bagi anda yang kurang menyukai minuman manis, karena di tempat ini pengunjunglah yang memasukan gula ke dalam kawa daun sehingga anda bisa mengaturnya sesuai selera. Selain kawa dengan rasa original anda juga bisa menikmati kawa susu yang tak kalah nikmatnya.

Untuk melengkapi kenikmatannya, kawa daun ini biasa disajikan dengan gorengan yang baru matang. perpaduan sensasi hangat dari dua kuliner ini menjadikannya enak diminum pada suhu yang dingin seperti di Puncak Mortir ini. Menyantap kawa daun dengan ditemani oleh hamparan alam nan elok membuat pengunjung betah untuk berlama-lama di tempat ini.

Penulis : Dian Fitri Yova

Editor : Efi Fadhillah

Berita Lainnya

TINGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here